PENDAHULUAN

Weber menjelaskan bahwa agama adalah salah satu alasan utama perbedaan antara budaya barat dan timur. Ia mengaitkan efek pemikiran agama dalam kegiatan ekonomi, hubungan antara stratifikasi sosial dan pemikiran agama serta pembedaan karakteristik budaya barat. Tujuannya untuk menemukan alasan mengapa budaya barat dan timur berkembang dengan jalur yang berbeda. Weber kemudian menjelaskan temuanya terhadap dampak pemikiran agama puritan (protestan) memiliki pengaruh besar dalam perkembangan sistem ekonomi di Eropa dan Amerika Serikat, namun tentu saja ini ditopang dengan faktor lain diantaranya adalah rasionalitas terhadap upaya ilmiah, menggabungkan pengamatan dengan matematika, ilmu tentang pembelajaran dan yurisprudensi, sistematisasi terhadap administrasi pemerintahan dan usaha ekonomi. Studi agama menurut Weber semata hanyalah meneliti satu emansipasi dari pengaruh magis, yaitu pembebasan dari pesona. Hal ini menjadi sebuah kesimpulan yang dianggapnya sebagai aspek pembeda yang sangat penting dari budaya yang ada di barat. Max Weber mencoba mengaitkan antara Etika Protestan dan Semangat Kapitalis (Die Protestan Ethik Under Giest Des Kapitalis). Tesisnya tentang etika protestan mempengaruhi pertumbuhan ekonomi kapitalis. Ini sangat kontras dengan anggapan bahwa agama tidak dapat menggerakkan semangat kapitalisme. Studi Weber tentang bagaimana kaitan antara doktrin-doktrin agama yang bersifat puritan dengan fakta-fakta sosial terutama dalam perkembangan industri modern telah melahirkan corak dan ragam nilai, dimana nilai itu menjadi tolak ukur bagi perilaku individu.[1]

LATAR BELAKANG ETIKA PROTESTAN MAX WEBER

Max Weber (1864-1930) dilahirkan di Erfurt Jerman pada tanggal 21 April 1864, berasal dari keluarga kaya dan terpandang. Ayahnya adalah seorang birokat dan menempati posisi politik yang terpenting, dan ibunya adalah pemeluk agama yang taat. Tahun 1884, setelah menyelesaikan wajib militer, Max Weber melanjutkan studi di Universitas Berlin belajar hukum, dan setelah tamat dan meraih gelar doktor ia berprofesi sebagai petisi hukum.[2]

Karya Weber tentang The Protestan Ethic and Spirit of Capitalism menunjukkan dengan baik keterkaitan doktrin agama dengan semangat kapitalisme. Etika protestan tumbuh subur di Eropa yang dikembangkan seorang yang bernama Calvin, saat itu muncul ajaran yang menyatakan seorang pada intinya sudah ditakdirkan untuk masuk surga atau neraka, untuk mengetahui apakah ia masuk surga atau neraka dapat diukur melalui keberhasilan kerjanya di dunia. Jika seseorang berhasil dalam kerjanya (sukses) maka hampir dapat dipastikan bahwa ia ditakdirkan menjadi penghuni surga, namun jika sebaliknya kalau di dunia ini selalu mengalami kegagalan maka dapat diperkirakan seorang itu ditakdirkan untuk masuk neraka.

Doktrin Protestan yang kemudian melahirkan karya Weber tersebut telah membawa implikasi serius bagi tumbuhnya suatu etos baru dalam komunitas Protestan, etos itu berkaitan langsung dengan semangat untuk bekerja keras guna merebut kehidupan dunia dengan sukses. Ukuran sukses dunia  juga merupakan ukuran bagi sukses di akhirat. Sehingga hal ini mendorong suatu semangat kerja yang tinggi di kalangan pengikut Calvinis. Ukuran sukses dan ukuran gagal bagi individu akan dilihat dengan ukuran yang tampak nyata dalam aktivitas sosial ekonominya. Kegagalan dalam memperoleh kehidupan dunia akan menjadi ancaman bagi kehidupan akhirat, artinya sukses hidup didunia akan membawa pada masa depan yang baik di akhirat dengan “jaminan” masuk surga, sebaliknya kegagalan yang tentu berhimpitan dengan kemiskinan dan keterbelakangan akan menjadi “jaminan” pula bagi individu itu masuk neraka.[3]

Etika Ajaran Agama  

Tesis terkenal Max Weber, The Protestant Ethic and the Spirit of Capitalism pada intinya membicarakan tentang etika dari suatu keyakinan religius dan semangat dari sebuah sistem ekonomi dan terbangunnya hubungan antara jiwa dengan keseimbangan neraca. Dalam konteks ini, kata “kapitalisme” atau “semangat kapitalisme”  digunakan dalam pengertian yang sangat partikular, yaitu mengenai struktur yang mengatur sikap masyarakat Barat, bukan hanya ekonominya, tetapi juga sistem hukumnya, struktur politik, ilmu dan teknologi yang terinstitusionalisasi dan seni.

