Diskusi keislaman yang berlangsung Rabu, 22 Maret 2017 adalah membahas tentang Pemikir Islam Kontemporer bernama Muhammad Iqbal. Pada presentasinya, Ulil Absor menjelaskan tentang biografi lalu pokok-pokok pemikiran M. Iqbal. Iqbal Lahir pada tahun 1776. Namun ada juga sumber lain yang menyatakan bahwa ia lahir di tahun 1773. Iqbal memulai karir intelektualnya di Punjab.

Pemikiran Iqbal ini meliputi berbagai aspek. Diantaranya adalah mengenai dua sumber ajaran Islam. Ia memandang Al-Qur’an tidak hanya sebagai sumber hukum yang sifatnya doktrinal tapi juga sumber-sumber etika dan moral. Juga pandangannya terhadap hadis, menurutnya meskipun hadis dikemukakan nabi untuk umatnya waktu itu, namun maknanya adalah universal baggi seluruh umat muslim.

Setelah mempresentasikan papernya, maka dibukalah sesi tanya jawab dan tanggapan. Tanggapan pertama adalah dari Badrudin. Ia menambahkan bahwa Iqbal juga mengkritik pemikiran tasawuf dan Zuhud dalam Islam. menurutnya paham ini memundurkan Islam karena memiliki konsep untuk memasrahkan segalanya kepada Tuhan dan melupakan segala hal tentang duniawi.

Setelah itu Ulil juga menambahkan, menurut Iqbal antara sesama umat Islam itu tidak bisa menyatu dan terlalu terkotak-kotakkan. Maka kemudian Iqbal mencetuskan bahwa umat Islam harus punya negara sendiri. Inilah pedoman berdirinya negara Pakistan.

Pemikiran Ulil juga mendapat kritik, salah satunya dari seorang orientalis bernama Rosental. Ia berpendapat bahwa pemikiran Iqbal itu mengadopsi konsep kepasturan agama katolik.

Setelah berbagai tanggapan itu,  muncul pertanyaan dari Gusti. Konsep negara apa yang ditawarkan Iqbal? Lalu bagaimana konsep eksistensialisme Iqbal?

Jawaban Ulil adalah pemikiran Iqbal ini tak jauh dari pemikiran Islam sebelumnya, yakni menginginkan terjadinya panislamisme. Bahwa Islam harus punya negara sendiri. Yang konsep ini kemudian benar-benar dijalankan oleh Syah Ali Jinnah. Ulil juga menjelaskan bahwa Iqbal mengembangkan pemikirannya dari berbagai disiplin ilmu, diantaranya falsafah, ilmu sosial, sastra, dll. bahkan pokok-pokok pikirannya cenderung tertuang dalam syair-syairnya.

Setelah diskusi diantara peserta, kemudian Pak Mukhsin masuk untuk menjelaskan dan menambahkan. Ia kembali mengingatkan bahwa pemikiran tokoh itu tidak lepas dari konteks  dan tidak hampa dari ruang dan waktu. Begitupun Iqbal yang tidak lepas dari dinamika umat Islam dan India kala itu. dimana India sejak abad pertengahan ditandai kemunduran dan diperparah dengan kolonialisme.

Awalnya negara Inggris berkepentingan untuk mencari sumber daya alam untuk Eropa. Tulang punggung kolonialisme adalah perdagangan. Lalu berubah dari perdagangan yang berbasis kapitalisme dagang menjadi kapitalisme industrialis. Salah satu proses pencarian pasar adalah menentukan negara sasaran. Dari situ muncul perbedaan sikap antara muslim dan hindu mengenai kolonialisme. Maka mulailah terjadi perpecahan di India. Dinamika masyarakat India yang demikian menjadi fakta pembentuk pemikiran Iqbal.

Dalam pemikirannya mengenai kenegaraan, Iqbal ingin India bangkit sebagaimana Turki. Saat itu Turki masih merupakan negara penting meski sudah menghapuskan kekhalifahan pada 1924. Iqbal pada awalnya percaya bahwa umat Islam dan Hindu dapat disatukan, namun ternyata sulit. Lalu Iqbal menawarkan konsep baru, yaitu bahwa masing-masing agama harus memiliki kebangsaan sendiri-sendiri. 1930 Iqbal mencetuskan kemungkinan untuk pembentukan bangsa (all India Moslem Liga).

Sebenarnya Pakistan bukanlah keluar dari M. Iqbal. Nama Pakistan adalah gabungan nama dari berbagai daerah. Nama ini dicetuskan oleh Hudhori Rahmat Ali yang kemudian membentuk satu negara terpisah oleh Ali Jinnah.

