Sejarah agama setua dengan sejarah manusia itu sendiri. Tidak ada suatu masyarakat manusia yang hidup tanpa suatu bentuk agama. Seluruh agama merupakan perpaduan antara kepercayaan dan sejumlah upacara, walaupun hubungan antara keduanya demikian sulit  untuk diterangkan. Penafsiran atas kekuatan-kekuatan ghaib terhadap berbagai pertanyaan mendasar yang ditimbulkan oleh akal pikiran manusia, seperti apa makna dan tujuan hidup, dari mana kita berasal dan kemana kita kembali, mengapa kita harus mati dan kepada siapa kita harus bergantung di kala memperoleh kematian.

Beberapa jawaban ada yang bersifat umum dan menunjuk kepada adanya kebenaran mutlak, seperti Tuhan menciptakan alam atau kita harus mati untuk membebaskan jiwa dari beban badan kasar, sedang tingkah laku di bumi ini.

Fransisco Jose Moreno dalam Between Religion and Faith menyebutkan kepercayaan atau keimanan merupakan proses kejiwaan (naluri rasa takut dan keadaan jiwa manusiawi; dengan kepercayaan itu kita menyampingkan kemampuan otak dengan menerima jawaban-jawaban yang bersifat non-rasional, tehadap pertanyaan dasar mengenai kehidupan. Manakala kita menggunakan kepercayaan untuk menerima jawaban-jawaban yang didasarkan atas teologi atau atas dasar kekuatan ghaib di luar alam semesta, maka kita ada di depan pintu kehadiran suatu agama.

Jawaban non-rasional dibutuhkaan dan harus ada untuk menjawab pertanyaan yang bersifat rasional diterima melalui penglihatan intuitif-batini, yang kebenarannya karena keharusan pembenaran rasional ini.[1]

Sigmund Freud, seorang pakar psikoanalisa mengkritisi kepercayaan agama ini dari sudut pandang ilmu jiwa. Freud memulai pembahasannya setelah membagi struktur jiwa dan dia berkesimpulan bahwa doktrin keagamaan adalah illusi dan tidak dapat dibuktikan.Dan bagaimana jalan pikiran Sigmund Freud hingga sampai pada kesimpulan yang mengejutkan itu, inilah sentral kajian tulisan ini.

Agama

Kepercayaan terhadap agama itu hanya didasarkan kapada kesenangan dan kelezatan semata , dan pada dasarnya merupakan tuntutan pikiran kekanak-kanakan. Sebagai pengalihan dari anak terhadap bapakmerupakan ketakutan dan butuh akan kasih sayang. sebagai anak yang dalam pikiranya sangat terbatas, sehingga merasakan sekali rasa takut dan akhirnya butuh perlindungan . sedangkan doa-doa dalam agama itu hanya sebagai cara untuk menghilangkan rasa cemas yang selalu menghantui pada dirinya.Dengan jalan berdoa itulah seakan-akan rasa dosa itu akan berkurang dan akhirnya dapat menemui suatu kesenangan dan kelezatan.

Jadi pada dasarnya unsur-unsur tersebut mengandung bahwa agama itu ialah gangguan jiwa (neurosi) dan kemudian kembali kepada hidup yang berdasarkan kelezatan semata. Kepercayaan di dalam agama itu senantiasa didasarkan atas keinginan.Ia mengatakan bahwa doktrin keagamaan adalah illusi dan tidak dapat dibuktikan .Tiap kali Freud menghadapi agama selalu melihat di dalamnya suatu sikap yang mirip dengan neurosis.[2]

Banyak orang mengatakan bahwa penyelidikan Freud itu akan melemahkan kepercayaan agama pada masa sekarang , akan tetapi sesungguhnya Freud sendiri tidak pernah menyelidiki agama yang sudah diuraikan oleh ahli-ahli agama pada zaman kemajuan ini,sehingga pendapat Freud itu ditanggapi secara kontroversional.

Psikoanalisa Freud Tentang Agama

Setelah mengembangkan studinya mengenai psikoanalisa, Freud merasa tertantang untuk meneliti studi lanjutannya mengenai agama. Dari awal memang dikisahkan bahwa Freud merupakan penolak agama yang paling jelas, penulis biografinya mengatakan bahwa dia hidup sebagai seorang atheis. Freud tidak satupun mendapatkan alasan untuk percaya terhadap agama, sehingga dia menganggap agama tidak mempunyai arti dalam kehidupan ini. Sebagai mana Taylor dan Frezer menganggap agama sebagai suatu kekeliruan, Freud juga mengatakan hal yang demikian. Namun berbeda Freud menemukan gagasanya dari sudut pandang psikoanalisa yang ia lakukan.

