Oleh : Maulana Malik Ibrahim

Kebudayaan  dan sosial di dalam masyarakat tidak otomatis terjadi dengan seketika. Ada proses ribuan tahun yang menjadikan tatanan sosio-kultural di satu daerah ke daerah lain berbeda-beda. Lingkungan dan sumber daya alam menjadi faktor penting kemunculan peradaban pasca masyarakat pemburu purba. Menurut Yuval Noah Harari, secara antropologis masyarakat purba yang mulai menetap di suatu daerah disebabkan kemunculan revolusi pertanian di mana masyarakat sudah tidak nomaden dan mulai mendomestikasi tanaman padi-padian yang mulanya liar.[1]

Kemunculan teknologi pertanian membawa perkembangan pesat bagi timbulnya masyarakat dan cara pandangnya terhadap alam. Peralatan sederhana dari teknologi tersebut berpengaruh terhadap cara manusia memandang semesta. Bangunan-bangunan sakral didirikan dan mitos dikembangkan kemudian diceritakan kepada masyarakat secara turun-temurun untuk menjaga kondisi lingkungan yang harmoni, terutama dengan semesta. Masyarakat yang tadinya bergantung dengan kondisi ‘alami’ alam dalam masyarakat pemburu purba beralih ke masyarakat yang sudah bisa merekayasa alam, dalam hal ini ialah peradaban pertanian.

Relativisme Moral

Semua peradaban dimulai dengan adanya pertanian. Namun di tiap daerah memiliki ciri khas masing-masing dalam melestarikan peradabannya. Singkatnya, muncul keinginan masyarakat untuk membentuk norma, etika, hukum, dan tatanan sosial yang mengatur tata kehidupan masyarakat. Begitupun bahasa, kebudayaan, kesenian, dan kesusastraan juga ikut terbentuk sebagai sarana hiburan maupun upacara/ritual sakral. Dilihat dari banyaknya ‘agama’ lokal dan kebatinan. Kebudayaan Timur hadir didominasi oleh aspek intuitif, sejak dulu. Cara pandangnya terhadap alam, dan aspek sosial-budayanya sekilas menjadikan harmoni antara Tuhan-manusia-alam. Maka secara antropologis terjadi relativisme norma dan moral antar satu daerah dan daerah lain.

Relativisme moral berusaha menunjukkan kenyatan bahwa norma-norma moral yang berlaku dalam pelbagai kebudayaan dan masyarakat tidak sama atau berbeda satu dengan yang lainnya. Dasar pemikirannya adalah bahwa karena nilai-nilai budaya (yang menjadi salah satu sumber, bahkan mungkin sumber utama norma-norma moral) berbeda antara masyarakat dan kebudayaan satu dengan masyarakat dan kebudayaan lainnya, maka norma-norma moralnya pun berbeda-beda. Inilah yang disebut relativisme kultural atau relativisme deskriptif.[2]

Para penganut relativisme moral yang kultural mengatakan bahwa semua kepercayaan dan prinsip moral bersifat relatif bagi setiap kebudayaan dan pribadi. Ini didasarkan pada kenyataan bahwa baik atau buruknya suatu tindakan berbeda antara tempat yang satu dengan tempat yang lainnya, dan bahwa tidak ada tolak ukur moral yang bersifat absolut dan universal bagi semua orang dimana saja dan kapan saja. Baik atau buruknya suatu tindakan tergantung pada keyakinan pribadi dan budaya tersebut.[3]

Dalam pola pikir demikian, tolak ukur moral dilihat hanya sebagai produk sejarah yang dilestarikan melalui adat kebiasaan. Tidak mengherankan bahwa tolak ukur moral itu dianggap bisa berubah-ubah sesuai dengan perkembangan sejarah dan kebudayaan manusia. Konsekuensinya, penilaian dan penghayatan moral antara satu generasi dengan generasi yang lainnya juga berbeda-beda. Terhadap pandangan relativisme kultural di atas, harus kita akui bahwa dalam kehidupan dewasa ini kita sering mengamati adanya perubahan pola perilaku moral yang berbeda-beda antara kebudayaan dan masyarakat yang satu dengan kebudayaan dan masyarakat lainnya.

