Demokrasi dalam banyak literature merupakan satu kata yang masih samar dalam pengertiannya. Sebagaimana kata langit, ketika kita mendengarnya kita pasti tertuju pada satu makna bahwa ia adalah yang ada di atas dan merupakan lawan dari bumi. Tetapi apakah ini adalah makna satu-satunya yang terkandung dalam kata langit? Tentu tidak. Dulu langit merupakan ungkapan tentang alam yang rumit dan misterius. Sekarangpun konotasi langit semakin dalam dan luas kemisteriusannya. Itulah analogi yang dipaparkan al-Jabiri dalam bukunya yang berjudul “Syura; Tradisi Partikularitas Universalitas” mengenai demokrasi yang dirasa masih sulit untuk didefinisikan secara pasti.

Walaupun penggalian makna demokrasi dilakukan dengan menelusuri sejarahnya, kita tetap akan sampai pada kesimpulan bahwa demokrasi sejauh perkembangannya sampai saat ini telah mengalami perubahan secara terus-menerus. Yakni ketika kita memaknai demokrasi yang dalam Bahasa Yunani sebagai “pemerintahan rakyat oleh rakyat”, menurut al-Jabiri tidak akan pernah terwujud karena pasti akan berimplikasi pada ide yang berhadapan dengannya yaitu negara. Karena kata pemerintahan hanya dapat dimaknai ketika ada pemerintah dan yang diperintah. Dalam hal ini harus ada alat atau sarana yang dapat menjembatani keduanya. Negara merupakan alat atau sarana untuk mewujudkan adanya para pemegang pengaturan-pengaturan dalam rakyat. Maka konsep mengenai demokrasi menurut al-Jabiri lebih tepat dimaknai dengan ide pemilu, hak bagi semua orang dalam masyarakat untuk memilih.

Persamaan Demokrasi

Awal dari ide tentang demkorasi, Al-Jabiri mengkritik konsep demokrasi dalam dunia barat yang diartikan sebagai kebebasan politik agar warga negara dapat melaksanakan kewajiban dalam memilih dan kebebasan ekonomi yang mengansumsikan bahwa setiap individu bebas melakukan kegiatan ekonomi berdasarkan sarana-sarana dan peluang yang dimilikinya tanpa adanya kontrol dari siapapun. Karena jika hal ini yang terjadi maka konsekuensinya adalah tiadanya demokrasi itu sendiri. Karena kebebasan politik dan kebebasan ekonomi hanyalah bagi mereka yang bisa menikmatinya, yakni hanya kelas pemilik modal. Mereka yang dapat mengontrol serta memanipulasi hasil pemilu dan menguasai kegiatan perekonomian sesungguhnya telah meniadakan demokrasi bagi masyarakat lapisan bawah.

Menarik ketika al-Jabiri memberi contoh bahwa ketika kita menanyai petani dimanapun mengenai apa yang mereka pahami dari demokrasi, maka dia akan menjawab, ia ingin memiliki tanah yang luas, sekian sapi, sebagaimana tuan anu yang bisa memiliki rumah megah dan mobil mewah. Pun dengan para buruh yang menginginkan pabrik untuk dikelolanya dan pedagang yang ingin memiliki toko yang besar. Dari sini demokrasi yang selama ini dipahami ternyata adalah sebuah angan-angan untuk memiliki persamaan dengan mereka yang berada di tingkat atas, bukan persamaan tingkat bawah. Dan ini tidak mungkin terjadi. Karena dimanapun ada pabrik tentu harus ada buruh yang menjalankannya, persis sebagaimana ungkapan sebuah pepatah: “saya tuan dan Anda tuan, lalu siapa yang akan menuntun keledai?”.

Demokrasi politik yang penulis artikan sebagai kebebasan kaum elit dan para penguasa, tidak secara mentah-mentah mesti kita tolak. Hal ini ditegaskan oleh al-Jabiri dengan mengatakan bahwa demokrasi merupakan sarana yang jika digunakan dengan baik akan banyak membantu menyingkapkan hakikat masalah sosial tersebut. Adanya parlemen, partai-partai, dan kebebasan pers, hendaknya dijadikan peluang dalam rangka menyadarkan rakyat dan mengarahkan rakyat pada perjuangan bagi hak-hak mereka. Tugas bagi mereka yang sadar, kaum intelektual yang telah bebas dari kelas tak berpunya namun terus hidup di dalamnya, tak berpisah dan memahami kepedihannya. sehingga kaum tertindas memahami bahwa demokrasi sesungguhnya, keadilan sosial, dan persamaan tidak akan bisa terwujud kecuali dengan perjuangan yang terarah pada tujuan. Yakni reformasi pertanian, menghapuskan feodalisme, dan tidak hanya demi perbaikan upah bagi mereka, tetapi yang lebih penting nasionalisasi pabrik-pabrik, industri-industri, pertambangan-pertambangan, dan transportasi-transportasi. Inilah jalan yang tepat menurut al-Jabiri untuk mewujudkan demokrasi yang sesungguhnya, demokrasi sosial.

Penulis: Balapikir Umi Ma’rufah, Rektor KSMW 2016