Judul               : Agama Dan Politik Moral

Penulis             : Subhan Setowara Dan Soimin

Tahun Terbit     : 2013

Penerbit           : Intrans Publishing

Tebal               : 178 halaman

ISBN               : 978-979-3580-60-9

Resentator       : Hasan Ainul Yaqin

Agama dan segala dimensinya tidak melulu ditafsirkan bicara persoalan teologi dan akhirat belaka. Agama harus peka dan tanggap atas bencana yang menimpa ummatnya di dunia. Teramat banyak bencana yang menimpa umat beragama saat ini di Indonesia. kemiskinan, kebodohan, terorisme, korupsi, penghisapan dan segala macam bentuk ketertindasan dari manusia  kepada manusia  merupakan bencana yang sudah seharusnya agama menjawab persoalan tersebut.

Jika agama tidak berhasil memberikan terobosan yang mampu menghentikan bencana kemanusiaan itu, Maka disinilah letak kegagalan sebuah agama. perlu kita akui Indonesia adalah negara yang sangat menjunjung tinggi nilai dan otoritas agama. bisa dibilang bangsa ini begitu religius. Tempat ibadah dimana – mana, perayaan keagaamaan di setiap moment, waktu , dan tempat tidak pernah sepi. Bahkan di pesta politik isu agama sangat laku digoreng di pasaran untuk menjatuhkan lawan politiknya. Dari keberadaan itu dapat kita ketahui bahwa dalam konteks kenegaraan kita, Indonesia tidak pernah haus dari apa yang dinamakan agama.

Tidak berhenti disini, negara sebagai otoritas tertinggi punya mentri agama yang belum tentu posisi kementrian itu dipunyai di negara lain sebagaimana yang dimiliki Indonesia. Bahkan peraturan yang terkandung di agama tertentu pemerintah mengadopsinya untuk dilegalkan ditetapkan dalam peraturan negara. dalam konteks ini pemerintah meyaqini kalau peran agama di Indonesia kedudukanya sangatlah penting dalam menjalani roda kehidupan berbangsa.

Pancasila sebagai ideologi negara dan Konstitusi sebagai Undang-Undang Dasar menempatkan posisi agama pada kedudukan utama untuk dijadikan pedoman dalam berbangsa dan bernegara. Tetapi Ada yang kurang jika agama hanya ditafsirkan sebatas legal formal oleh negara dan persoalan spiritual oleh penganutnya. Kalau memang ini yang terjadi maka agama akan bergerak lamban untuk melakukan perubahan. Karena itu dalam buku tersebut agama harus melakukan perlawanan bila terjadi penindasan.

Perlawanan Nabi

Sudah seharusnya kita menghidupkan spririt keagamaan seperti yang dibawa pertama kali oleh nabinya. Spirit itu adalah perlawanan terhadap segala ketertindasan. Seperti nabi Ibrahim melawan despotisme raja Namrud, nabi Musa melawan kekejaman Fir’aun, nabi Harun melawan kemungkaran Thalut dan Jalut, demikian dalam Islam sendiri. Nabi Muhammad melawan Rezim Jahiliyah.

Di dalam buku Teologi Pembebasan Asgaar Ali, ia menjelaskan, bahwa seandainya nabi Muhammad mengajarkan ruku dan sujud saja pada kala itu, tidak mungkin ia ditolak oleh kaum jahiliyah.  dihalangnya nabi Muhammad di waktu itu karena nabi Muhammad membawa misi yang menurut mereka visi yang dibawa nabi membahayakan posisi masyarakat setempat.

Masyarakat Jahiliyah selalu melakukan sewenang – wenang. perbudakan, penghisapan dan merendahkan martabat manusia dianggapnya lumrah. Dengan hadirnya pendekar Islam, bernama Muhammad ini, ia mencoba membongkar struktur masyarakat Jahiliyyah menjadi masyarakat egaliter yang menjunjung tinggi nilai kemanusiaan dan keadilan.

