Judul               : Korupsi

Penulis             : Pramoedya Ananta Toer

Penerbit           : Hastra Mitra

Tahun terbit     : 2002

Halaman          : 160 halaman

ISBN               : 979-8659-26-0

Resentator       : Hasan Ainul Yaqin

Indonesia telah merdeka, rupanya kemerdekaan bukanlah jaminan menuntaskan permasalahan yang menggerogoti relung bangsa ini, jika kejahatan yang mengakibatkan kerugian  negara belum dicegah, atau belum ditindak secara serius oleh negara itu sendiri, sebagai pemegang kendali kapal yang berlayar di atas garis katulistiwa dengan kekeyaan melimpah ruah bernama Indonesia. Maka inilah sebenarnya pekerjaan rumah generasi berikutnya setelah menghadapi badai kolonial yang mengguncang mensayat- sayat hati masyarakat Indonesia.

Sekian tahun lamanya, bangsa ini bertekuk lutut menjadi pengemis dan budak di tanahnya sendiri. sistem kerja paksa dan romusha yang ditanam penjajah membuat masyarakat semakin tidak berdaya. Kemiskinan merajalela, pengangguran dideritanya, busung lapar dari hari kehari semakin meningkat.  Semua itu dilakukan oleh kolonial yang tidak tahu diri menyiksa batin fisik masyarakat yang dijajahnya. Melihat kemerdekaan yang diraihnya, sudah seharusnya penyiksaan terhadap masyarakat diberhentikan. jika tidak, kita mengamini apa yang disampaikan Soekarno bahwa kita melawan bangsa kita sendiri. Bukan lagi penjajah.

Korupsi adalah musuh kita bersama yang harus dilawan. Memberi penghormatan terhadapnya merupakan kesalahan fatal dan dosa besar. Betapa tidak, pembangunan mangkrak akibat korupsi, pendidikan seharusnya berjalan lancar menjadi tertatih-tatih akibat dana pendidikan disalah gunakan entah kemana, pembangunan daerah mulai kota, kabupaten, hingga desa  yang seharusnya selesai dengan target tertentu menjadi kenangan pahit sebagai panggung derita orang banyak.

Sungguh ironis, koruptor sebagai penjahat negara yang disel di kandang tahanan  diperlakukan tidak sebagaimana narapidana lainya. Dibiarkan bebas berkeliaran, difasilitasi dengan lengkap, bahkan kunci tahanan dipegangnya sendiri. sistem sel semacam ini merupakan sebuah penghormatan negara kepada mereka penjahat yang telah menindas orang yang seharusnya diperjuangkan haknya justru sebaliknya, Dihinakan. Meminjam istilah pemikir Iran Murtadha Muthahhari, menghormati pemimpin yang zalim, sama halnya menghinakan mereka yang dizalimi. Dan koruptor adalah pelaku kezaliman.

Hukum Harus Ditegakkan

Senjata hukum yang diupayakan menumpas kejahatan, rupanya masih tumpul ke atas dan tajam ke bawah. Sementara kejahatan korupsi yang merugikan keuangan negara semakin ke belakang semakin menjadi – jadi. Tentu jangan bilang merdeka jika Kemerdekaan Indonesia yang diraihnya masih banyak menyisakan persoalan yang menjadi PR bagi pemikul kebijakan negara saat ini. Salah satunya korupsi.

Korupsi adalah Penyakit mulai sejak dulu hingga sekarang semakin merajalela. Seperti novel yang diulas dalam tulisan ini berjudul korupsi. karya Pramoedya Ananta Toer ini ditulis pada 1953. Kejadian itu, menandakan bahwa korupsi tidak ada habisnya dibahas, dan tidak pernah berhenti ditaubati oleh pemimpin bangsa ini hingga kini.

Oleh karena itu, detuman Revolusi belum selesai kata Soekarno harus terus digemakan, agar negara tidak merasa hangat tidur pulas dari mimpi panjangnya. Seakan tidak merasa bahwa dirinya harus segera diobati. Agar penyakit yang merongrong tubuhnya tidak semakin menjadi-jadi. Seperti virus kanker yang mematikan segenap tubuh elemen khususnya rakyat Indonesia.

Korupsi merupakan sederet kasus yang belum tuntas diberantas sampai detik ini. kejahatan ini bukanlah kejahatan sepele sehingga  pelakunya tidak pantas mendapat penghormatan dari hukum yang menyeretnya. Hukum tetap ditegakkan kepada siapapun meski  langit runtuh (ruat justitia fiat caelum), dan perlakuan sama dihadapan hukum sudah seharusnya diberlakukan(equality before the law). Apalagi  korupsi, kasus merugikan negara yang menyengsarakan orang banyak sudah saatnya ditegakkan seadil adilnya.