Struktur yang mengatur masyarakat Barat Weber disebut sebagai rasionalitas. Rasionalitas ini merembes ke semua bidang perilaku sosial, organisasi buruh dan manajemen serta ilmu-ilmu kreatif, hukum dan ketertiban, filsafat dan seni, negara dan politik, dan bentuk-bentuk dominan kehidupan privat. Rasionalitas ini didorong oleh perlawanan terhadap fitrah manusia yang cenderung kepada pra-rasional dan magis. Akhirnya, dengan perlawanan ini, motif-motif dibalik perilaku manusia imaji, pemujaan, magis dan tradisi direformasi melalui jantung keyakinan agama.[4]

Weber memakai konsep rasionalisasi dalam beragam makna dan cakupan. Di sini rasionalisasi dipakai untuk merujuk dua tipe, yakni rasionalisasi doktrin dan perilaku hidup. Dua tipe ini dipakai Weber untuk menjelaskan Protestan Asketis, terutama Calvinis. Para Calvinis merasionalisasikan doktrinnya untuk mengatasi problem makna mendasar, yakni akankah mereka diselamatkan ke surga.

Calvinisme, menurut Weber, menyuplai energi dan dorongan moral bagi para wirausahawan kapitalis. Weber mengungkapkan, doktrin-doktrin Calvinisme memiliki ‘konsistensi besi’  dalam disiplin habis-habisan yang dituntut dari para pengikutnya.[5] Kedua aspek dari doktrin panggilan ini, yakni kesungguhan dalam bekerja dan hak serta tugas individu untuk memilih bidang kegiatannya, jelas akan membantu perkembangan ekonomi bila keduanya tidak hanya diajarkan, tetapi dipraktekkan secara aktual. Weber berkeyakinan bahwa kedua aspek tersebut secara merata dipraktekkan di mana saja doktrin Calvinisme tentang takdir (predestination) dipegangi secara sungguh-sungguh.

Rasionalisasi doktrin Calvinisme dapat dilihat pada upaya menghilangkan unsur magis dari dunia modern. Calvinis menunjukkan sikap anti-magis dengan memilih kalkulasi rasional dalam hidup. Tuhan Calvinis menetapkan predestinasi ganda pada setiap orang, yakni sebagai yang terpilih atau terkutuk. Para Calvinis mulai meyakinkan diri bahwa mereka termasuk di antara orang-orang terpilih yang diselamatkan ke surga.

Menurut Weber, pada prinsipnya seseorang dapat menguasai segala sesuatu melalui kalkulasi rasional. Inilah yang oleh Weber disebut demagifikasi atau demistifikasi dunia. Hilangnya elemen magis yang berpuncak pada doktrin dan perilaku Calvinis ditandai secara teoretis dengan tidak adanya sistem Imamat, berkurangnya sakramen secara drastis, dan hilangnya sistem perantara yang memediasi hubungan Calvinis dan Tuhan. Inilah yang dimaksud Reformasi oleh Weber, kesimpulan yang dengannya dihubungkan teori ekonomi dan doktrin agama, yang mana tesisnya dikembangkan dari pemahamannya tentang “Protestanisme”, khususnya dari “Calvinisme”. Protestan, dalam ragam Calvinisnya menganggap bahwa perilaku orang yang beriman sebagai individu tidak bisa dikenai sanksi oleh otoritas spriritual eksternal, tapi hanya dikenai sanksi-batin dari hati nuraninya sendiri. Perilaku kaum “Protestan” ini termanifestasikan dalam signifikansi religius kerja dalam sebuah panggilan (calling). Atau dengan kata lain, agama dipandang sebagai sebuah orientasi ideologis yang cenderung mengarahkan seseorang pada peran kerja/wirausaha, di mana kemudian mereka memberikan sumbangan pada pertumbuhan ekonomi. Titik tolak Weber dalam mengemukakan tesisnya adalah sebuah survey statistik yang dilakukan pada 1900 oleh sosiolog Jerman Max Offenbacher, tentang “kondisi ekonomi umat Katolik dan Protestan” di Grand Duchy of Baden yang dari segi agama merupakan campuran (60 persen pemeluk Katolik).  Offenbacher menemukan bahwa warga negara Protestan Grand Duchy memiliki persentase aset modal yang sangat besar dan menduduki jabatan-jabatan pimpinan, kualifikasi pendidikan, posisi akademis, dan pekerjaan-pekerjaan yang menuntut keterampilan.

