Notulensi Diskusi oleh Umi M.

Presentasi oleh Mahfudz Sulistyono diawali dengan menegaskan bahwa sosok Arkoun lebih banyak dikenal mengkritik Islam dengan menggunakan metode Barat. Arkoun terpengaruh dari banyak pemikiran tokoh Prancis. Ia tidak merasa puas dengan budayanya sendiri yang tidak berdaya melawan penjajahan barat. Sehingga ia ingin merekontruksi pemikiran Arab yang usang dengan pendekatan – pendekatan baru. Pendekatan-pendekatan itu berangkat dari berbagai disiplin keilmuan, seperti sosiologis, antropologis dan linguistik.

Kritiknya terhadap Islam tertuju pada turats atau tradisi klasik Islam. semua harus di rekontruksi dengan mengambil sari/ide masa lalu kemudian di bawa ke masa kini.  Ia banyak mendapat kecaman karena pemikirannya yang dianggap sebagai produk barat.

Arkoun mengambil secara khusus teori dekontruksi JJ. Derrida. Ia ingin menanyakan kembali apakah bahasa sudah merepresentasikan sebuah makna. Misalnya Al-Qur’an. Bahasa Al-Qur’an adalah bahasa lisan yang ditulis pada zaman Usman, yang merupakan produk sosial politik pada zamannya. Pembukuan yang dilakukan Usman telah mereduksi makna Al-Qur’an yang cenderung hanya dimaknai secara bahasa.

Bagi Arkoun, teks agama adalah simbol terbuka yang bisa ditafsirkan kapanpun. Ia mencontohkan jika memahami ayat innaddina indallahil islam adalah berarti sebuah penjustifikasian bahwa agama yang diridhoi oleh Allah adalah agama Islam, maka akan diambil pemahaman lain bahwa selain Islam adalah salah. Maka dalam memahami ayat tersebut harus ada penghancuran terhadap teks sebelum di rekontruksi. Harus dikaji pula pengaruh sosial politik ketika turunnya ayat tersebut.

Bagi Arkoun Ilmu fiqh, tasawuf, kalam, hadis adalah produk sejarah yang bersifat relatif. Ia dapat terus berkembang dan diperbarui.

Selain Derrida, Arkoun juga mengambil Teori historis antropologis dari Foucoult. Ini tidak lain karena Arkoun juga dekat dengan tradisi penulisan sejarah. Ilmu lahir tidak lepas dari sejarah dan keadaan sosial masyarakat. Seperti hukum pembagian warisan antara laki-laki dan perempuan dapat berubah sesuai kondisi yang dihadapi.

Arkoun curiga terhadap proyek ortodoks Islam. Menurutnya, bahasa l-Qur’an yang mulai dibukukan hanya akan mempertahankan epistemologi umat Islam yang baku. Dengan dinamika yang terjadi pada zaman khilafiyah muncul ilmu fiqh tasawuf yang menurutnya relative, dinamis, dan tidak ada yang final. Maka penafsiran dapat disesuaikan dengan kondisi sosial yang ada.

Kesalahan fuqoha dan ulama klasik terletak pada pemahaman bahwa bahasa adalah makna. Menurut Arkoun, nalar Islam yang dibangun ini hanyalah kebutuhan politik untuk melegitimasi kekuasaan agar dapat mengontrol pemaknaan wahyu. Sedangkan bagi Arkoun, nalar bersifat inklusif dan dinamis, serta tidak tunggal.

Arkoun membagi sejarah nalar Islam menjadi 4 era. Pertama, Era Fundamentalitas Islam, yaitu periode kenabian ini ditandai dengan terbukanya wacana-wacana keagamaan yang baru lahir dan sedang mencari jati dirinya, baik dalam ranah sosial maupun politik.

Era kedua, Era Jati Diri Nalar Islam Klasik, Yang ditandai pembasisan, pembakuan, dan pembukuan disiplin ilmu pengetahuan, terutama pada hukum syariah dan teologi. Era nalar Islam klasik ini dimulai sejak pertengahan abad pertama sampai penghujung abad keempat.

Ketiga adalah era skolastik ditandai dengan tenarnya al-Ghozali dengan tasawufnya. Dinasti Abasiyah mulai mundur. Era ini dimulai sejak abad ke lima Hijriyah. Era ini merupakan babak-babak era keterpenjaraan akal Islam. Jika pun ada dan bertahan, nalar ilmiah ini mesti ditopang oleh dukungan penguasa setempat.

Ke empat era modern, masa penjajahan barat ke dunia Islam. Pada era ini muncul kaum reaksioner seperti Afghani dan Abduh.

Bahasa adalah produk dari kondisi budaya. Corpus adalah badan pemerintah yang hanya mau mengakui satu jenis al-Qur’an.