Dalam Obsessive Action and religion Practices (1907), Freud berkesimpulan bahwa pemeluk agama berkelakuan mirip dengan tingkah laku pasien neurosis. Misalnya kelakuan yang dilakukan oleh pasien neurosisnya hanya mementingkan hal-hal yang bersifat seremonial, dan sama-sama akan merasa bersalah jika seremonial yang ia jalankan tidak dengan sempurna. Kedua hal tersebut terjadi atas dorongan yang paling dasar, dalam psikologi ditandakan dari ketertekanan dorongan seksual dan dalam agama ditunjukan dari ketertekanan “ke-aku-an”, kontrol ego. Jadi kalau seksual direpresentasikan melalui dorongan mental pribadi, agama dikatakan sebagai gangguan mental universal. Dalam pandangannya alam lebih mirip dengan gangguan jiwa, dan paling tepat untuk menjelaskannya adalah dengan psikoanalisa.[3]

Menurut Freud,agama adalah repetisi (pengulangan)pengalaman masa kanak-kanak.Manusia itu mengatasi tekanan ancaman dalam persoalan yang sama. Sebagai kanak- kanak ia selalu diselimuti oleh rasa ketidak-amanannya dalam mempercayai, mengagumi, dan menakuti bapaknya. Freud memperbandingkan agama dengan obsesional jiwayang kita dapatkan pada masa kanak-kanak. Menurutnya ,agama adalah kumpulan neurosis yang disebabkan oleh keadaan serupa dari produk jiwa kanak-kanak.[4]

Analisa Freud mengenai dasar-dasar psikologi agama,berusaha menunjukkan mengapa seseorang memformulasikan ide tentang tuhan. Bahkan pernyataann dikerjakan lebih dari sekedar untuk menempatkan dasar-dasar psikologi ini. Pernyataannya bahwa ketidak realitaan konsep teistik didemontrasikan dengan membebaskan dirinya menuju dasar illusi mengenai harapan-harapan manusia. Di samping itu Freud berusaha untuk membuktikan bahwa agama adalah suatu illusi.

Bagi Freud , agama adalah bersumber dari ketidakmampuan manusia melawan kekuatan alam luar dan tekanan instinktif dari dalam dirinya sendiri. Agama muncul lebih dahulu pada tingkat perkembangan manusia ketika manusia belum dapat mempergunakan pikirannya untuk melawan tekanan-tekanan dari luar dan dari dalam ini, dan harus menindasnya atau mengaturnya melalui tekanan-tekanan afektif lainnya. Bahkan sebagai ganti dari tekanan-tekanan ini dangan mempergunakan penalaran untuk mengatasinya melalui counter effect oleh tekanan-tekanan emosional yang lain, fungsi-fungsi yang dipakai untuk mengatasi dan mengontrol apa yang dia tidak mampu untuk mengatasinya secara rasional.

Seksualitas Kanak-Kanak dan Oedipus Kompleks

Terapan yang paling menarik dari konflik kepribadian manusia menurut Freud adalah tentang perkembangan seksualitas anak dan Oedipus kompleks, menurutnya di usia enam tahun anak mulai merasakan realitas kehidupan, yang Freud maksud adalah superego. Tapi yang mencengangkan adalah disaat enam tahun pula masa kanak-kanak sangat dipengaruhi oleh hasrat seksual yang berasal dari Id,sehingga tidak ada bedanya dengan orang dewasa. Freud membuktikannya dengan pandangan bahwa dorongan seksual dan jasmani telah mengendalikan sebagian besar tingkah laku anak-anak. Di usia enam tahun anak-anak telah kenal dengan alat vital mereka, dan sumber kenikmatan lainnya. Setelah anak melewati fase ini anak akan tumbuh dan memperoleh tahapan yang baru, sekalipun tahapan-tahapan sebelumnya masih tetap ada.[5]

