Oleh : Umi Ma’rufah

Berawal dari kegelisahan penulis akan semakin banyaknya mahasiswa yang kurang memahami peran dan tanggungjawabnya sebagai mahasiswa – apalagi kalau gak the agent of change, the agent of control, the iron stock – penulis merasa perlu memaparkan perihal satu prinsip yang diyakini oleh mahasiswa (terutama para aktivis) sejak dulu, yakni “Dosa Besar Mahasiswa”.

Dulu semasa penulis masih semester satu, ketika zaman belum ada Whatsapp, penulis sering mendapat sms dari salah seorang senior. Ia mengirim pesan yang berisikan cuplikan buku, kutipan tokoh, atau sekedar bertanya tentang suatu hal dan akhirnya menyuruh untuk baca buku. Suatu hari ada satu sms yang berbunyi empat dosa besar mahasiswa.

Karena informasi dulu tak sebanjir sekarang, tentu saja pesan-pesan pribadi itu kubaca. Apalagi kata-katanya yang provokatif sudah pasti membuatku penasaran. Nggak kayak sekarang, informasi datang menghampiri tanpa diminta, tapi karena kita yang malas membaca, pesan yang dikirim broadcast ke grup itu biasanya tenggelam dan tak terbaca.

Kembali ke sms tadi, sebetulnya yang dikirim oleh seniorku itu juga pernah ditulis oleh – dan mungkin saja diambil dari tulisan – seorang mahasiswa FUPK, balapikir KSMW, bernama Abdullah Badri di dalam bukunya Kritik Tanpa Solusi. Empat Dosa Besar Mahasiswa itu di antaranya, Satu, tidak mau membaca, baik itu membaca buku maupun membaca realita sosial. Mahasiswa yang malas membaca akan berakibat buruk pada tumpulnya nalar kritis dan pengetahuan terhadap segala sesuatu. Membaca adalah hal mendasar dan wajib hukumnya bagi mahasiswa. Ingat pesan Nabi, iqra’! Bacalah!

Dua, enggan berdiskusi. Mahasiswa boleh saja telah membaca banyak buku dan mengetahui banyak hal dari sana, tapi selama ia enggan mengikuti diskusi, maka ini dapat berakibat tidak baik. Pertama, ia akan berhenti pada keyakinannya akan suatu pengetahuan. Dari sana akan timbul pikiran satu dimensi yang melahirkan fanatisme, di mana ia akan cenderung menolak pemikiran lain karena jarang atau tidak pernah dipertemukan bahkan dipertentangkan dengan pemikiran lain itu. Kedua, ia akan menjadi orang yang tidak mudah menyampaikan pendapat atau gagasannya karena tidak pernah menggunakan forum-forum diskusi untuk mengasah kemampuan ini. Maka sangat berdosa mahasiswa yang tidak mau datang dan aktif berdiskusi.

Tiga, tidak mau menulis. Jika ada yang bilang menulis adalah soal bakat maka jangan pernah menjadi mahasiswa. Karena mahasiswa dituntut untuk bisa menulis, dengan atau tanpa bakat. Ingat makalah? Ingat skripsi? Ya meskipun kita akui masih ada yang sekedar copas sana sini, tapi prinsipnya adalah mahasiswa harus bisa menulis. Tentu yang dimaksud penulis di sini menuliskan gagasannya tentang suatu hal. Ingat kata mbah Pram, “orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang dari masyarakat dan dari peradaban. Menulis adalah bekerja untuk keabadian”. Begitu kira-kira.

Empat, tidak mau bersosialisasi. Mahasiswa yang cenderung individualis, hanya sibuk dengan dunianya sendiri dan enggan berorganisasi merupakan pelaku dosa ini. Termasuk mahasiswa yang hanya nyaman dengan komunitas atau organisasinya. Mereka yang demikian hanya akan menjadi singa di kandangnya, dan menjadi kucing di luar komunitasnya. Dapat pula dikatai sombong dan seringkali menganggap yang lain tidak lebih baik darinya. Mahasiswa yang dituntut untuk bisa mengenal lingkungan dan orang-orang di sekitarnya mestinya mau belajar bersosialisasi dengan berbagai elemen mahasiswa dan civitas akademika di kampus, terlebih di lingkungan masyarakat lainnya. Sebab koneksi sangat dibutuhkan untuk membentuk kepribadian yang aktif dan peka terhadap realita sosial.

Meski yang penulis dapatkan ketika itu adalah empat dosa besar mahasiswa, penulis merasa ada satu dosa lagi yang seharusnya disadari mahasiswa. Yaitu tidak mau aksi. Aksi menjadi bentuk pengabdian mahasiswa dalam turut serta mengawal dan mengadvokasi permasalahan sosial yang terjadi di lingkungan dan negaranya. Bisa dibilang aksi merupakan fardhu kifayah bagi seluruh mahasiswa. Karena memang tak semua suka, tapi harus ada yang mau melakukannya. Apalagi bagi aktivis organisasi gerakan.

Tapi sekarang muncul pertanyaan, apa aksi turun jalan itu masih relevan? Sedangkan advokasi tidak hanya bisa dilakukan dengan cara itu, melalui twitwar misalnya? Bagi penulis itupun boleh dikatakan aksi, tapi sekarang mana wujudnya? Jangan sampai kecanggihan media sosial menjadi sekedar alih-alih mahasiswa enggan turun jalan ya. Dosa.

Entah apa sekarang mahasiswa masih memahami kelima hal ini sebagai keyakinan dalam menjalani laku kemahasiswaannya, penulis masih ragu. Tetapi setidaknya kesadaran untuk menghindari dosa-dosa itu masih terus diupayakan sebagian mahasiswa kendati sebagian besarnya merasa tak ada beban ketika meninggalkan dosa dosa ini.

Peran menjadi mahasiswa seperti penulis singgung di awal, sebagai agen perubahan hendaknya mau melakoni kelima kewajiban ini. Jangan mahasiswa menjadi heroik, merasa wah, melakukan segala sesuatu semaunya dan merasa benar dengan dalih masih tahap belajar. Sebab, sesungguhnya kesalahan itu bisa dihindari jika kita menaati prinsip-prinsip menjadi mahasiswa. Dengan demikian, penting sekali bagi mahasiswa yang terlanjur melanggar ini untuk bertaubat atas dosa-dosa yang telah dilakukan sebelum terlambat.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here