Muhammad Ibn Abduh Ibn Hasan Khairullah atau biasa dikenal dengan nama Muhammad Abduh dilahirkan di desa Mahallat Nasr provinsi Al-Bhahira Mesir pada tahun 1849 M/1266 H. Ia dibesarkan dalam keluarga miskin yang menanggung berbagai kesulitan.[1] Hal ini dapat kita lihat dalam tulisannya :

“Pernah ada seorang penfitnah melaporkan keluargaku kepada penguasa dengan menuduhnya sebagai pemberontak. Akibatnya satu persatu keluargaku diciduk dan dijebloskan ke penjara. Biasanya siapa yang masuk penjara,keluar dipastikan menjadi mayat. Dirumah, tinggal kakekku Hasan yang sudah renta bersama Ibrahim keponakannya…”[2]

Ketika Abduh berumur 7 tahun tepatnya pada tahun 1859 M, ia mulai mendapatkan pendidikan pertama dirumahnya yang berupa pelajaran membaca, menulis dan menghafal Al-qur’an. Selanjutnya pada tahun 1862 M , Abduh pergi ke masjid Al-Ahmadiy di Tanta dengan tujuan untuk mengikuti pelajaran Tajwid, saat itu ia masih berumur 13 tahun. Pelajaran ilmiah mulai ia dapat saat dua tahun kemudian usai pembelajaran tajwidnya dimasjid Al-Ahmadiy pada tahun 1864 M.

Pertama kali Abduh bertemu dengan gurunya Sayyid Jamaluddin Al-Afghani saat beliau berkunjung ke Mesir untuk yang kedua kalinya pada tahun 1869 M. Pertemuan itu membuat Abduh selalu mendatangi dan mengikuti majlisnya dengan meninggalkan halaqah al-Azhar yang ketika itu ia belajar tasawuf disana.

Sejak pertemuannya dengan sayyid Jamaluddin Al-Afghani, Abduh mulai manghasilkan karya-karya tulisannya, seperti Risalat al-Waridat yang merupakan hasil pendiktean oleh Al-Afghani dan baru diterbitkan pasca Abduh meninggal dunia, Falsafat al-Sina’ah, ilm al-ijtima’ wa al umran, taqridh jaridat al-ahram, al-kitabah wa al-Qalam, al-Ulum al-Kalamiyah, dan Risalat Tauhid yang menjadi master peace-nya.

Pada tahun 1878, Abduh ditunjuk menjadi pengajar di Madrasah Dar al-Ulum. Disamping mengajar, ia juga ikut aktif dalam mengikuti organisasi-organisasi rahasia yang didirikan oleh gurunya al-Afghani dan organisasi Freemansory yang dibentuk untuk melawan kesewanang-wenangan Paus serta para pembesar gereja di Eropa dan menegakkan demokrasi dan kebebasan. Namun akhirnya abduh serta gurunya keluar dari Freemansory karena organisasi ini telah terpengaruh oleh pengaruh asing terutama Inggris.

Di masa tuanya, Abduh menjauhi percaturan politik nasional tepatnya pada saat Mustafa Kemal memimpin pergerakan Nasional di Mesir. Ia lebih banyak memilih terjun di bidang keilmuan dan keagamaan , karena ia menyadari bahwa hanya sedikit di antara aktivis politik saat itu yang menerjuni bidang tersebut. Ia memilih membangun negaranya melalui pembenahan dibidang pendidikan. Oleh karena itu sebelum datang akhir hayatnya, Abduh berusaha melakukan perbaikan sitem pendidikan di Al-Azhar yang merupakan jantung pendidikan umat islam. Sehingga Muhammad Abduh meninggal dalam perjuangannya memperbaiki Al-Azhar dan mengajak umat islam untuk menguhkan akidah dan kembali ke kitabullah.