Pokok-pokok pikiran Iqbal atas kemunduran umat Islam ada dalam karyanya yang berjudul rekontruksi pemikiran Islam. buku ini merupakan kritik Iqbal terkait dengan fondasi pemikiran Islam yang terdampak kemunduran. Diantaranya masih banyaknya pemikiran yang jumud dan pandangan statis terhadap dunia dan alam semesta. Pandangan inilah yang kemudian terefleksi sebagai pola keagamaan yang bersifat taqlid. Iqbal menolak pemikiran tersebut. maka ia kemudian menawarkan cara pandang dinamis yang dinamakan dengan filsafat gerak. Dianalogikan dengan semesta yang seperti ini karena adanya gerakan dinamis dan tarik-menarik antar unsur atom., Iqbal berpandangan bahwaa eksistensi manusia juga bisa dilihat dari dinamika dan kreativitasnya. Bahwa sesungguhnya manusia secara esensial adalah saingannya Tuhan melalui berbagai kreativitas ciptaannya. Contohnya Tuhan menciptakan tanah, manusia menciptakan tembikar, dsb.

Tentang pemikiran hukum, Iqbal sempat merumuskannya dalam Reconstruction of Islam Prudent, namun tidak selesai. Inti buku tersebut adalah bahwa Iqbal ingin mengfungsikan lagi Ijma’. Tiga hal yang perlu dikontruksi ulang bagi Iqbal adalah pemahaman al-Qur’an, sunnah, dan Ijma’. Karena dulu masyarakat sulit menerima pemikiran baru, maka dibentuklah dewan ijma’ (dewan legislasi Islam). Gagasan ini ia sampaikan berdasarkan kajian terhadap pemerintahan Iran terutama pada masa sebelum dinasti Pahlevi. Bahwa ulama dalam Syiah terpisah dari proses pengambilan hukum. Sementara di sisi lain, ada lembaga legislatif sendiri sebagai penentu hukum. Bagi Iqbaal, sistem semacam ini tidak tepat bagi Islam. Ijma’ itu harus terintegrasi dalam pengambilan hukum dan politik negara. Namun sayang karyanya ini belum trlalu tereksplorasi karena kemudian Iqbal disusul oleh kematiannya.

Iqbal adalah termasuk tokoh yang menjalin relasi yang baik dengan tokoh-tokoh Hindu seperti Nehru dan Ghandi.

Lalu Mahfud bertanya kenapa disana (di India) tidak ada ideologi bersama seperti halnya Indonesia dengan Pancasilanya?

Lalu pak Mukhsin mulai menjelaskan. Islam India dulu pernah berjaya dalam dinasti Mughal. Iqbal hidup dalam bayang-bayang imajinasi kejayaan masa lampau ini. Ada juga gagasan  dari Ali Akbar menginginkan agama yang satu (Dinullah) untuk mempersatukan umat manusia. Namun tetap saja konsep ini mampu tertolak karena bagi umat Hindu hal itu sulit dipahami, sedangkan dalam Islampun ini menjadi sesuatu yang kontroversial.

Dinullah ini barangkali sama seperti Amerika yang menggunakan God bukan sebagai sebutan Tuhan dalam agama tertentu. God di Amerika menurut pandangan Robert Pila adalah simbolisasi agama sipil di Amerika untuk menyatukan masyarakat. Saat itu, India belum bisa mengkonsepsikan Ideologi untuk menyatukan umat.

Kritik Iqbal juga mengenai paham tasawuf. Ia menyesali paham tasawuf karena baginya tasawuf itu asing dalam Islam. Namun sesungguhnya pandangan ini bisa dibantah. Secara historis kita mengenal ahlussufah sebagai salah satu aliran tasawuf yang sangat sederhana. Paham ini justru lahir dari banyaknya ajaran Islam yang mendorong kita untuk asketis (sederhana dan tidak berlebihan). Islam juga mencela terhadap penumpukan harta yang berlebihan. Belum lagi praktik kehidupan nabi yang sangat ketat. Bukankah nabi menerima wahyu dengan cara uzlah, mengasingkan diri. Konsep tasawuf sudah ada dari sejak kehidupan Nabi jadi bukan barang asing. Meskipun diakui bahwa hidup asketis juga diinspirasi dari kehidupan kristiani, yang menjadi salah satu kebudayaan yang ditemui oleh Islam dalam ekspansi ke dunia lain.

Gusti bertanya tentang bagaimana pengaruh pemikiran Islam modern ini terhadap kelompok-kelompok seperti Persis dan Al-Irsyad?