Hanya saja kita tidak bisa menyangkal bahwa ada suatu struktur universal dari hakikat manusia atau paling kurang ada serangkaian kebutuhan manusia yang bersifat universal yang mengarah kepada diterimanya prinsip-prinsip moral dasar yang serupa, bahkan sama, dalam semua kebudayaan. Walaupun kebiasaan dan kepercayaan pribadi atau budaya berbeda-beda, orang tidak dengan sendirinya sepakat mengenai tolak ukur moral.[4]

Etika Sosial Orang Jawa

Etika Sosial Jawa merupakan ciri-ciri pandangan dunia orang Jawa yakni suatu penghayatan terhadap masyarakat (manusia), alam, dan alam adikodrati sebagai kestuan yang tak terpecah belah. Dari kelakuan yang tepat terhadap kesatuan itu tergantung keselamatan manusia.[5] Sedang Niels Mulder mengistilahkannya dengan Javanisme sebagai suatu sistem pemikiran, yakni suatu sistem pemikiran yang kompleks an sich, yang berisikan kosmologi, mitologi, seperangkat konsepsi yang pada hakikatnya bersifat mistik, dan sebagainya yang menimbulkan antropologi Jawa tersendiri, yaitu suatu sistem gagasan mengenai sifat dasar manusia dan masyarakat, yang pada gilirannya menerangkan etika, tradisi dan gaya Jawa.[6] Peneliti menjabarkan konsep-konsep tersebut sebagai berikut:

  1. Konsep Hubungan Manusia dengan Sesama Manusia/Masyarakat

Dalam hubungan ini ada beberapa prinsip yang dipegang manusia Jawa untuk menciptakan dan memberikan keselarasan antar manusia yakni prinsip kerukunan dan prinsip hormat. Prinsip yang pertama bertujuan untuk mempertahankan masyarakat dalam keadaan yang harmonis. Rukun berarti “berada dalam keadaan selaras”, “tenang dan tentram”, “tanpa perselisihan dan pertentangan”, “bersatu dalam maksud untuk saling membantu”.[7]

Inti prinsip kerukunan ialah tuntutan untuk mencegah segala kelakuan yang bisa menimbulkan konflik terbuka. Tujuan kelakuan rukun ialah keselarasan sosial, keadaan yang rukun. Suatu keadaan disebut rukun apabila semua pihak dalam kelompok berdamai satu sama lain. Motivasi untuk bertindak rukun bersifat ganda: di satu pihak individu berada di bawah tekanan berat dari pihak lingkungannya yang mengharapkan daripadanya sikap rukun dan memberi sanksi terhadap kelakuan yang tidak sesuai. Di lain pihak individu membatinkan tuntutan kerukunan sehingga ia merasa bersalah dan malu apabila kelakuannya mengganggu kerukunan.[8]

Prinsip kerukunan terutama bersifat negatif: prinsip itu menuntut untuk mencegah segala cara kelakuan yang bisa mengganggu keselarasan dan ketenangan dalam masyarakat.[9] Maka dapat dikatakan rukun adalah usaha untuk menghindari konflik-konflik. Kedua, prinsip kerukunan pertama-tama tidak menyangkut suatu sikap batin atau keadaan jiwa, melainkan penjagaan keselarasan dalam pergaulan. Yang diatur adalah permukaan hubungan-hubungan sosial yang kentara. Yang perlu dicegah ialah konflik-konflik terbuka. Supaya manusia dapat hidup sesuai dengan tuntutan kerukunan dengan mudah dan enak, memang diperlukan sikap-sikap batin tertentu, tetapi tuntutan agar semua pihak menjaga kerukunan tidak mengenai sikap-sikap batin itu, melainkan agar ketentraman dalam masyarkat jangan sampai diganggu, jangan sampai nampak adanya perselisihan dan pertentangan.[10]

Prinsip kedua adalah hormat. Prinsip ini menitikberatkan kepada sikap seseorang dalam berbicara dan bersikap terhadap orang lain yakni harus hormat, sesuai dengan derajat dan kedudukan seseorang tersebut. Namun prinsip hormat jangan disamakan dengan sikap “berikanlah perintah dan kami mengikuti”.[11] Sikap ini dicurahkan dalam hubungan antara yang lebih tua dengan yang lebih muda, ataupun yang memiliki kedudukan ilmu yang tinggi. Mereka yang memiliki kedudukan lebih tinggi maka wijib dihormati. Lalu sikap orang yang lebih tua atau tinggi kepada yang lebih muda atau rendah adalah sikap mengayomi dan rasa tanggung jawab. Maka jika tiap orang menerima kedudukan itu, maka tatanan sosial pun akan terjamin.