Baru kemarin, pemerintah berupaya membentuk Tim Nasional pencegahan korupsi menyusul diterbitkannya peraturan presiden Nomor 54 tahun 2018 tentang strategi nasional pencegahan korupsi. Strategi yang dicanangkan pemerintah adalah bukti bahwa penyakit korupsi sudah menjalar ke berbagai sektor dan harus segera dibasmi. Sehingga tidak cukup dibasmi oleh kepolisian dan Komisi Pemberantas Korupsi (KPK) saja.

Pramoedya Ananta Toer adalah sastrawan terkemuka dimiliki Indonesia. Namanya terbentang luas ke berbagai negara karena karyanya yang mengulas secara tajam dan penuh keberanian membuka tabir sejarah negaranya sendiri. sehingga karena keberanian menggeranyangi dadanya itulah, ia tidak pernah gentar melontarkan kritik pedas dan tajam melalui karya sastra  kepada pemerintahnya. Meski harus menanggung beban mendekam di balik jeruji bertahun – tahun lamanya. semasa orde lama terlebih orde baru.

Pram sapaan pengagumnya, sudah banyak karya lahir dari penanya. Buku Tetralogi yang menjadi novel monomentalnya selain karya lain, masih laris dijual di toko buku dan relevan dibaca untuk membuka ingatan sejarah Inonesia dari masa ke masa. Pram selalu merspon dan tanggap atas kejadian sekitarnya selama ia hidup.

Berbagai Motif Korupsi

Korupsi menurut Pram sudah sekian lamanya penyakit ini mengintai pejabat kita berbagai motif sebagai alasannya. Novel berjudul Korupsi ini, mengisahkan lelaki tua yang bekerja di birokrasi negara berstatus pegawai. Karena gajinya yang diterimanya sedikit, sementara keluarga butuh penghidupan layak, dan pendidikan tinggi buat anak – anaknya. Kemudian fikiran oran tua itu terusik untuk segera ambil langkah yang dapat membahagiakan mereka, apun caranya.

Melihat kawan kerjanya dapat memenuhi kebutuhan hidup keluarga dan menyekolahkan anak-anaknya, fikiran orang tua inipun menduga dan dihantui rasa kecurigaan bahwa mereka tidak hanya menerima gaji tetapi mengambil jatah yang tidak seharusnya ia terima yaitu dengan jalan mengkorupsi uang negara. Nafsu berkorupsipun terbesit dibenak lelaki tua ini.

nilai kebaikan yang sudah sekian lamanya ia pertahankan dan lakukan tiba tiba dibayang – bayangi nafsu korupsi, Nafsu memuaskan diri. Difikirannya tidak lagi bicara kebaikan dan keburukan, apabila nafsu memuaskan diri sudah menggerogoti jiwanya. Nilai agama tidak lagi dihiraukan, nasehat orang lainpun tidak didengar, bahkan istrinya sendiri.

Yang ada bagaimana ia bisa memenuhi kebutuhan istri, membahagian anak – anaknya, membeli rumah, membangun apartemen, mengoleksi mobil mewah, dan bagaimana ia memenuhi hasrat birahi pada aspek materialisme semata. benar sebagaimana yang diungkapkan sosiolog Abraham Maslow, bahwa manusia tidak pernah merasakan apa yang namanya kepuasan. Manusia mengejar sesuatu yang diraihnya, apabila sesuatu sudah diraih, ia mengejar kembali sesuatu yang lebih tinggi diatasnya.

Fikiran orang tua ini selalu diintai kerisauan. Kerisauan dirinya telah menghilangkan ketenangan dalam hidup bersama istri atau bersama keempat anakya. Kalau nafsu menguasai nilai materialisme mendominasi jiwanya, anak istri tersingkirkan. Kebaikan berubah kejahatan, kepedulian terhadap anaknya tiba tiba berubah menghadirkan amarah dan menghardiknya. Ketenangan dalam suasana adem bersama keluarga menjadi tampak gelisah yang dihantui oleh rasa takut, mawas diri dan peperangan batin menjadi kacau balau.

Ketika wajah lelaki tua ini tampak gelisah, sikapnya tidak seperti hari-hari biasanya, mulai menuai kecurigaan penuh tanda Tanya pada istrinya, Mariam. Mengapa suaminya (lelaki tua ) belakangan sikapnya berubah.?