Dalam usahanya untuk menyusun suatu studi yang menyeluruh tentang hubungan agama dengan struktur dinamika masyarakat, Weber mengadakan penelitian secara mendalam tentang agama-agama besar di dunia, tetapi ia sama sekali tidak sempat membuat studi yang mendalam tentang Islam.  Tidak sepenuhnya Weber sanggup melepaskan diri dari etnosentrisme Eropanya. Khususnnya terhadap Islam dan agama-agama di Asia yang lain tampak sangat terbatas kemungkinan untuk menerapkan pendekatan verstehen terhadap sesuatu yang asing. Tapi usahanya ini telah banyak membantu persoalan dalam berbagai realitas social. Studi agama Weber tidak laim hanyalah meneliti satu emansipasi dari pengaruh magi, yaitu pembebasan dari pesona. Hal ini menjadi sebuah kesimpulan yang dianggapnya sebagai aspek pembeda yang sangat penting dari budaya yang ada di barat.[6]

Kesimpulan

Max weber merupakan salah satu tokoh yang berpengaruh besar dalam teori-teori sosiologi, lebih tepatnya terhadap sosiologi agama yang kita bahas kali ini. Dalam karya-karya Weber yang menekankan nilai-nilai etika dalam masyarakat protestan. Pendapat tersebut dilatar belakangi karena Weber manganut aliran calvinisme.Weber tak hanya membagi masyarakat berdasarkan kemajuan teknologi dikala itu, namun ia juga membongkar nilai, norma dan pengetahuan yang berkembang dalam kehidupan masyarakat itu. Menurut Weber, kehidupan masyarakat pre-industrial banyak dilekati oleh tradisi, sementara kehidupan masyarakat industrial-capitalist banyak dipengaruhi oleh rasionalitas.

Weber cukup jelas ketika membicarakan tentang isu keragaman kausalitas dalam studinya tentang hubungan antara protestanisme dengan semangat kapitalisme. Weber sebenarnya hanya ingin menyatakan bahwa etika Protestan bukan satu-satunya faktor yang melahirkan semangat kapitalisme, melainkan hanya salah satu dari faktor kausal munculnya semangat kapitalisme modern. Ia menganggap lugu gagasan yang mengatakan protestanisme adalah satu-satunya sebab tunggal. Sama lugunya menurut Weber, menganggap kapitalisme hanya dapat lahir sebagai akibat dari reformasi protestan.

Menurut Weber, seharusnya kapitalisme tidak hanya mementingkan harta dan kekayaan saja dalam mencapai suatu kebahagiaan, karena tidak selamanya kebahagiaan ditentukan secara material dari kekayaan yang dimiliki seseorang. Walaupun sebenarnya dalam konteks spirit kapitalisme yang dimiliki protestan sangat wajar. Pengumpulan dan penumpukan harta sebanyak-banyaknya bukanlah sesuatu yang dilarang oleh agama, akan tetapi hal yang terpenting adalah bagaimana suatu keselamatan mampu didapat dengan pengumpulan kekayaan tersebut. Artinya dari besar dan banyaknya kekayaan adalah untuk kebahagiaan bathin dari pemiliknya, bukan malah sebaliknya yaitu kekayaan itu sendiri. Yang menjadi landasan dasar dalam etos kerja adalah bagaimana untuk mengatasi berbagai kecemasan. Rasa takut, cemas, gundah, risau dan galau jika tetap berpangku tangan terhadap orang lain. Maka pada dasarnya berarti mereka telah melanggar perintah tersebut.  Inti dari hasil ahirnya adalah mencapai keberhasilan untuk melaksanakan perintah Tuhan dan bagaimana keberhasilan mencapai sesuatu dengan mereduksi atau menghilangkan kegelisahan bathin yang terjadi pada diri mereka sendiri. Jadi perlu ditekankan yang menjadi orientasi utama dari bekerja keras bukanlah kekayaan, melainkan kebahagiaan dalam pencapaian bathinlah yang menjadi orientasi pokok. Karena kembali pada tujuan awalnya yaitu kebahagiaan batin.

[1]Yudi Santoso, Sosiologi Agama Max Weber, (Jogyakarta: IRCiSoD, 2012), hlm. 19-25

[2]Sunyoto Usman, Sosiologi Sejarah, Teori dan Metodologi, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2015), hlm. 33

[3]Yudi Santoso, Sosiologi Agama Max Weber, (Jogyakarta: IRCiSoD, 2012), hlm. 33

[4]Dennis Wrong, Ed., Max Weber Sebuah Khazanah, (Yogyakarta: Ikon Teralitera, 2003), h. 193

[5]Max Weber, Etika Protestan dan Spirit Kapitalisme, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2006), hlm. xxxvii

[6]Taufik Abdullah, Tesis Weber Dan Islam Di Indonesia, Rajawali Pres Jogjakarta, Hlm: 19

*Ditulis oleh Balapikir Una (angkatan 2017)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here