Menurut Hildred Geertz sikap hormat adalah bahwa semua hubungan masyarakat tersusun secara hierarki, serta diatas kewajiban moral, bahwa memelihara dan menyatakan corak tertib sosial yang demikian itu pun merupakan suatu kebaikan. Sedangkan rukun adalah determinasi untuk “memelihara pernyataan sosial yang harmonis” dengan memperkecil sebanyak-banyaknya pernyataan konflik sosial dan pribadi secara terbuka dalam bentuk apapun.[12] Dalam istilah lain, ada konsep unggah-ungguh, yakni sikap hormat-sopan-santun kepada orang yang lebih tua, terutama anak kepada orang tuanya. Pendidikan sikap hormat dan rukun ini oleh orang tua ditanamkan kepada anak sejak dini.

Dua prinsip itu menuntut bahwa dalam segala bentuk interaksi konflik-konflik terbuka harus dicegah dan bahwa dalam hubungan-hubungan hierarkis selalu perlu dihormati. Jadi prinsip keselarasan merupakan suatu kerangka yang menjadi batas mutlak bagi segala apa, padanya tindakan saya, apa pun alasan dan motivasinya, menemukan batasnya.[13] Tuntutan-tuntutan prinsp keselarasan akan selalu berlaku, sedangkan prinsip-prinsip moral moral lainnya hanya sejauh tidak bertentangan dengan keselarasan.[14]

  1. Konsep Hubungan Manusia dengan Alam /Semesta (Kosmos)

Alam dalam pandangan orang Jawa bukanlah sesuatu yang harus ditaklukan, ataupun takluk kepada alam. Bagi masyarakat Jawa pilihan hidup ‘selaras’ dengan alam adalah yang paling tepat dan benar, karena bagi orang Jawa, mereka tidak memiliki kemampuan untuk manaklukkan ataupun menganalisa kekuatan alam. Namun ketika terjadi suatu bencana seperti gunung meletus, banjir bandang, atau gagal panen maka orang Jawa memandang bencana demikian dengan ‘nasib’.

Namun orang Jawa merasa berkewajiban untuk memayu hayuning bawana, atau “memperiandah keindahan dunia”, hanya usaha inilah yang memberi arti pada hidup. Di satu sisi ada yang menganggapnya secara harfiah, yakni bahwa manusia harus memelihara dan memperbaiki lingkungan fisiknya (yakni pekarangan sekitar rumah, desanya, dan sebagainya), dan di sisi lain ada yang menganggapnya secara abstrak, yaitu bahwa orang wajib memelihara serta memperbaiki lingkungan spiritualnya, yakni adat, tatacara, serta cita-cita dan nilai-nilai pribadi.[15]

Tolak ukur arti pandangan dunia bagi orang Jawa adalah nilai pragmatisnya untuk mencapai suatu keadaan psikis tertentu, yaitu ketenangan, ketentraman, dan keseimbangan batin. Maka pandangan dunia dan kelakuan dalam dunia tidak dapat dipisahkan seluruhnya. Keyakinan-keyakinan deskriptif orang Jawa terasa benar sejauh membantu dia untuk mencapai keadaan batin itu tadi. Bagi orang Jawa suatu pandnagan dunia dapat diterima semakin semua unsur-unsurnya mewujudkan suatu kesatuan pengalaman yang harmonis, semakin unsur-unsur itu cocok satu sama lain (sreg), dan kecocokan itu merupakan suatu kategori psikologis yang menyatakan diri dalam tidak adanya ketegangan dan gangguan batin. Oleh karena itu ontologi, psikologi dan etika tidak bisa dipisahkan secara tajam.[16]

Masyarakat dan alam merupakan lingkup kehidupan orang Jawa sejak kecil. Masyarakat baginya pertama-tama terwujud dalam keluarganya sendiri dimana ia termasuk sebagai anak dan sebagai adik atau kakak; kemudian ada para tetangga, keluarga yang leih jauh dan akhirnya seluruh desa. Dalam lingkungan ini ia menemukan identitas dan keamanan psikisnya, Terpisah dari hubungan-hubungan itu ia merasa sendirian dan seakan-akan tidak sanggup berbuat apa-apa sampai ia, misalnya dalam kota, menemukan hubungan-hubungan sosial baru.[17]

