Fazlurrahman adalah seorang tokoh neomodernis yang berasal dari Pakistan. Sebagai pemantik diskusi, Dwi Indahsari menjelaskan bahwa Fazlurrahman hidup dalam situasi negara yang tidak stabil, dimana sebagian wilayah dari India ingin memisahkan diri dan mendirikan Negara Islam. Fazlurrahman menempuh pendidikan sarjana di Pakistan, dan melanjutkan pendidikannya di Oxford University. Ia lebih memilih pendidikan di barat karena menurutnya pendidikan Islam di Timur seperti Mesir hanya terpaku pada ajaran Islam yang kaku dan tidak ada ruang untuk berpikir kritis.

Inti pemikiran Fazlurrahman terletak pada tawaran metodologi dalam membaca sumber-sumber Islam yang disebut dengan teori double movements. Teori ini digunakan melalui dua tahap:

  1. Memahamikontekspewahyuan yang dibagikedalamkonsepmikrodan Mikroadalahbagaimanaasbabunnuzulperistiwapewahyuan, sedangkansisimakroadalahsituasisosiohistorismasyarakatdan negara saatayatituditurunkan.
  2. Memahami ide moral pewahyuan, yakniintiajaran yang dapatdikontekskandalamkehidupansaat

Sebagai contoh adalah kasus poligami. Pada tahap satu kita ketahui bahwasanya dulu di dunia Arab tidak ada pembatasan jumlah istri. Lalu turun ayat An-Nisa yang membatasinya hanya sampai empat dengan syarat adil dan sicalon istri menghendaki menikah dengan pria itu. Lalu oleh Rahman ayat ini dipahami bahwa dalam konteks sekarang ayat itu tidak berlaku lagi, dan menganjurkan menikahi satu orang saja.

Sekembalinya ia dari dunia barat ia mendapat pertentangan dari para tokoh agama di negaranya karena pemikirannya yang dianggap menyimpang. Pertentangan itu berawal dari pernyataannya bahwa al-Qur’an adalah wahyu Tuhan dan dalam satu sisi juga perkataan nabi. Bahwa Muhammad secara psikologis mental dan intelektual turut berpartisipasi dalam proses pewahyuan.

Setelah memaparkan materi diskusinya, maka dilanjutkan dengan sesi tanggapan. Pertanyaan pertama dari Ulil Absor, tentang bagaimana Alur pemikiran Fazlurrahman? Adanya larangan di India untuk tidak belajar di Barat karena justifikasi bahwa sarjana barat akan berbeda pemikiran dengan ulama sebelumnya. Apakah itu artinya sudah ada hasrat dari diri Rahman untuk berpikir berbeda dari ulama sebelumnya?

Kemudian Indah menimpali bahwa memang pada masanya banyak ulama yang berpikir fundamental, sehingga Rahman mengalami pertentangan dan ketidaksepahaman dari ungkapannya bahwa al-Qur’an adalah ucapan Nabi. Sebenarnya Ia hanya ingin melakukan terobosan untuk kemajuan Islam. Pemikirannya banyak di pengaruhi dari didikan orangtua. Ayahnya mendorong Rahman untuk bersikap toleransi dan rasional sebagaimana pemikiran Madzhab Hanafi. Alasan Rahman memilih negara Eropa sebagai tempat belajar adalah karena ia telah membaca tentang metode-metode mufassir klasik dan menemukan ketidaksesuaian antara dia dan pemikiran para mufassir klasik tersebut.

Meskipun banyak dipengaruhi pemikiran barat, namun Ia tetap mempelajari tentang peradaban keilmuan Islam, salah satunya adalah dengan mengangkat pemikiran Ibnu Sina sebagai karya tesisnya. Faktor utama Rahman dalam mencetuskan pemikiran berbeda adalah pertama dari mufassir klasik yang dianggap metodenya kurang bisa menjawab tantangan zaman. Faktor yang kedua adalah pengaruh dari madzhabnya yang rasional.

