Istilah fenomenologi secara etimologis berasal dari bahasa Yunani. Dari akar kata “fenomenan” atau “fenomenon” yang secara harfiah berarti “gejala” atau “apa yang telah menampakkan diri” sehingga nyata bagi kita (Drijarkara, 1962:122) Suprayogo dan Tobroni, 2001:102). Istilah feomenologi diperkenalkan oleh Johann Heinrickh Lambert, tahun 1764. Meskipun demikian Edmund Husserl (1859-1938) lebih dipandang sebagai bapak fenomenologi, karena intensitas kajiannya dalam ranah filsafat. Fenomenologi yang kita kenal malalui Husserl adalah ilmu tentang fenomena.

Teori Max Weber mengenai tindakan sosial secara historis dijadikan dasar lahirnya perspektif fenomenologis (juga interaksionisme simbolik). Weber menyebut tindakan sosial bilamana segala perilaku seseorang ketika dan sejauh yang bersangkutan memberi makna subyektif terhadap perilakunya tersebut. Menurut Weber, tindakan manusia pada dasarnya bermakna, melibatkan penafsiran, berpikir dan kesengajaan.

Tindakan sosial baginya adanya adalah tindakan yang disengaja, disengaja bagi orang lain dan bagi sang aktor sendiri, yang pikiran-pikirannya aktif saling menafsirkan perilaku orang lainnya, berkomunikasi satu sama lain, dan mengendalikan perilaku dirinya masing-masing sesuai dengan maksud komunikasinya. Jadi mereka saling mengarahkan perilaku mitra interaksi di hadapannya. Karena itu bagi Weber, masyarakat adalah suatu entitas aktif yang terdiri dari orang-orang berfikir dan melakukan tindakan-tindakan sosial yang bermakna (Mulyana, 2001:61). Untuk itu pemahaman terhadap tindakan sosial dilakukan dengan meneliti makna subyektif yang diberikan individu terhadap tindakannya, karena manusia bertindak atas dasar makna yang diberikannya pada tindakan tersebut (Sunarto, 2000:234) Para tokoh di balik kelahiran fenomenologi.

Sebagai tradisi filsafat awalnya fenomenologi digunakan oleh filsuf Jerman Edmund H. Husserl (1859-1938). Dilanjutkan oleh Alfred Schutz (1899-1959) dengan tegasmengembangkan fenomenologi sebagai perspektif penting dalam studi-studilmu-ilmu sosial dan filsafat. Nama-nama seperti Merleau-Ponty (1962),Whitehead (1958), Giorgi (1971), dan Zaner (1970) adalah para tokoh yangsangat berpengaruh dalam meletakkan dasar fenomenologi sebagai sebuahaliran pemikiran yang mewarnai perjalanan dan perkembangan studi-studi ilmu sosial dan humaniora.

Fenomenologi sangat dinamis dan berkembang baik sebagai suatu bentuk filosofi maupun sebagai suatu metode penelitian. Sejak diperkenalkan hingga saat ini terdapat banyak ahli fenomenologi yang mempunyai interpretasi dan pemahaman sendiri tentang fenomenologi. Sebagai contoh, Husserl menginginkan fenomenologi sebagai suatu pendekatan ilmiah yang digunakan unt uk mendeskripsikan fenomena semurni mungkin tanpa ada proses interpretasi.

Makna AKU menurut husserl

Husserl memulai karirnya sebagai seorang ahli matematika dan fisika. Husserl sangat tertarik ketika mendengar bahwa Brentano, salah seorang staf pengajar pada Universit as Vienna, telah mengembangkan fenomenologi psikologi. Karena tertarik Husserl kemudian mengunjungi Brentano. Interaksi Husserl dan Brentano antara tahun 1884 dan 1886 inilah yang akhirnya meyakinkan Husserl untuk mengambil filosofi, bukan matematika atau fisika, sebagai karirnya di universitas. Sebagai seseorang dengan latar belakang matematika, minat utama Husserl adalah menemukan fondasi baru dan kokoh bagi matematika.

Husserl menemukan bahwa terdapat kelemahan-kelemahan pada fondasi matematika dan ia yakin bahwa hanya melalui filosofi kelemahan ini dapat diperbaiki.
Latar belakang matematika ini juga mendorong Husserl untuk menjadikan filosofi sebagai suatu ilmu yang akurat dan sahih atau rigorous science. Menurut Husserl ilmu yang akurat dan sahih adalah ilmu yang merepresentasikan suatu sistem konsep pengetahuan dengan pola-pola hubungan yang akurat dan berjenjang, di mana setiap jenjang merupakan dasar bagi jenjang berikutnya. Oleh karena itu, pengatahuan yang menjadi dasar jenjang tersebut harus jelas.

Pada awalnya Husserl berharap fenomenologi psikologi Brentano dapat mengantarkannya pada keakuratan dan kejelasan yang ia inginkan. Dalam perkembangannya kemudian Husserl merasakan bahwa ilmu tersebut tidak mampu memberikan keakurat an dan kejelasan. Husser l mengembangkan filosofinya sendiri dan meyakini bahwa hanya filosofi tersebut lah yang akan mengantarkannya pada kejelasan dan keakuratan yang diidamkan. Husserl secar a formal menamakan filosofinya sebagai fenomenologi pada 1901.
Menurut Husserl fenomenologi ialah studi tentang bagaimana orang mendeskrispikan sesuatu dan mengalaminya melalui indra mereka sendiri. Dengan kata lain, fenomenologi Husserl merupakan sebuah upaya memahami kesadaran sebagaimana dialami dari sudut pandang orang yang mengalami sendiri. Asumsi filosofisnya yang mendasar ialah ‘kita dapat mengetahui apa yang kita alami hanya dengan adanya kesadaran dan makna yang membangkitkan kita.

Fenomenologi transendental paling sering digunakan dalam penelitian ilmu sosial. Kata transenden mengandung arti “berada di luar kemampuan manusia; utama”. Transenden yang dimaksud adalah kesadaran murni dari “Aku” yang mengalami fenomena. Jadi, fenomenologi transendental Husserl berfokus pada studi tentang “Aku”. “Aku” adalah “Aku” yang mengalami, bukan pengalaman itu sendiri. Apa yang dialami oleh “Aku” akan berbeda dengan yang dialami oleh “Aku” yang lain. Penggunaan kata “Aku” menggambarkan bahwa “Aku” yang satu berbeda dengan “Aku” yang lain. Manusia yang satu berbeda dengan manusia yang lain. Setiap “Aku” akan membentuk persepsi, ingatan, fantasi, dan ekspektasi yang berbeda dengan “Aku” yang lain.

Referensi
Jurnal Keperawatan Indonesia, Volume 9, No.2, September 2005
Jurnal Studi fenomenologi itu apa? Mudjia Rahardjo | repository.uin-malang.ac.id/2417
Jurnal ILMU KOMUNIKASI VOLUME 2, NOMOR 1,JUNI 2005