Melalui masyarakat ia berhubungan dengan alam. Irama-irama alamaiah seperti siang dan malam, musim hujan dan musim kering menentukan kehidupannya sehari-hari dan seluruh perencanaannya. Dari lingkungan sosial ia belajar bahwa alam bisa mengancam, tetapi bisa memberikan berkat dan ketenangan, bahwa seluruh eksistensinya tergantung dari alam. Tahap-tahap penanaman dan pnuaian padi dipelajarinya dari masyarakat. Dengan demikian hidupnya memperoleh keteraturan. Melalui lingkungannya ia belajar untuk berhubungan dengan alam, irama alam menjadi iramanya sendiri, ia belajar apa yang harus dikerjakannya pada saat-saat yang sesuai. Begitu pula kekuatan-kekuatan alam disadarinya dalam peristiwa-peristiwa peting kehidupan seperti kehamilan, kelahiran, kematangan seksual, pernikahan, dalam menjadi tua dan dalam kematian.[18]

Identitasnya ditemukan didalam kelompoknya, dan disisi lain ia dan masyarakat selalu berhadapan dengan alam yang menentukan kehidupannya. Hasil pertanian atau panen sangat ditentukan oleh kekuatan di luar dirinya, yaitu alam. Kekuatan-kekuatan alam itu ditunjukkan dengan bencana-bencana seperi banjir, gagal panen, dan lain-lain. Pergulatannya dengan alam membantu orang Jawa untuk meletakkan dasar-dasar masyarakat dan kebudayaannya. Dengan memahami eksistensinya, maka ia menganggap masyarakat sabagai sumber keamanan bagi dirinya dan alam sekitar sebagai penentu keselamatan dan kehancurannya.

Maka bagi orang Jawa, pengertian tentang ‘alam’ adalah dualisme. Alam indrawi tak hanya sebatas fisik, namun alam itu juga diselimuti serta dikelilingi alam gaib (adiduniawi) yang juga berkuasa atas alam indrawi. Dari situlah eksistensi kehidupannya ditentukan. Seperti yang diungkapkan Niels Mulder, “Kosmos, termasuk kehidupan benda-benda dan periwtiwa-peristiwa di unia, merupakan suatu kesatuan yang terkoordinasi dan teratur, suatu kesatuan eksistensi dimana setiap gejala, meterial, dan spiritual, mempunyai arti yang jauh melebihi apa yang nampak”.[19]

Ada dimensi mistik dalam pandangan orang Jawa (kejawen) terhadap alam sekitar (kosmologi). Pikiran kosmis dengan sendirinya memuat hal-hal mistis. Perasaan mistik ini muncul secara tiba-tiba/spontan. Pengenalan melalui rasa (batin) akan mempertebal penghayatan ajaran kejawen yang luhur.[20] Maka alam empiris dan meta-empiris adalah satu kestuan dalam kosmologi Jawa. Pengalaman-pengalaman empiris orang Jawa juga merupakan pengalaman meta-empiris itu sendiri. Hal ini terungkap dalam setiap kegiatan-kegiatan yang dilakukan oleh masyarakat. Alam fisik selalu diliputi oleh alam gaib.

Orang Jawa meyakini bahwa dalam diri manusia terdapat kosmos, yaitu mikrokosmos. Sedangkan alam semesta ini dikenal dengan makrokosmos. Keseimbangan mikrokosmos dan makrokosmos hanya dapat diraih melalui kesadaran jiwa yang terdalam. Alam semesta adalah wahana untuk menemukan ketenangan. Mengolah alam semesta memerlukan kesadaran jiwa. Apabila alam semesta dilawan, keseimbangan akan gagal. Karena itu, mengolah jiwa secara jernih, untuk memahami alam semesta jauh lebih bagus dibanding jiwa yang ingin mengeksploitasi alam terus menerus.[21] Ini merupakan kritik bagi nalar kapitalisme yang eksploitatif menggempur alam.