Fase perkembangan seksual anak akan terasa penting jika dikaitkan dengan agama, yaitu mencari tempat keyakinan beragama pada tahap-tahap emosional yang normal. Hubungan seksual kanak-kanak dengan agama yang disebut oleh Freud dengan Oedipus kompleks, istilah ini muncul dari kisah laki-laki karya Sophocles, kisah mengenai seorang raja yang tanpa sadar membunuh ayahnya karena memiliki keinginan yang sangat kuat untuk menikahi ibunya. Namun niat ini tidak dilakukan karena si anak benci karena harus bersaing dengan ayahnya dan takut akan kekejaman ibunya yang ingin mengebiri alat vitalnya. Saat itu anak tak bisa membayangkan bagaimana dia tidak memilki organ vital, kejadian itu semua digambarkan oleh Freud sebagai trauma yang dialami semasa kanak-kanak. Sehingga dia memutuskan untuk menyerah dengan bapaknya dan berhenti mencari cinta sang ibu lalu mencari fantasi lain untuk memuaskan seksualitasnya. Freud mengatakan Oedipis Kompleks merupakan pengalaman inti masa kanak-kanak, era yang sangat penting dalam masa pertumbuhan dan sumber segala ketidakcakapan di masa-masa berikutnya.

Totem and Taboo

Dalam penelitian terhadap agama, perhatian Freud banyak tertumpu kepada aspek-aspek sosial dari pada agama. Misalnya dalam menganalisis agama-agama orang primitif yang diambilnya dalam sesembahan Totem dan Taboo. Maka dibuatlah perbandingan-perbandingan antara tingkah laku orang-orang primitive ,maka ditemukanlah hubungan antara kelompok primitif dengan upacara agama. Freud tidak membatasi diri pada suatu teori psikologi tentang manusia perorangan. Ia berpendapat bahwa pada suatu penemuan-penemuan psikoanalisa membuka kemungkinan untuk merancang suatu pandangan baru tentang kultus pada umumnya dan tentang gejala-gejala cultural; seperti agama,moral dan kesenian pada khususnya. Dengan demikian psikoanalisa Freud menjadi suatu teori tentang kultur dan disini Nampak dengan jelas Freud memihak atheisme.

Totem sebagai simbol sosial , mula-mula terdapat dalam kehidupan primitif dan ternyata padanya. Totem itu suatu fenomena sosial yang tersimpul padanya permulaan sistem masyarakat dengan agama sederhana yang dikendalikan dengan beberapa larangan keras (toboo). Barang suci pada sistem  tersebut selalu hewan yang disangka oleh suku itu bahwa mereka dari hewan tersebut.[6]

Totem adalah sesuatu yang sakral, yang berbentuk binatang dan tumbuh-tumbuhan. Taboo adalah hal yang terlarang. Bagi Freud Taboo ternyata tidak mengasih jalan keluar serta tujuan yang jelas, karena pada dasarnya yang dilarang seperti sex, berburu binatang. Totem adalah hal yang diiginkan oleh manusia, dan manusia merasa menderita untuk mematuhi larangan tersebut. Yang menjadi pertanyaan besar menurut Freud adalah mengapa masih ada orang yang mematuhinya?

Melalui Teori alam bawah sadarnya Freud mengungkapkan jawabannya, bahwa pengalamannya dengan neurosis menunjukan bahwa pengalaman pribadi manusia yang normal dan terganggu sama-sama ditandai oleh ambivalensi-pertentangan kuat antara hasrat, satu saat ingin melakukannya, tapi disaat yang lain ingin meninggalkannya. Misalnya saat ayahnya masih hidup dan menginginkan untuk segera ayahnya wafat, namun setelah meningggal ia merasa bersalah karena berniat jelek terhadap ayahnya. Kemudian dalam perkembangannya kisah ini berlanjut dengan pembunuhan pertama, bahwa seorang ayah dibunuh oleh anaknya dan karena anak merasa bersalah, maka ungkapan penyesalannya dengan menyembah sang ayah, dan menganjurkan untuk tidak mebunuh apapun. Kedua ialah bahwa anak dilarang untuk mengawini istri dari ayah atau ibunya untuk menahan hasrat seksual sebagai bentuk bakti kepadanya. Ini diungkapkan Freud dengan “agama totem muncul dari rasa bersalah anak, dan untuk mnghilangkan perasaan itu dia mengabulkan keinginkan sang ayah, mereka kemudian menyembah sang ayah. Seluruh agama kelihatanya ingin memecahkan persoalan yang sama.”

Bagi Freud peristiwa pembunuhan pra sejarah merupakan hal yang paling penting dalam perjalanan sejarah kehidupan manusia. Gabungan antara totem dan tabu akhirnya menjadi pondasi dasar bagi seluruh peradaban.