Kemudian Pak Muhsin menerangkan bahwa Arkoun adalah tokoh yang prihatin terhadap bahasa yang dijadikan sebagai satu-satunya ukuran kebenaran. Terutama pada transformasi pembukuan Al-Quran. Menurutnya al-Qur’an adalah corpus terbuka, dinamis, dan bervariasi. Saat itu, pada saat kekhalifahan Usman bin Affan, keragaman itu menimbulkan problem terutama qira’ah. Ada proses pembukuan al-Qur’an yang ketika itu tercerai berai yang kemudian kita kenal Mushaf Usmani. Menurutnya, ini tidak lepas dari proses politik yang berlangsung. Pembukuan Al-Qur’an tersebut dilakukan karena menyangkut stabilisasi untuk meredam klaim keunggulan cara baca al-Qur’an. Ketika ada pembakuan, al-Qur’an sebagai corpus yang terbuka kemudian berubah menjadi corpus yang tertutup. Corpus adalah himpunan bahasa yang mengandung keutuhan ide, bisa berupa hukum dan himpunan tulisan suci.

Pentadwinan juga berlangsung dalam pemikiran Islam. Stabilisasi pemikiran Islam tercermin dalam kitab-kitab klasik tentang fiqih, tasawuf, aqidah, dan kalam akibat dari pengkodifikasian al-Qur’an. Dalam terminologi lain, terkait epistemologi islam, yang sangat dominan adalah epistem bayani. Bahwa kebenaran dicari semata dari teks. Ia mencoba untuk menghidupkan kembali Islam melalui dekontruksi dan pendekatan sejarah dan semiotik. Kajian historis diperlukan karena begitu Al-Quran menjadi wacana agama yang diterima Muhammad maka ia adalah tampil dalam bentuk bahasa. Dengan kata lain Al-Qur’an adalah himpunan tanda-tanda. Maka dalam AL-QUr’an ada pesan dan signifikansi yang ingin dituju.

Syaifudin Zuhri bertanya, pemikiran Arkoun dipengaruhi oleh siapa?

Kemudian Mahfud menjawab, tentang dekontruksi Arkoun dipengaruhi oleh JJ. Derrida, Foucault. Semiotikanya tidak terlepas dari Ferdinand de Saussure. Pemikirannya cenderung pada rasionalisme dan poststrukturalis prancis.

RIdwan juga bertanya, siapa orang Indonesia yang terpengaruh pemikiran Arkoun? Lalu untuk memahami pemikiran Arkoun yang berbeda lingkungan dengan Indonesia caranya bagaimana?

Jawaban Mahfud, Jika kita menganalisis proyek arkoun, maka kita akan mengambil konsep agama yang dinamis. Kita bisa mengontekskan nalar kritis arkoun dalam setiap pemahaman teks-teks Islam. Seperti gusmus yang hanya mengambil Islam sebagai media.

Ulil juga menimpali, kita tidak bisa mengklaim pemikiran seseorang terpengaruh arkoun atau tidak.

Dalam dekontruksi Derida suatu teks itu harus mengalami redefinisi.

Gusti juga menanyakan, Tidak disebutkan bahwa arkoun terpengaruh pemikir Islam, dia sepertinya hanya dipengaruhi oleh pemikir barat. Adakah salah satu tokoh Islam yang mempengaruhi Arkoun? Ia menggunakan metodologi barat untuk mengkritik Islam karena secara psikologis ia memendam kekecewaan terhadap umat Islam. Apakah dengan mengadopsi pemikiran Barat ia tidak akan semakin menjauhi tradisi Islam? Menurut saya, secara tidak sadar dia terjebak dalam tradisi barat. Tahap pertama dan kedua pewahyuan dipahami bersifat otentik. Tahap ketiga, ketika wahyu ini disampaikan oleh Nabi kepada umatnya ini mengalami kecurigaan. Jika kebebasan menafsirkan tidak dibatasi bukankah nantinya akan diplintir demi kepentingan pribadi atau golongan. Untuk memahami historis orang harus melepas pengaruh ideologis itu tidak mungkin. Sehingga metodenya akan sulit diterima.

Saya sendiri juga menambahkan, memang para pemikir Islam kontemporer kebanyakan hanya mengajukan metodologi dalam memahami Al-Qur’an, bukan sebuah produk tafsir Al-Qur’an utuh. Namun demikian tidak lantas semua orang diperbolehkan menafsirkan sesuka hati. Standar atau kualifikasi untuk menafsirkan teks AL-Qur’an masih tetap diperlukan, seperti pemahaman Bahasa Arab, sejarah dunia Arab dan kaidah-kaidah lainnya. Sehingga sekalipun seseorang merasa mampu menafsirkan, tidak serta merta dapat dipercaya. Akan dilihat kembali apakah ia memiliki kapasitas yang dibutuhkan untuk mendapatkan pemahaman yang tepat terhadap Al-Qur’an.

Sareadi menambahkan, yang melatarbelakangi pemikiran Arkoun adalah bagaimana Islam bisa menyatukan berbagai macam pemikiran dan aliran. Melihat sejarah al-Qur’an yang turun dari Arab. Al-Qur’an adalah manifestasi perwujudan Islam, saya rasa dia menawarkan formulasi baru bagaimana Islam itu relevan dengan sekarang.

Ulil: dari sisi teologis saya pikir dia tidak terjebak. Ia hanya mengkritik konsep-konsep hukum fiqh, kalam dan pembakuan ilmu dalam Islam lainnya. Sehingga pemikirannya tidak secara frontal bertolak belakang dengan Islam.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here