Indonesia adalah Negara yang memiliki ribuan suku dan budaya. Beragam suku dan budaya tersebut tersebar dari Sabang sampai Merauke. Dari ribuan budaya yang ada, diantaranya juga terdapat budaya yang merupakan hasil akulturasi dari budaya yang dibawa oleh pendatang dari negeri lain, seperti Cap Go Meh yang merupakan budaya asli penduduk Tiongkok.

Cap Go Meh menurut penjelasan yang penulis baca dari artikel Syaifudin Zuhri dalam website DutaIslam.com adalah sebuah tradisi yang jatuh pada 15 hari pasca Imlek (tahun baru kalender Cina). Perayaan ini biasanya dilakukan sebagai pesta untuk menyambut musim semi. Perayaan Cap Go Meh tidak selalu sama untuk setiap daerah yang notabenenya terdapat etnis Tionghoa. Namun terdapat kesamaan dalam setiap perayaan Cap Go Meh, yakni menjadi waktu yang sakral untuk berkumpul bersama keluarga dan sanak famili dan membagikan angpao. Di Indonesia sendiri Cap Go Meh dirayakan dengan makan lontong, hampir mirip dengan Tradisi Idul Fitri bagi umat muslim di Indonesia.

Tahun ini di Semarang perayaan Cap Go Meh membagi kebahagiaannya bersama seluruh warga kota Semarang, dengan mengajak seluruh warga untuk mengikuti acara makan lontong bersama. Dengan tidak memandang latar belakang keagamaan yang dimiliki, perayaan ini juga dalam rangka pemecahan rekor muri makan lontong dengan peserta terbanyak. Perayaan yang juga akan menghadirkan beberapa tokoh pemuka agama ini, akan diselenggarakan pada minggu, 19 Februari, malam hari ini. Tentu saja panitia penyelenggara berharap akan ada banyak warga Semarang yang menghadiri perayaan Cap Go Meh tersebut.

Kebersamaan dalam Perbedaan

Perayaan Cap Go Meh yang melibatkan warga dari berbagai latar belakang agama dan keyakinan ini dapat menjadi simbol kerukunan umat beragama warga Kota Semarang. Setiap kebudayaan yang berasal dari masyarakat kita sendiri seharusnya bisa menjadi perekat dalam mewujudkan Indonesia yang damai dalam perbedaan. Karena menurut Gusdur dalam Islamku, Islam Anda, dan Islam Kita, perbedaan keyakinan tidak membatasi atau melarang kerjasama antar agama, terutama dalam hal-hal yang menyangkut kepentingan umat manusia.

Perbedaan yang ada pada setiap diri manusia adalah keniscayaan. Namun bukan berarti perbedaan tersebut menjadi alasan yang dapat menjauhkan kita. Justru perbedaan menjadi sebuah keragamaan identitas yang harus kita jaga. Jika kita menginginkan kehidupan yang rukun bersama seluruh umat manusia, maka sudah seharusnya kita mendukung kegiatan-kegiatan kebudayaan yang bersifat membangun upaya tersebut. Acara Cap Go Meh, sebagaimana juga acara-acara lain yang berusaha mempertemukan dua perbedaan dalam kebersamaan harus dapat kita jadikan sebagai sarana dalam membangun Indonesia yang damai dalam kemajemukan.

Mari Melawan Intoleransi

Mayoritas yang diam akan kalah dari minoritas yang berani bersuara. Maka di i tengah mulai maraknya serangan-serangan beberapa kaum yang bersifat intoleransi, yang sesungguhnya tak seberapa jumlahnya dibanding kita yang menjunjung tinggi toleransi, mengharuskan kita untuk bisa menangkal serangan-serangan tersebut. Karena perilaku intoleransi adalah salah satu penyebab rusaknya kerukunan yang selama ini jaga.

Menurut data dalam Index Peace Globa sebagaimana yang disampaikan oleh Tedi Kholiludin dalam Forum Komunikasi dan Konsolidasi Lintas Agama pada 17 Februari ini, Indonesia berada pada posisi nomor 42. Angka ini akan terus menurun jika kita membiarkan tingkat kebencian dan ancaman yang banyak disuarakan oleh kaum intoleran merajalela di negeri tercinta kita ini. Maka sebagai warga Negara yang cinta terhadap tanah airnya, kita semua harus berjuang untuk menghindarkan Indonesia dari perpecahan yang ditimbulkan akibat perbedaan SARA.

Seperti yang terjadi pada acara Cap Go Meh ini, akibat kesalahpahaman tentang konsep acara dan juga Cap Go Meh sebagai sebuah kebudayaan (bukan ritual agama)menimbulkan reaksi penolakan yang berlebihan dari beberapa pihak yang mengaku mewakili umat Islam.  Meskipun pada akhirnya acara tetap diselenggarakan dengan perubahan tempat,dari yang tadinya direncanakan di Masjid Agung Jawa Tengah dipindah di Balaikota Semarang, kita harus tetap waspada karena perilaku intoleransi bisa saja terus terjadi. Terlebih jika pemerintah alpa terhadap perlindungan terhadap hak warga Negara, perlawanan kita terhadap kaum intoleran harus semakin ditumbuhkan.

Kemerdekaan Indonesia sebagai hasil perjuangan dari berbagai lapisan masyarakat yang berasal dari latar belakang yang berbeda-beda tidak boleh kita serahkan begitu saja kepada kaum yang menginginkan Indonesia menjadi negara yang hanya mengakui satu keyakinan dan satu warna. Kemerdekaan ini seharusnya kita isi dengan perdamaian dan kerukunan yang akan semakin memperkuat persatuan Indonesia untuk mewujudkan kemerdekaan yang sesungguhnya.

*ditulis oleh Umi Ma’rufah (Rektor KSMW 2017)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here