The Future of an Illusion

Dalam bukunya, Totem and Taboo menceritakan kepada kita bagaimana manusia berusaha menundukan hasrat-hasrat mereka kepada hukum-hukum yang berlaku. Namun walaupun dengan pengekangan hasrat dapat menggapai ketenangan, nyatanya peradaban juga tidak bisa melindungi kita dengan sempurna. Yang diinginkan manusia adalah semua berakhir dengan baik, sebagaimana yang dialami selama masa kanak-kanak, dan menurut Freud masa kanak kanak bisa dialami lagi karena adanya bisikan agama. Dengan mengikuti masa anak-kanak, agama memproyeksi dunia eksteral tentang Tuhan, dan Tuhan dengan kekuatannya bisa menghilangkan kekuatan alam. Dengan syarat mematuhi perintahnya dan menjauhi larangannya, maka manusia bisa yakin bahwa nanti rohnya akan kembali kepada Tuhan.

Dalam hari depan sebuah ilussi (the future of an illusion), Freud menekankan dan mengeneralisasikan teori itu. Sang anak mencari perlindungan kepada bapaknya,orang dewasa karena perpanjangan masa infantile menciptakan seorang bapak yang lebih kuat lagi dari manusia dan untuk mengisi kekurangannya. Perasaan-perasaan penuh iri hati anak-anak terhadap ayah diberikan pada usia dewasa  dengan peralihan kepada Totem. Apabila manusia mencapai kedewasaan psikologis ,maka dengan sendirinya agama akan lenyap.[7]

Dalam proses perkembangan manusia ini, Freud menyebutnya dengan suatu illusi; seluruh materi yang diambil dari pengalaman individualnya sebagai anak-anak. Wujud yang di konfrontasikan dengan bahaya sesuatu yang tidak dapat dikendalikan dan tekanan-tekanan yang tidak dapat dikendalikan dan tekanan-tekanan yang tidak dapat dimengerti dari dalam dan luar dirinya.

Menuruut Freud, jika manusia memberikan illussinya tentang suatu tuhan kebapakan; jika nampak kesendirian dan ketidakberartian dalam alam itu, ia akan menyenangi seorang anak yang telah meninggalkan rumah bapaknya. Jika dia mengerti bahwa dia tidak mempercayai selain kemampuan dirinya pada bentuk realitas. Hanya manusia merdeka yang mampu mengantisipasi dirinya dari otoritas; otoritas yang mengancam dan melindungi, dapat mempergunakan kemampuan pikirannya dan mengerti dunia beserta hukumnya  secara obyektif tanpa illusi. Hanya jika dewasa dan berakhir menjadi anak-anak  dari  rasa ketergantungan dan takut akan otoritas, mampu untuk memahami dan memberanikan diri dalam berfikir tentang diri kita sendiri.

Jadi keyakinan itu semua adalah bagian dari illusi menurut Freud, illusi adalah keyakinan yang belum tentu benar. Maka dengan demikian, agama bukanlah wahyu Tuhan dan bukan berdasarkan konklusi dari pembuktian ilmiah. Sebaliknya, agama merupakan pikiran-pikiran dengan ciri utama yang khas “Kita menginginkan ajaran-ajaran agama itu bisa menjadi kenyataan.” Agama yang berasal dari awal sejarah manusia adalah pertanda dari sebuah penyakit, dan keinginan untuk meninggalkan agama adalah indikasi kesehatan peradaban manusia.

Menurut Freud, ada tiga konfirmasi yang menunjukkan kebenaran interpretasinya, yaitu :

  1. Sepanjang perkembangan sejarah agama jangkauannya semakin menyempit. Agama harus senantiasa mengosongkan wilayah-wilayah yang luas dan menyerahkan kepada pengetahuan ilmiah, misalnya tenaga-tenaga alam , penyakit ,kesuburan bahkan cakrawala moral. Di mana saja rasio maju di situpun agama harus mundur. Itu dibuktikaan bahwa didasarkan pada emosi saja bukan rasio.
  2. Peraturan agama dengan hidup emosional tampak juga dalam kenyataan ,bahwa orang beragama merasa enggan setiap macam kritik. Seringkali ia memper-tanggungjawabkan keyakinannya dengan menunjukkan pada waktu silam, kepada tradisi yang diterima dari nenek moyang dan kepadamu mu’jizat-mu’jizat yang telah berlangsung pada waktu silam itu.
  3. Akhirnya manusia membutuhkan agama supaya hokum-hukum moral mempunyai otoritas yang tak tergoncangkan. Ia tidak tidak mau menerima bahwa hokum-hukum moral mempunyai asal usul manusia saja.bagi dia agama merupakan keniscayaan sosial. Orang yang menolak agama merebahkan juga penopang-penopang masyarakat.[8]