Secara kosmologis umat manusia merupakan satu eksponen kesatuan eksistensi, yaitu dari hidup. Tergantung pada hukum kosmis. Ia dibatasi dalam nasib, tujuan dan kemauannya. Kehidupan di dunia di lihat semata-mata hanya sebagai bayangan dari kebenaran yang lebih tinggi, dan masing-masing pribadi harus tunduk kepadanya.[22] Satu kesatuan inilah yang membentuk pandangan dan kesadaran orang Jawa terhadap alam semesta yang merupakan makrokosmos dan bersifat mistik. Maka keselarasan dengan alam adalah hal mutlak.

Dengan refleksi yang lebih dalam, dapat dikatakan bahwa terdapat dua sisi hubungan antara kosmos dengan manusia. Bila kondisi spiritual manusia tertib dan tentram, bila ia tidak mengikuti hawa nafsu dan pamrih, maka kehidupan di dunia ini akan adil dan makmur, yang pada gilirannya ini mencerminkan suatu kosmos yang teratur dan harmoni antara “Tuhan” dengan manusia. Pamrih sering membeleggu etika kosmis. Ketika ada orang yang hendak mengeksploitasi kosmos, berarti pamrih telah melampaui etika. Akibatnya, kosmos sering guncang dan akhirnya dapat terjadi bencana.[23]

Kemudian tolak ukur kosmis juga bisa diukur dari pasangan ‘halus-kasar’ terhadap suatu gejala dalam lingkungan. Halus adalah tanda keselarasan yang sempurna. Apabila masyarakat berada dalam keadaan selaras maka semuanya berjalan dengan enak, tenang dan seakan-akan dengan sendirinya, keselarasan alam nampak dalam kesuburannya, tak ada malapetaka dan bencana, kekuatan-kekuatannya mengalir dengan tenang, tanpa menimbulkan perhatian, mirip dengan putaran roda sebuah generator raksasa yang karena kecepatan dan kehalusannya tak lagi kelihatan gerakannya. Halus adalah seseorang yang sudah mengontrol kejasmaniannya dan telah mengatur batinnya sehingga mencapai rasa yang benar. Sebaliknya kelakuan kasar adalah tanda kekurangan kontrol diri dan kekurangmatangan. Halus sekaligus merupakan tanda kekuatan, kasar tanda kelemahan.[24]

  1. Konsep Hubungan Manusia dengan Tuhan

Secara kerangka berpikir orang Jawa, hubungan antara Tuhan-alam-manusia adalah satu kesatuan yang harmonis. Ciri-ciri pandnagan dunia ini ialah penghayatan terhadap masyarakat, alam dan alam adikodrati sebagai kesatuan yang tak terpecah-belah. Dari kelakuan yang tepat terhadap kesatuan itu tergantung keselamatan manusia.[25] Oleh karena itu alam inderawi bagi orang Jawa merupakan ungkapan alam gaib, yaitu misteri berkuasa yang mengelilinginya, daripadanya ia memperoleh eksistensinya dan ia bergantung. Alam adalah unkapan kekuasaan yang akhirnya menentukan kehidupannya. Dalam alam ia mengalami betapa ia tergantung dari kekuasaan-kekuasaan adiduniawi yang tidak dapat diperhitungkan, yang disebutnya sebagai alam gaib.[26]

Secara vertikal dalam kerangka berpikir tersebut melahirkan sejumlah pengakuan keimanan yang luar biasa yang sarat semangat spiritualitas: nrima ing pandum (menerima pembagian), wong mung saderma, sumarah (orang hanya menjalani, pasrah), dan kabeh wes pinesthi (semua sudah ditakdirkan). Seretan ungkapan verbal sarat semangat spiritualisme itu, dapat disejajarkan dengan ajaran Islam, semacam qana’ah (menerima pembagian dan keputusan Allah), shabar (tabah menjalani apapun kondisinya), dan tawakal (pasrah takdir Allah). Konsep-konsep batiniah dalam menghadapi berbagai cobaan dan rintangan hidup itu lahir sebagai cermin spiritual orang Jawa yang sesungguhnya.[27]