Kemudian Taufan menambahkan bahwa Rahman juga membahas tentang Neosufisme dan posmodern. Neosufisme Rahman adalah kritik terhadap Ibnu Taimiyah yang menolak tasawuf karena dianggap bertentangan dengan syariat. Kedua terkait konsep posmodern. Bahwa Rahman mengkriitk terhadap modernitas yang jauh dari nilai-nilai spiritualitas. 1973 puncak posmo sezaman dengan Fazlurrahman. Pemikiran-pemikirannya lahir lebih banyak mengenai kritik terhadap tafsir-tafsir klasik, dan kurang dalam menanggapi proses modernisme. Persoalan yang dibahas hanya seputar spiritualisme. Bahwa modernitas perlu didudukkan dengan berbau tasawuf, yang kemudian disebut dengan neosufisme.

Ridwan mahasiswa Tarbiyahpun ikut menanggapi diskusi. Apakah pemikiran Rahman memberikan dampak yang signifikan? Dan apakah pemikirannya sudah mampu memberikan jawaban terhadap problematika?

Indah menjawab bahwa ada beberapa tokoh di negaranya yang berpaham fundamental, maka ketika mengetahui pemikiran Rahman dianggap tidak cocok dan menyimpang. Tentu saja pemikiran Rahman banyak memberikan kontribusi bagi pemikiran Islam selanjutnya dan berdampak penting bagi perkembangan dunia Islam. Metodenya masih banyak digunakan sampai sekarang.

Sare: menurut saya pemikiran Fazlurrahman ini sangat relevan dengan sekarang. Jika menggunakan hermeneutika memang sangat tepat sekali untuk memahami al-Qur’an. Formulasi hokum Islam klasik tidak bisa selalu digunakan karena perkembangan zaman yang jauh. Namun Hermeneutika adalah merupakan metode untuk bible, mengapa ia mengadopsi metode interpretasi bible untuk di implementasikan al-Qur’an? Kenapa tidak menggunakan metode yang dulu pernah digunakan oleh mufasir klasik?

Diskusi kemudian dikembangkan lagi oleh Pak Mukhsin. Menurutnya Rahman adalah intelektual yang menarik dan genuin yang sampai sekarang masih bisa kita rasakan pemikirannya. Karya-karyanya antara lain adalah Privacy in islam; Islam, islamic metodology in history; Islam and modernity. Kita bisa mengetahui keprihatian intelektual yang terjadi pada diri Rahman dengan melihat situasi yang dihadapi umat Islam di Awal abad 20 untuk merdeka dari kolonialisme dan tantangan kemajuan barat.

Responsi intelektual muslim oleh Fazlurrahman dibagi ke dalam empat kelompok:

  1. Revivalis pra modernis, kemunduran Islam karena ada praktek yang salah dalam dunia Islam (takhayul, bid’ah dan khurafat). Memurnikan ajaran Islam.
  2. Modernis, karena Islam tidak memiliki semangat modern. Jika ingin maju maka tirulah etos kemajuan dunia barat.
  3. Neorevivalis, fundamentalis yang kecewa terhadap modernisasi dunia Islam. Islam harus lepas dari ideologi sekuler yang telah menyesatkan masyarakat muslim.
  4. TermasukRahman yang melihat beberapa kelemahan diantara gagasan sebelumnya. Tidak ada metodologi yang komprehensif dan jelas untuk merekontruksi pemikiran Islam. kedua, modernis telah menjebak mereka dalam pemikiran yang anti terhadap tradisi. Kaum neorevivalis juga berkarakter reaksioner terhadap apa-apa yang berbau modernitas. Maka ia mengajukan neomodernisme Islam, apresiasi dan berpijak pada tradisi, serta menerima modernitas secara kritis.