Meminjam teori kesadaran kritisnya Paulu Freire bahwa terjadinya ketimpangan sosial berarti ada kesalahan di dalam sistem atau struktur sebagai pangkal dari sumber masalah. Karena itu struktur yang menyebabkan ketimpangan sudah seharusnya dilawan. Dan agama dalam penjelasan buku Agama dan Politik Moral diyaqini dapat menyembuhkan penyakit yang menggrogoti jantung umat manusia yang kian hari mengenaskan.

Jika agama gagal mengobati penyakit yang diderita ummatnya, maka sebenarnya terjadi paradoks dalam konsep keagamaan kita. Nilai luhur dari subtansi agama hilang atau sengaja dihilangkan. Sehingga mengakibatkan gerakan agama menjadi lamban dan sulit melakukan perubahan. Oleh sebab itulah tanggung jawab agamawan atau ulama sebagai pewaris nabi sangatlah ditunggu-tunggu gaungnya supaya agama tidak semakin tumpul dalam menjawab problem social.

Tanggung Jawab Agamawan

Agamawan sebagai pewaris nabi perlunya merefleksikan apa yang telah diajarkan oleh para nabinya termasuknya nabi Muhammad. Dalam dakwahnya Nabi Muhammad mengajak manusia menuju keadilan dan kemanusiaan. nabi Muhammad adalah kaum intelektual yang selalu gelisah bila lingkungan sekitarnya terjadi ketimpangan sosial. Hatinya bergerak untuk melakukan perubahan.

Melalui kesadaran kritis itulah membuat nabi Muhammad bergerak menyelesaikan persoalan sosial yang menimpa manusia. Peran ini sepatutnya diteruskan oleh mereka yang mendaku sebagai pewaris nabi. Mereka harus mampu menelurkan fungsinya sebagai mana fungsi daripada intelektual sendiri yang menurut Ignacio Ellacuria dikatakan bahwa fungsi intelektual yaitu  beripihak pada transformasi sosial serta bersuara bagi mereka yang tidak punya suara dan membela hak – haknya. Fungsi inilah patut bagi kaum agamawan maupun ulama renungkan, sadari, kemudian kerjakan. Hal 11

Jangan sampai ulama terjebak di lubang kekuasaan yang mendukung status quo. Kaum agamawan harus bersuara lantang bila di sekitarnya terjadi ketimpangan sosial. Apabila kaum agamawan memilih bungkam dan justru mendukung adanya ketimpangan sendiri. Maka disinilah yang disebut Julian Benda sebagai penghianatan kaum intelektual. Disebut penghianatan sebab ia mengerti secara sadar diri melalui luapnya pengetahuan yang dimiliki, tapi tidak memperagakan pengetahuan itu untuk membebasakan manusia dari kukungan ketidakadilan.

Meluruskan Makna Tauhid

Konsep tauhid tidak hanya berbicara pada persoalan eskatologis yang abstrak seperti surga-neraka, pahala-dosa, halal-haram. Tauhid berkaitan erat dengan amanah untuk bisa mewarnai hidup dengan nilai kerahmatan tuhan. seperti perdamaian, keadilan, dan kemanusiaan. Ketika agama bisu menanggapi soal kemanusiaan sementara umat manusia sendiri khususnya masyarakat  Indonesia beranggapan agama sebagai pedoman hidup, tidakkah itu paradoks dan ambigu ? apa yang bakal terjadi bila agama sebagai sandaran hidup manusia sementara ia tidak mampu menyelesaikan masalah yang dihadapi manusia penganutnya?

Albert Camus (ateisme heroik), Jean Paul Sartre (ateisme eksistensialisme), Karl Marx (ateisme sosial politik). Mereka menanggapi persoalan agama secara kritis. Menurutnya, jika agama tidak mampu mengatasi masalah kemanusiaan, maka kehadiran agama di muka bumi ini tidaklah penting. Maka tidak heran ateisme menjadi pilihan bagi mereka.