Secara kosmologi, kehidupan di dunia merupakan bagian dari kesatuan eksistensi yang meliputi segalanya. Dalam kesatuan itu semua gejala mempunyai tempat dan berada dalam hubungan-hubungan yang saling melengkapi dan terkoordinasi satu sama lain. Gejala-gejala ini merupakan bagian dari satu perencanaan besar. Perencanaan itu digambarkan sebagai merupakan suatu susunan yang teratur dimana peristiwa-peristiwa tidak terjadi secara sembarangan atau karena suatu kebetulan, melainkan karena suatu keharusan. Betapapun perjalanan sejarah dan peristiwa-peristiwa telah ditetapkan sebelumnya dan mengungkapkan diri karena hukum kosmis (ukum pinesthi). Kesatuan eksistensi itu mendapatkan titik puncaknya pada pusat yang meliputi segalanya, pada “Yang Maha Tunggal” (Hyang Suksma) yaitu “Hidup” (Urip) dari mana semua eksistensi berasal dan kepada siapa harus kembali. “Hidup” itu sendirilah yang menghidupkan susunan alam semesta dan bumi, yang merupakan hakikat serta rahasianya.[28]

Dengan demikian orang mempunyai kewajiban moral untuk menghormati tata kehidupan. Mereka harus menerima kehidupan sebagaimana adanya sambil menumbuhkan kedamaian jiwa dan ketenangan emosi. Tindakan-tindakan impulsif, atau mengorbankan diri sendiri pada gairah dan keinginan, membiarkan nafsu diri merajalela, adalah patut dicela karena tindakan-tindakan itu merusak tatanan pribadi, tatanan sosial dan tatanan kosmis. Oleh karena itu orang harus menguasai diri sendiri ke dalam dan ke luar, sambil mencoba membentuk kehidupan dengan indahnya.[29]

Maka dalam memahami aspek ketuhanan dan hubungannya dengan berbagai unsur kehidupan, penggunaan ‘rasa’ lebih ditekankan. Karena rasa dalam hal ini menjadi suatu epistemologi dalam memahami dan memaknai kehidupan. Sikap menerima (nrima) atas apa yang diberikan Tuhan kepada manusia dan selalu menjaga keteraturan serta tatanan kosmis. Rasa atau batin itu sendiri adalah manifestasi dari mikrokosmos dari unsur semesta. Dengan batin inilah kepekaan kepada sesama manusia, kepada alam, dan kepada Tuhan selalu diasah hingga pada kebenaran yang tertinggi.

Untuk mengasah kepekaan rasa atau batin hingga mencapai kebenaran tertinggi yakni Manunggaling Kawula Gusti, dalam ajaran Jawa dan Islam diperlukan adanya pengekangan terhadap hawa nafsu dan sifat keduniawian yang akan membelenggu batin dan diri. Dunia batin itu pulalah, yang membuat manusia merenungi keberadaannya. Siapa ia sebenarnya. Saat kemudian manusia sampai pada satu kata; Tuhan.[30] Keyakinan akan Tuhan Yang Mencipta dan mengatur segalanya. Keyakinan yang menjadikan dunia batin mempu memandang Tuhan secara nyata, demikian terasa, dan sungguh-sungguh menggenggam jiwa kita.[31]

Hal ini tercermin dalam salah satu bait Wedhatama:

Sejatine kang mangkana,

wus kakenan nungrahaning Hyang Widhi

bali alaming ngasuwung,

tan karem karamean,

ing sipat wisesa winisesa wus,

mulih mula mulanira,

mulane wong anom sami.[32]

Artinya yakni  “Bahwa orang sudah sampai pada (tingkatan) alam yang demikian, maka itulah tanda bahwa rasa telah manunggal dengan Yang Maha Esa. Artinya telah mendapatkan anugerah Tuhan, kembali ke alam kosong-hampa, padam segala luapan hawa nafsunya, jernih budinya, kembali ke asal mulanya”.[33]

Batin manusia harus sedemikian peka terhadap kedudukannya dalam masyarakat dan kosmos, sehingga ia “mengerti”, bahwa ia harus memenuhi kewajiban-kewajibannya. Pengertian ini membuka diri dalam perasaan batin, dalam rasa. Makin halus perasaannya makin ia dapat menyadari dirinya sendiri, makin bersatu ia dengan kekuatan-kekuatan Ilahi kosmos, dan makin betul arah hidupnya.[34] Jadi hubungan dengan Tuhan juga harus dilakukan dengan proses kesadaran yang reflektif dan intuitif.