Konsep Sosial Kenegaraan

Terdapat tiga poin penting yang dikemukakan oleh abduh tentang konsep pemikirannya tentang kenegaraan yakni, pertama rasa cinta terhadap bangsa dan negara. Seperti disebutkan dalam bukunya yang ia tulis bahwa:

“pada dasarnya negara harus dicintai, karena:

  1. Ia tempat tinggal dimana terdapat makanan, warga dan seluruh keluarga.
  2. Ia wadah hak-hak dan kewajiban, inilah inti dari kehidupan politik dan merupakan kebutuhan yang sangat nyata.
  3. Ia tempat menisbatkan diri yang bisa mulia, terjajah dan terhina.”

“Sebagian orang berusaha menghilangkan motto kebangsaan dari warga negara Mesir untuk dibodohi dan dihina. Namun kita tetap memiliki eksistensi Nasional walau mereka tidak menghendaki. Mereka tetap menyakiti telinga dengan berbagai perkataan diantaranya: kita bisa menerima kedhaliman, penganiayaan, perhambaan dan perbudakan. Maka pendapat kita tidak mungkin merdeka dan selamanya tidak akan merdeka. Seakan-akan mereka tidak tahu bahwa bangsa barat beberapa waktu lamanya, dahulu, bisa menghadapi penganiayaan dan perbudakan itu. Jika pada abad ke-19 sejarah mencatat kemerdekaan para budak yang lalu, kita harap juga mencatat kemerdekaan para budak masa kini.”[3]

Kedua, Musyawarah (demokrasi). Dalam mengatur dan membuat undang negara harus dilakukan secara musyawarah, dilakukan oleh orang-orang yang memiliki pendapat dan disatukan dalam satu wadah. Musyawarah yang dilakukan harus memihak pada kebenaran, keadilan, bertujuan untuk kemaslahatan bangsa dan negara, bersih dari campur tangan politik negara lain serta tidak dipecahkan oleh nafsu dan kepentingan pribadi. Dan ketiga, hukum atau undang-undang yang bersifat relatif. Maksudnya disini bahwa harus ada hubungan erat antara undang-undang dengan kondisi negara.

Setiap negara memiliki kondisi yang berbeda sesuai dengan perbedaan tempat, tradisi, moral, keyakinan, serta lainnya. Undang-undang atau peraturan yang cocok dan bermanfaat untuk satu bangsa belum tentu cocok untuk bangsa lainnya. Oleh karena itu, abduh mengonsepsikan bahwa undang-undang harus benar-benar memperhatikan masyarakat sesuai dengan kondisi, tempat tinggal, moral tradisi, dan keyakinannya. Hal yang demikian akan memudahkan baginya untuk mengambil yang bermanfaat dan mencegah yang berbahaya.

Ia juga berpendapat bahwa kondisi budaya, moral dan tradisi dapat pula berubah. Namun untuk mengubah hal itu menurutnya harus melalui pendidikan bukan melalui undang-undang, karena undang-undang yang dapat memperbaiki bangsa adalah pendidikan yang menyeluruh. Jadi menurut penegasan abduh, pendidikan adalah sarana perubahan, sedangkan undang-undang merupakan sarana penjagaan.

Disisi lain, dalam konteks sosial, Abduh menolak segala macam bentuk kapitalisme yang menurutnya hal itu merupakan salah satu sifat ketamakan manusia serta juga berpotensi kepada penindasan masyarakat kecil. Dalam tulisanya ia menyatakan:

“jika modal atau kekayaan bertumpuk dalam daerah tertentu atau ditangan beberapa orang tertentu. Dengan demikian, pasar perdagangan dan industri tidak laku kerena hanya sedikit orang yang dapat menyenangi hasil dan barang industri, hanya segelintir orang yang mampu membelinya. Disana kecendrungan terhadap pertanian tidak banyak, sebab semuanya buruh. Dan negara yang paling sejahtera dan kaya adalah negara yang kekayaannya dapat dinikmati semua warganya, dan mengalami bahaya jika kekayaan hanya ada ditangan orang asing tetangga”[4]

Gagasannya di Bidang Pendidikan dan agama

Dalam usaha menunjang kemajuan negara, Abduh sangat menekankan betapa pentingnya pendidikan. Pendidikan yang ia maksud adalah pendidikan yang selain mengajarkan masyarakat untuk berbuat adil dan cinta terhadap bangsanya juga menjadi alat pemersatu antar manusia lainnya sehingga menambah kekuatan negara. Hal ini dapat kita ketahui melalui tulisannya:

“Sebab-sebab kemiskinan serta kemunduran suatu negara ialah karena tidak adanya pendidikan intelektualitas secara resmi, sehingga tiap warga merasakan manfaat dan bahaya negara sebagaimana manfaat dan bahaya dirinya sendiri.”[5]

Menurutnya, pendidikan yang baik untuk masyarakat yakni pendidikan yang didasarkan kepada Agama Islam. Dengan diterapkannya pendidikan yang berbasis Agama Islam maka akan tercapai  kebesaran dan kejayaannya kembali yang terdahulu telah sempat hilang. Pendidikan berbasis Islam yang diberikan adalah pendidikan islam yang bersih dari kelemahan-kelemahan dan bebas dari kejumudan. Merosotnya kejayaan dunia Islam disebabkan oleh banyaknya Negara Islam yang melalaikan pendidikan agama.

Sistem pendidikan Islam yang perlu diterapkan, menurutnya adalah pertama, pendidikan yang mengarah kepada hal-hal yang mampu memantapkan akidah dan menguatkan pikiran sehingga bebas dari segala macam tahayul, bidah, khurafat serta kejumudan-kejumudan lainnya. Kedua, Pendidikan islam yang diberikan tidak hanya sekedar mencakup ilmu fiqih dan ilmu syariat lainnya saja, melainkan mencakup segala aspek kehidupan. Ketiga, mendidik masyarakat untuk bebas dari sikap fanatisme golongan serta sikap lainnya yang memiliki potensi dapat memecah belahkan umat.

Kesimpulan

Dari pembahasan diatas, penulis mecoba mengambil kesimpulan bahwa pokok pemikiran Muhammad Abduh dalam usaha membangun negara yang ideal lebih menekankan kepada pendidikan yang dapat meneguhkan akidah islamiyah tanpa adanya segala kejumudan dan sikap fanatisme kepada golongan. Sehingga melalui pendidikan tersebut, dapat memperbaiki moralitas bangsa serta membentuk masyarakat yang memiliki integritas tinggi.

Menurut Abduh, keterbelakangan dunia Islam disebabkan pendidikan islam dewasa ini yang telah  mengalami stagnasi dalam penerapannya. Baik dengan menganggap rendah nilai pendidikan Islam itu sendiri sehingga memang disengaja untuk melalaikannya atau karena direalisasikan dengan cara yang tidak benar. Muhammad Abduh memiliki inisiatif yang kuat untuk membangun dan menghidupkan kembali kejayaan Islam dengan menerapkan kembali warisan pendidikan islam yang dewasa kini telah banyak dilalaikan dan dilakukan dengan cara tidak benar.

 

*Ditulis Oleh : M.Eka Gusti Agung Pratama (Balapikir KSMW 2015)

 

[1] Abbas Mahmud al-Aqad, Muhammad Abduh, (beirut: Mansyurat al-Maktabat al-Ashariyah, tt) hal. 220

[2] Dr. H. Yusuf Suyono, MA. Reformasi Teologi: Muhammad Abduh vis a vis Muhammad Iqbal, Semarang: RaSAIL Media Group, hal. 27

[3]Dr. Muhammad al-Bahiy, Pemikiran Islam Modern, Jakarta : Pustaka Panjimas. Hal. 65

[4] Ibid. Hal. 77

[5] Ibid. Hal 69

 

Daftar Pustaka

Mahmud, Abbas al-Aqad, Muhammad Abduh, Beirut: Mansyurat al-Maktabat al-Ashariyah, tt.

Suyono, Yusuf, 2008, Cet. Ke-I, Reformasi Teologi: Muhammad Abduh vis a vis Muhammad Iqbal, Semarang: RaSAIL Media Group.

Al-Bahiy, Muhammad, 1986, Cet. Ke-I, Pemikiran Islam Modern, Jakarta : Pustaka Panjimas.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here