Rahman melihat kelemahan-kelemahan umat muslim dalam menerjemahkan sumber-sumber Agama Islam. Pertama, pemahaman al-Qur’an secara atomistik, terpisah dari misi dasar pandangan dunia yang ada dalam al-Qur’an sangat mendistorsi pemaknaan ayat-ayat Al-Qur’an. Ia mengusulkan adanya rekontruksi terhadap penafsiran al-Qur’an, maka ia membuat buku berjudul tema-tema pokok al-Qur’an. Yang kedua para pemikir muslim tidak memberikan metodologi baru ditengah modernitas. Maka ia menawarkan metodologi tafsir kontekstual, doublemovements. Mesti dipahami bahwa ada proses historis ketika al-Qur’an diturunkan melalui sebab mikro dan makro. Dengan demikian maka akan ditemukan dua hal, hukum spesifik dalam al-Qur’an danIde moral. Rahman melakukan revolusi dalam hukum Islam.Ia selalu menekankan bahwa memahami ayat tidak boleh terpotong-potong dan harus mengenal batasan tradisi Arab pra Islam.

Kontroversi dalam pemikiran Rahman, adalah bahwa al-Qur’an selain di satu sisi merupakan wahyu Tuhan disisi lain juga merupakan perkataan nabi. Baginya, Al-Qur’an tidak lepas dari intelektual nabi. Kontroversi lainnya adalah hukum penyembelihan oleh manual dan mesin yang dikatakan sama-sama halal. Al-Baqarah itu mengatakan apa-apa selain Allah adalah haram. Nah sama saja kalau tidak dipersembahkan untuk apa-apa berarti halal.

Dampak pemikirannya luar biasa.Seperti di Indonesia ada Syafii maarif dan Nurcholis Madjid yang terpengaruh oleh pemikiran Rahman. Rujukan intelektual hermeneutika Rahman adalah Emilio Beti, pemikir hermeneutik yang ingin menjadikan hermeneutik sebagai metodologi tafsir.

Ilmu eksakta lebih dulu matang dengan metodologi positivistik legoris. Namun ternyata realitas sosiologis tidak bisa diukur dengan metodologi positivis. Metodologi saintis sosiologis untuk menjadi metode tafsir dan interpretasi sosial budaya terletak pada metode hermeneutika. Studi agama termasuk studi humaniora maka wajar jika Rahman menggunakan Hermeneutika sebagai metodologi.

Penulis juga bertanya, bagaimana jika konteksnya adalah minuman alkohol. Jika pemahaman mengapa diharamkan adalah karena memabukkan, dan kondisi Arab yang panas tidak sesuai untuk minuman alkohol, maka ditempat dingin alkohol berfungsi menghangatkan, dan bagaimana yang ternyata tidak mabuk setelah meminumnya apakah masih dinyatakan haram?

Kemudian Pak Mukhsin menjawab, bahwaTema-tema pokok al-Qur’an tidak memisahkan antara keimanan dan struktur sosial. Maka tidak bisa membangun struktur atau realitas terlepasdari iman. Sampai saat ini belum ada alkohol yang dinyatakan oleh medis halal untuk dikonsumsi. Dari situ tetap tidak bias diubah bahwasanya minuman keras beralkohol adalah haram. Banyak kecelakaan lalu lintas justru diakibatkan oleh orang mabuk.

Yang diambil tentu saja adalah apa yang bisa dijadikan prinsip budaya yang ada pada ide moral al-Qur’an untuk menjadikannya katalisator sosial budaya saat ini. Seperti pembebasan sebagai ide moral al-Qur’an yang akan menjadikan al-Qur’an hidup dan dinamis.

Mahfud menanyakan, apa perbedaan neomodernisme dan posmodernisme?

