Beberapa saat lalu saya memutuskan untuk ganti penampilan. Saya mencukur habis rambut saya, gundul. Anehnya, teman-teman yang melihat penampilan baru saya malah menanyakan apakah saya sedang depresi karena sesuatu? Asumsi mereka banyak orang yang merubah penampilan secara drastis—tetrutama mendadak gundul—pasti karena sedang menghadapi suatu masalah berat dan sedang depresi. Saya terheran-heran dengan pernyataan tersebut dan tersadar bahwa saya hidup di tengah masyarakat yang mempunyai budaya nirlogika, menghubungkan sesuatu yang tidak compatible (tidak tepat ditarik garis persinggungan). Apa hubunganya potongan gundul dengan tingkat depresi?

Masyarakat Nirlogika

Logika berasal dari kata Yunani kuno logos yang berarti hasil pertimbangan akal pikiran yang diutarakan lewat kata dan dinyatakan dalam bahasa. Sebagai ilmu, logika disebut dengan logike episteme (Latin: logica scientia) atau ilmu logika (ilmu pengetahuan) yang mempelajari kecakapan untuk berpikir secara lurus, tepat, dan teratur. Berpkir secara logis akan membantu kita untuk mengambil suatu kesimpulan, suatu teknik menyusun argumen, suatu metode untuk mengemukakan pendapat secara masuk akal serta Suatu cara mematuhi aturan-aturan hukum berpikir.

Masyarakat nirlogika adalah masyarakat yang tidak membiasakan diri untuk berpikir sesuai ketentuan-ketentuan hukum berpikir. Dalam cara berpikir inferensial yang menggunakan premis mayor, minor dan konklusi, maka kasus yang saya alami membuktikan ada kesalahan logika. Premis mayornya semua orang yang mendadak ganti penampilan gundul sedang depresi, premis minornya Muqsith berpotongn gundul, maka konklusinya Muqsith sedang depresi. Disini ada kesalahan premis mayor. Kesalahan itu terletak kepada generalisir bahwa semua orang yang mendadak gundul itu depresi. Faktanya tidak ada jaminan bahwa potong gundul itu membuktikan bahwa sedang depresi.

Kesalahan Berpikir

Dalam kehidupan sehari-hari masyarakat nirlogika bisa terjebak dalam kesalahan (ketidaktepatan) pengambilan premis mayor, premis minor ataupun konklusinya. Selain itu kecenderungan ketidaktepatan cara berpikir lainya adalah penambahan variabel. Contohnya dalam sistem berpikir yang inferensial, jika A = B, jika B = C, maka A = C, seringnya malah ada penambaahan variabel D. Misal ada pertanyaan “kamu tidak mau menghadiri pengajian?”, kemudian ada yang menjawab, “emang kalau menghadiri pengajian korupsi di Indonesia akan hilang?”. Disini, kita menghadiri pengajian (A), menammbah wawasan keagamaan dan spiritual (B) dan, orang yang menghadiri pengajian wawasan keagamaanya meningkat (C). Mempertanyakan apakah korupsi bisa hilang hanya dengan pengajian aalah penambahan variabel (D), meskipun pertanyaan tersebut bisa ikatakan sebagai satire, tetapi kebanyakan melakukan hal seperti itu sebagai ketidaktepatan sistem berpikir.

Kecenderungan kesalahan berpikir lainya adalah melakukan over-generalization, yaitu penggunaan hanya satu atau dua kasus untuk mendukung argumen yang bersifat umum. Kemudian, determinisme retrospektif, menganggap sesuatu sudah ditentukan oleh sejarah dan tidak mungkin diubah. Dari dulu ada orang kaya dan miskin, mengapa orang sekarang harus meributkan pemberantassan kemiskinan, padahal kemiskinan tidak bisa diberantas, karena sudah ada sejak dulu. Kecenderungan kesalahan lainya aalah Argumentum ad misericordiam, sesat pikir yang sengaja diarahkan untuk membangkitkan rasa belas kasihan lawan bicara ; misalnya: “Saya mencuri karena saya miskin dan tidak bisa membeli sandang dan pangan”.

Masyarakat nirlogika adalah masyarakat yang membahayakan. Mereka akan selalu mudah salah menarik kesimpulan dan sangat mudah dibohongi dengan berbagai rekaayasa. Dampak lebih jauh dari permasalahan ini adalah terciptanya masyarakat nirkontekstual. Masyarakat yang gagal paham konteks cenderung lebih mudah melakukan generalisasi sehingga ada penyepelean penyelesaian masalah. Semua masalah dianggap punya cara penyelesaian yang sama, dan mudah. Padahal setiap masalah mempunyai kerumitan yang pencarian solusinya diperlukan alur berpikir yang benar. Jika ada pemimpin sudah menjadi bagian masyarakat nirlogika pasti tindakanya cenderung kepada nirkontekstual.

Kesalahan berpikir dilakukan oleh dua golongan. Pertama, golongan paralogi dimana mereka tidak sadar jika sedang mengalami kesalahan dalam sistem berpikirnya. Golongan kedua adalah kaum sofis golongan yang secara sengaja melakukan kesalahan dalam berfikir, dengan tujuan untuk mengubah opini demi mencapai tujuan tertentu di luar kebenaran. Parahnya, saat masyarakat kita sebagaian besar sudah menjadi paralogi sementara para politikusnya menjadi sofis, maka kesalahan kebijakan yang berasal dari kesalahan sistem berpikir tidak akan pernah terevaluasi.

Bisakah kita hidup dengan penalaran lurus dan tidak sering terjebak pada kesalahan sistem berpikir? Pendidikan formal kita dari tingkatan SD sampai SMA seharusnya membekali landasan berpikir logika secara benar. Bagi penulis, sebanyak apapun pengetahuan yang diperoleh seseorang jika tidak disertai sistem berpikir logis yang tepat akan percuma. Bisakah pendidikan kita membekali siswanya lulus SMA dengan modal perangkat berpikir kritis dan kreatif? Atau malah pengajarnya yang sekarang sudah menjadi kaum sofis, kalau begitu, jayalah masyarakat nirlogika!

*

Ahmad Muqsith : Peneliti Kelompok Studi Mahasiswa Walisongo (KSMW) dan LPM IDEA

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here