Berangkat dari ini bangsa kita harus merumuskan dan menghidupkan kembali spirit keagamaan supaya tetap berada di garis  orbit religious substance. Sehingga agama dapat diyaqini menjadi obor yang dapat menerangi gelap gulitanya tragisnya kehidupan yang dialami penganutnya.

NU dan Muhammadiyah sebuah organisasi kemasyarakatan terbesar di Indonesia harus ambil peran.  kebesaran organisasi ini ditandai dengan banyak pengikut berteduh di payung ormas tersebut. tidak hanya itu, kedua organisasi inipula berhasil melakukan gerakan kultural dan sosial yang menjadi orientasi serta visi-misinya. Pengakuan peran sentral terhadap organisasi ini sudah banyak dilakukan oleh peneliti luar. Mereka memandang basis kekuatan organisasi dari ormas tersebut sangatlah mempengaruhi tindakan sosial masyarakat dalam mengemban visi kemanusiaan.

Apalah daya godaan kekuasaan itu menghampiri organisasi tersebut. Kini NU dan Muhammadiyah mulai berfikir bahwa kekuasaan dapat menjadi pathner dan instrument civil society dalam melakukan gerakan kultural. Dalam Bahasa politik NU, kekuasaan bukanlah sebagai tujuan. Melainkan cukup menjadi perantara. Dalam artian, Meskipun politik bukanlah segala – galanya, tapi ia tetaplah penting dan tidak perlu dijauhi.

Tidak Melupakan Peran Sosial

Sekalipun NU dan Muhammadiyah terjun pada politik dan menjadikan politik sebagai instrument perjuangan civil society. Akan tetapi perlu dipatok batasan- batasanya untuk dijadikan pegangan. Supaya tidak terlalu terlampau jauh terlibat dalam lingkaran politik praktis. Kalau sudah kadung terlena dengan kekuasaaan maka yang terjadi gerakan kultural masyarakat dan masalah sosial menjadi terabaikan. Tentu bukan malah menyelesaikan masalah yang diratapi (hal 70)

Hal ini perlu disadari, gerakan kultural memang tidak perlu memutus hubungan dengan kekuasaan. Tapi yang disayangkan bila kekuasaan itu melupakan peran sosialnya. Maka masyarakat sulit menemukan tempat teduh untuk mencari tempat perlindungan atas masalah yang dihadapi. Akhirnya NU dan Muhammadiyah sebagai ormas Islam terbesar yang diharapkan mampu menghidupkan spirit agama, pada giliranya kehilangan taring dan fungsinya yang mampu mengakomodir masalah yang dihadapi masyarakat.

Di bagian bab buku ini kita dibawa untuk menatap masa depan bangsa lebih cerah, Sikap optimisme harus dibangun bersama antar masyarakat. luka satu patut dijadikan luka bersama. Sehingga masalah yang dihadapi sebagian masyarakat adalah persoalan semua masyarakat Indonesia. sebelum rakyat jelata atau masyarakat awam ditata, golongan kaum elite perlu ditata terlebih dahulu. karena ia menjadi teladan bagi masyarakatnya. elite pemerintah melingkupi pemerintah dan para politisi, elit ekonomi (kaum pemodal dan pembisnis), dan elite agama (agamawan). Hal 52

Semuanya harus menggerakan roda banga menuju keperibadian nasional yang jujur dan segan melakukan kecurangan.  Apabila ini dilakukan dengan sebenarnya maka akan terwujud yang namanya kepribadian nasional yang beradab. Jika tidak, maka terjadilah kebangkrutan nasional yang biadab.

Buku sederhana ini begitu menarik mengulas bagaimana peran agama harus mampu menjadi motor penggerak dari ketertindasan menjadi keadilan di suatu negara. Tapi  dalam merumuskan gerakan melawan ketertindasan oleh agama masih kurang begitu disinggung secara sistematis dan komprehensif di dalam buku ini. selamat membaca!

Peresensi : Kordinator Ekonomi Sosial dan Politik KSMW 2018

 

 

 

 

 

 

 

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here