Saya punya penelitian agama judulnya nalar Islam Nusantara yang membahas tentang perbedaan mendasar dari 4 organisasi (Persis, Al-Irsyad, NU, Muhammadiyah) dari segi manhaj berpikir. Kita mestinya jujur dalam melihat sejarah. Persis itu transformasi dari kelompok-kelompok Islam yang tidak cukup terakomodasi dalam proses pendirian NKRI. Maka basisnya hanya di Jawa Barat dan tidak bisa meluas. AL-Irsyad adalah pecahan dari Muhamadiyah yang berawal dari perdebatan mengenai Kafa’ah. Kafa’ah adalah keharusan kaum sayyid dan syarif menikah sesamanya. Lalu muncul pertanyaan, bagaimana kalau syarifah itu menikah dari luar golongannya? Bukankah Islam menjunjung tinggi kesetaraan dan tidak membeda-bedakan? Maka kemudian lahirlah Al-Irsyad yang memandang tidak pentingnya kafa’ah.

Kalau NU dan Muhamadiyah jelas merepresentasikan kontribusi dalam kemerdekaan. Secara sossioreligius kita harus mengakui bahwa negara ini juga milik kedua ormas ini. Terutama mengenai dasar apa kehidupan bangsa dan negara pasca kolonial. NU menerima NKRI dan Pancasila sebagai ideologi yang final dari sejak awal perumusannya. Dan penerimaan Pancasila secara formal diakui Muhamadiyah pada tahun 1985. Sedangkan Persis adalah transformasi dari salah satu keompok yang menginginkan model agama sebagai dasar negara. Sampai hari ini masih berlangsung kontroversi tentang model agama yang seperti apa yang ingin dijadikan dasar negara. maka sikapnyapun terpecah belah juga dalam menyikapi kehidupan kebangsaan.

Titik pertemuan PKS dengan Persis dan HTI lebih banyak berhimpitan. Ada  saling silang antara ormas agama dengan perpolitikan bangsa ini. Ada hipotesis bahwa organisasi seperti itu tidak akan besar karena tidak adanya penghargaan terhadap sejarah dan budaya.  Puritanisme adalah gejala seluruh agama namun tidak bisa menjadi kuat dan tidak ada yang abadi. Protestan juga hancur di Eropa oleh proses pembaharuan. Ia akan dipaksa untuk akomodatif. Yang spele-spele saja sudah bisa menjadi senjata kritik.

Iran termasuk negara yang relatif berhasil dalam mengakomodasi Islam dan modernisme. Yakni          adanya Wilayatul Faqih (dewan ulama) sebagai keterwakilan ulama bagi masyarakat. Dalam memilih ulama ini ada proses seleksinya, jadi bukan sembarangan. Dalam syiah hirarki ulama dibagi  3:

  1. Al-Alamah
  2. Hujatullah
  3. Ayatullah

Ayatullah ini yang menduduki wilayatul Faqih, keterwakilan orang-orang terpilih. Nah disinilah kekurangan negara kita. Kita meniadakan seleksi pengetahuan untuk orang-orang yang akan menduduki jabatan penting di pemerintahan. Di negara kita tidak ada proses pendidkan politik dan seleksi mengenai kapasitas dan kompetensi. Meskipun mengusung semangat demokrasi, tapi tetap saja kualifikasi terhadap calon pemimpin harus dipertimbangkan. Sekarang ini kan syarat mencalonkan diri di DPRD minimal SMA. Parahnya justru mereka yang pengangguran dan tidak paham permasalahan bangsa. Maka partai politik harus melakukan seleksi pendidikan politik.

Kekurangan dari model pemerintahan Iran adalah kekuasaan mutlaknya. Namun sudah lebih baik daripada Arab. Di Iran, perempuan jadi sopir sudah biasa, tapi di Arab masih tidak boleh. Maka sekarang ini Arab baru mengadopsi keterwakilan perempuan. Apalagi kalau sampai ada ratifikasi hak laki-laki dan perempuan di negara-negara Timur Tengah.

Mendefinisikan kembali agama dan negara ini rumit. Kebanyakan dari kita ini egois. Melarang pemimpin dari nonmuslim, tapi di negara lain yang mayoritas nonmuslim, ketika ada muslim yang mau jadi pemimpin kita dukung habis-habisan.

Maka di Indonesia ini saya mencoba merumuskan konsep Civil Islam. Yaitu menerima konsep demokrasi dan pancasila. Islam mengajarkan keadaban pubik ketimbang keyakinan sempit. Cobalah kita menerima Pancasila atas panggilan Islam. 90% hidup kita mubadzir jika masih berkikiran sempit. Dan sebaliknya, jika kehidupan sehari-hari kita landasi dengan semangat menjalankan keyakinan agama maka sudah jadi pahala semua itu. misalnya berhenti ketika lampu merah, ketika kita meyakini bahwa peraturan ini dibuat juga atas dasar hifdunnafs, maka sesungguhnya kita hidup berdasarkan keyakinan agama. Kalau masyarakat muslim mengakui bahwa negara ini adalah negara kebangkitan islam, tidak ada lagi yang akan mencoba mendirikan negara Islam.

