Al-Qur’an dalam perspektif  Fazlur Rahman

Konsep Rahman tentang al-Qur’an, sebagaimana yang dapat disimpulkan  dalam bukunya Islam: post influence and present challenge, adalah:

Al-Qur’an secara keseluruhan adalah kata-kata (kalam) Allah, dan dalam pengertian biasa, juga keseluruhannya merupakan kata-kata Muhammad. Jadi, Al-Qur’an murni kata-kata Illahi, namun tentu saja ia sama-sama secara intim berkaitan dengan personalitas paling dalam Nabi Muhammad yang hubungannya dengan kata-kata (kalam ) Illahi itu tidak dapat dipahami secara mekanis seperti hubungan sebuah rekaman. Kata-kata (kalam) Illah mengalir melalui hati Nabi.

Definisi Rahman di atas, mengasumsikan bahwa pola hubungan atau model pewahyuan yang dibangun antara al-Qur’an (sebagai sebuah teks, the text), allah adalah pengarang (the author), dan Muhammad (the reader and the author), pengasumsian Muhammad sebagai penerima sekaligus pembicara ini menegaskan bahwa secara psikologi Muhammad berpartisipasi baik mental maupun intelektual dalam penerimaan wahyu itu.

Teori Double Movement Fazlur Rahman

al-Qur’an tidak bisa dipahami secara atomistik, melainkan harus sebagai kesatu paduan yang terjalin satu sama lain sehingga menghasilkan weltanchauung  yang pasti. Pemahaman seperti ini tidak didapatkan dalam penafsiran-penafsiran klasik, mereka terlalu asyik bermain dengan kata-kata yang menyebabkan mereka terjebak dalam penafsiran literal-tekstual. Bagi rahman fenomena ini terjadi dikarenakan ketidaktepatan dan ketidaksempurnaan alat-alat yang disebabkan kegersangan metode penafsiran.

Rahman menawarkan  suatu metode yang logis, kritis dan komprehensif  yaitu hermeneutika double movement. Metode ini memberikan pemahaman yang sistematis dan kontekstualis, sehingga menghasilkan suatu penafsiran yang tidak atomistik, literalis dan tekstualis, melainkan penafsiran yang mampu menjawab persoalan-persoalan kekinian. Adapun yang dimaksud dengan gerak ganda adalah dimulai dari situasi sekarang ke masa al-Qur’an diturunkan dan kembali lagi kemasa kini. Persoalan mengapa harus mengetahui masa la-Qur’an diturunkan ? sedangkan masa dahulu dengan masa sekarang tidak mempunyai kesamaan. Untuk menjawab persoalan ini, Rahman mengatakan: al-Qur’an adalah respon Illahi melalui ingatan dan pikiran Nabi, kepada situasi moral-sosial masyarakat Arab pada masa Nabi. Artinya, signifikasi pemahaman setting-social Arab pada masa Al-Qur’an diturunkan disebabkan adanya proses dialektika antara al-Qur’an dengan realitas.

Gerakan pertama, bertolak dari situasi kontemporer menuju ke era Al-Qur’an diwahyukan, dalam pengertian bahwa perlu dipahami arti dan makna dari suatu pernyataan dengan cara mengkaji situasi atau problem historis di mana pernyataan al-Qur’an tersebut hadir sebagai jawabannya. Dengan kata lain, memahami al-Qur’an sebagai suatu totalitas disamping sebagai ajaran-ajaran spesifik yang merupakan respon terhadap situasi-situasi spesifik.  Kemudian, respon-respon yang spesifik ini digeneralisir dan dinyatakan sebagai pernyataan-pernyataan yang memiliki tujuan-tujuan moral umum yang dapat “ disaring” dari ayat-ayat spesifik yang berkaitan dengan latar belakang sosio historis dan rasio legis yang sering diungkapkan. Selama proses ini, perhatian harus diberikan pada arah ajaran al-Qur’an sebagai suatu totalitas sehingga setiap arti atau makna tertentu yang dipahami, setiap hukum yang dinyatakan, dan setiap tujuan atau sasaran yang diformulasikan akan berkaitan dengan lainnya. Singkatnya, dalam gerakan pertama ini, kajian diawali dari hal-hal spesifik dalam Al-Qur’an kemudian menggali dan mensistematisir prinsip-prinsip umum, nilai-nilai dan tujuan jangka panjangnya.

Gerakan kedua, dari masa al-Qur’an diturunkan (setelah menemukan prinsip-prinsip umum) kembali lagi ke masa sekarang. Dalam pengertian bahwa ajaran-ajaran (prinsip) yang bersifat umum tersebut harus ditubuhkan dalam konteks sosio historis yang konkret di masa sekarang. Untuk itu perlu dikaji secara cermat situasi sekarang dan dianalisa unsur-unsurnya sehingga situasi tersebut dapat dinilai dan diubah sejauh yang dibutuhkan serta ditetapkan prioritas-prioritas baru demi mengimplementasikan nilai-nilai al-Qur’an secara baru pula.

Gerakan kedua ini juga akan berfungsi sebagai pengoreksi dari hasil-hasil  pemahaman dan penafsiran yang dilakukan pada gerakan pertama. Karena jika hasil-hasil pemahaman itu tidak bisa diterapkan dalam masa sekarang, itu artinya telah terjadi kegagalan dalam menilai situasi sekarang dengan  tepat atau kegagalan dalam memahami al-Qur’an . karena, adalah mustahil bahwa sedalam tatanan secara spesifik (masyarakat Arab) di masa lampau tidak bisa direalisasikan dalam konteks sekarang. Ini dilakukan dengan jalan mempertimbangkan perbedaan “dalam hal-hal yang spesifik yang ada pada situasi sekarang” yang mencakup baik perubahan aturan-aturan dimasa lampau sehingga selaras dengan tuntutan situasi sekarang (sejauh tidak melanggar prinsip-prinsip umum dimasa  lampau) maupun mengubah situasi sekarang sepanjang diperlukan hingga sesuai dengan prinsip-prinsip umum tersebut.

Fazlur Rahman selanjutnyaa menyakinkan  bahwa apabila kedua moment gerakan ganda ini berhasil diwujudkan, niscaya perintah-perintah al-Qur’an akan menjadi hidup dan efektif kembali. Oleh karena itu, kelancaran tugas yang pertama sangat bergantung dan berhutang budi pada kerja para sejarawan. Sementara tugas kedua, meskipun sangat memerlukan instrumentalitas para saintis social (sosialog dan antropolog), demi menentukan “orientasi efektif” dan “rekayasa etis”, maka kerja para penganjur moral (ulama) hal yang diandalkan.

*Ditulis oleh Dwi Indahsari (Balapikir 2014)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here