Agar tidak saling manaruh curiga antara keduanya. Suami memberanikan diri bercerita pada sang istri, kalau ingin menjadi keluarga bahagia dan dapat menyekolahkan anaknya sampai perguruan tinggi maka harus cari strategi lain, dengan cara cepat meski akibatnya harus dirasa di kemudian hari. Yaitu berkorupsi.

Istrinya tidak menyetujui cara suaminya mencari harta dengan cara hina itu. Karena istri tidak mendukung visi misi lelaki tua ini, kemarahanpun dihardiknya kepadanya. Hingga berujung pertikaian tiada henti. Dan menuduh istrinya sebagai biang keladi yang tidak tahu diri. Begitulah apabila nafsu mengusai diri manusia pram menggambarkan. Istri tidak lagi diperlakukan sebagaimana mestinya. Kekerasan dalam rumah tanggapun terjadi demi mengejar keuntungan belaka.

Lalu lelaki tua ini pisah rumah dengan istri dan anak -anaknya. Karena sudah memiliki harta banyak hasil korupsi, ia percaya diri kalau dirinya masih laku pada orang lain yang jauh lebih muda dan juga cantik disbanding istrinya. Gadispun tidak akan menolak diajak nikah dengan pria beranak empat asal dompet penuh duit.

Kawinlah ia dengan gadis bernama Sutijhah. Gadis  manja yang selalu kurang jika uang belanja tidak cukup menurut kadar ukurannya. Tentu tidak bisa dibandingkan dengan istri pertama Mariam, wanita yang selalu menerima apa adanya hasil jerih payah suaminya meski itu tak seberapa. Karena tergoda pada kecantika Sutijhah. Rumah mewah, mobil, dan segala harta bendanya ia atas namakan istri keduanya, Sutijhah.

Pram mengulas, prilaku korupsi menjadikan target pekerjaan terabaikan, pekerjaan yang seharusnya selesai dengan jangka terntentu harus tertunda yang entah kapan itu selesai. Selama uang negara dikorupsi selama itu pula pembangunan sulit terealisasikan, dan pengentasan kemiskin adalah sebuah mimpi jika keuangan negara dikeruk memenuhi saku pribadi pejabatnya. (hlm 114)

Korupsi Kejahatan Kemanusiaan

Dalam analisis hak asasi manusia, korupsi bukan lagi soal kejahatan terhadap negara, melainkan kejahatan yang melahap habis hak asasi manusia. Itulah sebabnya mantan Hakim Mahkamah Agung Artidjo Alkostar ketika menghakimi terdakwa koruptor hukuman berlipat ia putuskan. Karena baginya, mengapa kemiskinan masih merangkak, mengapa banyak anak tidak mengenyam pendidikan, mengapa pengangguran belum bisa dituntaskan, mengapa pembangunan belum kunjung selesai ? tentu sumber malapetakanya berada pada koruptor. Penjahat busuk yang harus dimusnahkan dengan hukuman seberat – beratnya yang menjerakan.

Seperti diceritakan dalam novel ini, melancarkan bisnis korupsi tidak cukup diri sendiri. tindakan ini harus bekerja sama alias berjejaring  secara terstruktur dengan orang yang mau diajak bekerja bersama, sama-sama mau menghianati negara, dan sama-sama mau mensengsarakan masyarakatnya.

Itulah sebabnya dalam kasus e ktp, sampai sekarang masih diselidiki, menyeret beberapa pejabat negara terlibat. Mulai dari pemimpin daerah, wakil rakyat , dan aparatur negara lainnya. Seperti halnya dengan apa yang diceritakan Pram dalam novel korupsi. Jika banyak koruptor tertangkap tangan KPK, bukan berarti tidak ada koruptor yang tersisa. Oleh karena itu negara harus semaksimal mungkin menyelidiki koruptor – koruptor lain yang bersembunyi di balik layar, kalau negara ini mau kembali pulih dari sakit dideritanya.

Novel judul korupsi ini sebagai bentuk kepedulian Pram kepada bangsa untuk membuka mata, bahwa negara yang ditempati punya banyak masalah yang harus difikirkan sekaligus diselesaikan. Tapi sayang, dalam novel ini menurut peresensi ada kekurangan yang harus saya kritik pada karya ini.

pram terlalu terburu buru menceritakan lelaki tua dengan calon istri kedua. Sehingga kisahnya seolah terputus dan kurang mengasyikkan diselami. Meski begitu, novel tipis 160 halaman ini mengasyikkan buat pengantar tidur, sehingga ketika bangun dari tidur panjang, kita disadarkan bahwa negara kita punya masalah amat memilukan yang belum kunjung selesai diinsafi oleh pejabat negara kita. hingga saat ini.

Penulis: kordinator Ekosospol KSMW 2018

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here