Lalu Fifi menanyakan tentang pandangan Iqbal mengenai ideologi kapitalisme dan sosialisme.

Pak Mukhsin menerangkan, bahwa saat itu kapitalisme sedang tumbuh di Inggris. Menurut Iqbal dari situlah kemudian mengakibatkan marginalisasi dan penghisapan dunia ketiga oleh Eropa. Di eropa timur juga tumbuh kolonialisme juga. Saya pernah berkunjung ke bekas penjajahan uni soviet. Praha menjadi luar biasa. Ceko sekarang seimbang dengan Prancis dari segi wisata. Itu karena mereka juga mengusung Kapitalisme. Penjajahan berakhir pada saat pasca perang dunia kedua. Meskipun sudah ada perubahan politik, secara kultural dan ideologis masih ada peperangan, perang dingin.

Di sisi lain, bagi Iqbal sosialisme itu bukan solusi karena mereka komunistis yang anti Tuhan, sedangkan barat juga tidak karena kapitalisme yang melakukan penjajahan luar biasa. Ada yang mengatakan Islam itu sosialisme + Tuhan. Jika dilihat dari perspektif sosiologis berdasarkan tesisnya Weber, kapitalisme itu tumbuh dari semangat agama, yakni agama Protestan. Namun kemudian ditopang oleh prinsip individualisme yang sangat bebas dalam sistem ekonomi pasar. Sehingga kemudian jauh dari prinsip religius.

Mahfud menanyakaan, bagaimana kita menanggapi prinsip kecukupan sebagaimana disampaikan oleh Anwar Zahid?

Tanggapan Pak Mukhsin, kita ini terlalu banyak mengkonservasi. Orang tidak pernah berpikir yang baik untuk masa depan. kita harus terbuka secara kritis terhadap pemikiran-pemikiran baru. Dan terbuka dengan perubahan. Mulai memahami mana yang tetap danmana yang berubah dalam Islam seperti al-Jabiri dan adonis. Kepentingan konservasi kreasi dan progresi harus seimbang. Bid’ah itu wajib. Adat itu menjadi sumber hukum. Al-Ma’ruf adalah kebaikan kontekstual. Al-Qur’an menyerukan tiga hal:

  1. Harus ada umat Islam yang menyeru kebaikan universal.
  2. Mengajak kepada kebaikan kontekstual (Al-Ma’ruf), kesepakatan lokal, logis dan kebutuhan.
  3. Kerangka Iman kepada Tuhan.

Kita harus melakukan rekonstruksi pemahaman khazanah Islam di masa lampau untuk menerima modernitas secara kritis.  Kita sudah harus membicarakan perkembangan ilmu positif sebagai landasan pembangunan umat, bukan melulu ilmu normatif fiqh, tentang benar salah. Sekarang harus dikembangkan konsep-konsep maqashid syariah untuk membangun kehidupan. Kita punya fiqh siyasah tapi isinya bukan tata negara, paling sekedar cara memilih pemimpin. Ketertinggalan kita disitu, karena tidak pernah beranjak dari ilmu normatif ke positif. Seperti itu di Eropa sudah selesai. Karena dulu sudah pernah mengalami masa kegelapan itu.

Fifi menanyakan tentang pengajaran filsafat bagi anak-anak seperti di Eropa.

Menurut Pak Muhksin, Filsafat itu terhormat sekali di luar negeri. Akademinya sudah mengharuskan ending keilmuannya adalah filsafat. Yang punya standing point teoritis terhadap kajiannya.

Begitupun mengenai spesialisasi keilmuan, disana adalah dari sejak SMA. Namun sekarang sudah mulai ada perkembangan. Sekarang ini kajian ilmu menuntut kita untuk memahami ilmu lain yang menyangkut terkait ilmu itu. seperti Ekonomi tidak mungkin dipelajari tanpa tahu Ilmu Sosial. Di utrech, proses inovasi harus menginterkoneksikan antar bidang keilmuan.  Di Eropa tendensinya sudah tidak terpisah-pisah. Curtural Studies dianggap sebagai Undiscipline Rediscipline. Hubungan antar ilmu sudah mulai dibangun. Gery itu ahli fisika yang pernah mengajar di UKSW mendapat gelar profesor di bidang sejarah. Dari beberapa orang yang saya temui di Eropa sana itu ya menguasai itu-itu saja, kalau kita kan kompleks.

Pesan Pak Mukhsin: Intelektualisme itu tidak mungkin massif. Asal istiqomah sudah bagus.

Noted by: Umi M.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here