Jadi etika Jawa dapat berargumentasi atas nama kepentingan-kepentingan yang sebenarnya dari yang bersangkutan. Tuntutan-tuntutannya menunjukkan jalan terbaik untuk mencapai ketenangan dan ketentraman batin, untuk memiliki diri dengan tenang, untuk bebas dari frustasi, dan untuk bertemu dengan Yang Ilahi. Jadi etika Jawa menawarkan suatu maksimum kepenuhan eksistensi. Siapa yang hidup menurut petunjuk etika-etika Jawa, akan merasa slamet dan menikmati katentremaning ati (ketentraman hati). Oleh karena itu menuruti tuntutan-tuntutan etika Jawa masuk akal. Manusia yang bijaksana akan hidup sesuai dengan norma-normanya. Dalam kerangka etika Jawa pemenuhan kewajiban-kewajiban merupakan cara hidup yang rasional.[35]

Penulis : Balapikir KSMW 2014

Kebudayaan Jawa dan Posmodernisme? Mari kita diskusikan. Artikel diatas hanyalah pengantar tentang cara pandang.

[1] Lihat Yuval Noah Harari, Sapiens: Riwayat Singkat Umat Manusia, (Jakarta: KPG), 2018, h.91-116

[2] Burhanuddin Salam, Etika Sosial: Asas Moral dalam Kehidupan Manusia, (Jakarta: Rineka Cipta), 2002, h.9

[3] Ibid., h.9-10

[4] Ibid., h.10

[5] Franz Magnis Suseno, Etika Jawa, (Jakarta: Gramedia), 1984, h.84

[6] Niels Mulder, Pribadi dan Masyarakat di Jawa, (Jakarta: Sinar Harapan), 1985, h.16

[7] Ibid., h.39

[8] Ibid., h.52

[9] Ibid., h.39-40

[10] Ibid., h.40

[11] Ibid., h.68

[12] Hildred Greetz, Keluarga Jawa, (Jakarta: Grafitti Pers), 1983, h.154

[13] Franz Magnis Suseno, Etika Jawa, (Jakarta: Gramedia), 1984,  h.72

[14] Ibid., h.77

[15] Koentjarangirat, Kebudayaan Jawa, (Jakarta: Balai Pustaka), 1984, h.439

[16] Franz Magnis Suseno, Etika Jawa, (Jakarta: Gramedia), 1984, h.83

[17] Ibid., h.85

[18] Ibid., h.85

[19] Niels Mulder, Mysticism and Everyday Life in Contemporary Java: Cultural Persistence and Change, (Singapore: Singapore University Press), 1987, h.17, dalam Franz Magnis Suseno, Etika Jawa, (Jakarta: Gramedia), 1984, h.86

[20] Suwardin Endraswara, Memayu Hayuning Bawana, (Yogyakarta: Narasi), 2013, h.43

[21] Suwardi Endraswara, Kebatinan Jawa: Laku Hidup Utama Meraih Derajat Sempurna, (Yogyakarta: Lembu Jawa), 2011, h.143-144

[22] Ibid., h.148

[23] Suwardi Endraswara, Kebatinan Jawa dan Jagad Mistik Kejawen, (Yogyakarta: Lembu Jawa), 2011, h.136

[24] Koentjarangirat, Kebudayaan Jawa, (Jakarta: Balai Pustaka), 1984, h.212-213

[25] Ibid., h.84

[26] Ibid., h.86

[27] Mulya, Spiritualisme Jawa: Meraba Dimensi dan Pergulatan Religiusitas Orang Jawa, dalam Jurnal Kejawen Vol.1, No.2, Agustus 2006, Yogyakarta: Jurusan Pendidikan dan Bahasa Daerah, Fakultas Bahasa Seni, Universitas Negeri Yogyakarta, h.4

[28] Niels Mulder, Pribadi dan Masyarakat di Jawa, (Jakarta: Sinar Harapan), 1985, h.19-20

[29] Ibid., h.25

[30] Muhammad Zainur Rakhman, Konsep Iman dalam Cinta dan Kasih, (Jakarta: PT Elex Media Komputindo), 2012, h.4

[31] Ibid., h.5

[32] Mangkunegara IV, Wedhatama Winardi, (Surabaya: Citra Jaya Murti), 1988, cet.III, h.16

[33] Ibid., h.17

[34] Franz Magnis Suseno, Etika Jawa, (Jakarta: Gramedia), 1984, h.197

[35] Ibid., h.216

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here