Pada hemat Freud, agama memang bersifat fungsional belaka. Agama itu jawaban manusia atas frustasi yang dialaminya di berbagai kehidupan. Manusia bertindak religius karena ia mengalami frustasi itu.bentuk frustasi itu macam-macam antara lain :

  1. Frustasi karena alam. Bila timbul kesukaran jasmani yang membahayakan hidupnya, manusia mengalami frustasi.
  2. Frustasi sosial. Adanya konflik antara individu dan masyarakat mengakibatkan manusia tidak merasa bahagia. Freud berpendapat bahwa frustasi manusia berarti frustasi bagi orang perorang, dan agama diciptakan manusia sebagai kompensasi untuk masalah tersebut.
  3. Frustasi moral, karena rasa bersalah. Menurut Freud banyak praktek religius berfungsi sebagai obat untuk menyembuhkan orang dari rasa bersalah.
  4. Frustasi karena maut. Manusia harus mati. Kematian yang tak terelakkan itu menginsafkan manusia dengan paling tajam akan ketidakberdayaan. Maut merupakan luka paling parah untuk narsisme insani. Agama diabdikan olehnya kepada tujuan ini; mengatasi frustasi yang disebabkan oleh maut.[9]

Pandangan Sigmund Freud terhadap agama selalu didasarkan pada pengalaman dan pengetahuan yang didapatkan melalui akal belaka, tanpa disertai dengan kepercayaan-kepercayaan yang sifatnya mendukung kepada adanya agama. Lebih pesimis lagi menganggapnya agama itu merupakan suatu bahaya bagi kehidupan manusia.

Dari sinilah pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa teori psikoanalisa tentang agama dalam unsur-unsurnya itu adalah sebagai berikut .

  1. Sesungguhnya  Kepercayaan agama itu seperti keyakinan tentang agama, keadilan, surga, dan neraka tak lain adalah dari hasil pemikiran kekanak-kanakan yang berdasarkan kelezatan, yang mempercayai  adanya kekuatan mutlak bagi pemikiran-pemikiran.
  2. Sikap seseorang terhadap Alloh adalah pengalihan dari sikapnya terhadap bapaknya, yaitu sikap idiot yang bercampur antara takut dan butuh akan kesayangannya.
  3. Doa-doa dan lainya (dari penenang agama) adalah cara-cara yang tidak disadari obsession untuk mengurangi rasa dosa ,yaitu perasaan yang ditekan akibat pengalaman-pengalaman  yang kembali kepada rasa pertumbuhannya.[10]

[1]Amin Abdullah, Agama dan Akal Pikiran (Jakarta : Rajawali Pres,Cet. III, 1994), Hlm 125-126

[2]Louis Leahy, Masalah Ketuhanan Dewasa Ini (Yogyakarta : Kanisius, 1982), hlm 58.

[3] Daniels L. Pals, Seven Theoris Of Religion, (Sampangan : IRCiSoD Cet. II, 2012) hlm. 98

[4]Erich Fromm, Psichoanalysis and Religion (London : Yale University Press,1976), hlm 11-12.

[5] Daniels L. Pals, Seven Theoris Of Religion, (Sampangan : IRCiSoD Cet. II, 2012) hlm. 93

[6]Zakiah Derajat,Ilmu Jiwa Agama ( Jakarta : Bulan Bintang, 1979), hlm 39.

[7]Louis Leahy, Aliran-aliran Besar Ateisme ( Yogyakarta : Kanisius, 1986), hlm 49.

[8]K.Bertens, Panorama Filsafat Modern (Jakarta : Gramedia, 1983), hlm 82-105

[9]Nico Sjukur Dister, Pengalaman dan Motivasi Beragama (Jakarta : Leppenas,1982), 82-85

[10]Zakiah Derajat, Ilmu Jiwa Agama (Jakarta : Bulan Bintang,cet VII, 1979), 41-42.

*Ditulis oleh Balapikir Zaenal (angkatan 2017)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here