Pembagian pemikiran tergantung parameter dan tolok ukur yang dipakai.Buddhy Munawar Rahman membagi pemikiran berdasarkan karakteristik tentang apa dan dampak, Fazlurrahman mempunyai pandangan yang berbeda. Kita jangan terpecah distingtif, tentu ada pemikiran yang saling beririsan, dan ada faktor yang membuat Islam ituberbeda-beda.Pemikiran tidak lahir dari ruang hampa. Maka neomodernisme tidak lepas dari modernisme. NU adalahtradisionalisme Islam Nasionalis.

Membincang tentang neosufisme, menurut Rahman Iman dan spiritualitas tidak lepas dari aktifitas sehari-hari. Zuhud adalah gerakan oposisi politik yang bermewah-mewah. Maka ia secara aktif melakukan gerakan thoriqoh. Rahman berusaha mengembalikan spiritualisme dalam modernisme yang ia sebut dengan neosufisme.

Sareadi kembali bertanya, kenapa ia meniru metodologi dari barat bukan dari Islam yang sudah jelas punya metodologi tafsirnya sendiri?

Kemudian Pak Mukhsin menjawab, Fazlurrahman menyadari banyaknya kelemahan tafsir klasik, dimana Al-Qur’an di pahami secara parsial. Rahman juga menyadari kekurangan penggunaaan kontekstual, yang sekedar asbabunnuzul. Maka kemudian ia kembangkan menjadi pemahaman makro dan mikro. Secara bahasa ayat “bunuhlah orang kafir dimanapun kamu temui” jika diartikan secara makna bahasa maka hasilnya adalah wajib. Kalau tidak dilihat secara konteks bahwa masyarakat Arab padawaktu itu terusir atas kedzaliman Kafir Qurays, situasi perang defensif maka akan bahaya. Kesimpulan yang diambil akan cenderung boleh tidak dan salah benar. Maka kita perlu memahami al-Qur’an sebagai satu kesatuan.

Coba kita melihat khotbah wada’nya nabi, sesungguhnya darahmu hartamu kehormatanmu itu suci sebagaimana sucinya hari ini bulan ini dan kota ini. Maka tidak boleh ada perampasan hak, dan penindasan kemanusiaan.

Fifi, balapikir 2016 juga menanyakan jika pemahaman Khomr tadi dikontekskan pada gadget misalnya, bahwa Gadget dilihat dari segi kesehatan memicu hormon yang dapat menimbulkan kecanduan, maka hukumnya apakah sama untuk diharamkan?

Kemudian Pak Mukhsin menjelaskan, semua tergantung kita menggunakannya seperti apa. Sekarang problemnya adalah bagaimana kita tidak kecanduan dalam menggunakannya. Produktif untuk pengetahuan atau hal-hal yang tidak bermanfaat? Sedosa apapun khamr atau teknologi tetap ada manfaatnya.

Kita perlu memahami sejarah. Dulu Madinah adalah pusat perdagangan ditengah dua imperium besar, romawi dan persia. Manuver politik tetap terjadi karena kepentingan kapitalisme. Kisah-kisah tentang rasul di biblepun banyak yang lucu dan menarik tentang kehidupan nabi. Absah dan tidak secara teologis itu lain soal. Itu juga sumber-sumber agama, seperti juga israilliyat.

Kebenaran yang hilang bukunya farah fouda menceritakan sisi gelap dan terang Islam, yang salah satunya mengenai pembunuhan Usman. Usman itu tidak bisa dimakamkan di pemakaman muslim, maka kemudian dimakamkan di yahudi. Lalu tanah makam itu dibeli oleh keluarga Umayah ketika berkuasa.Kita tidakpernahjujur tentang sejarah. Pergulatan sunni syiah banyak didistortif karena politik. Harus ada yang mengungkap sejarah dalam dunia Islam. The real history adalah sekarang.

Ridwan menanyakan pemikiran dari syafii maarif yang terpengaruh Rahman itu seperti apa?

Dari Pak Mukhsin, dulu Muhammadiyah puritan sekarang menjadi kultural. Syafii Maarif juga aktif dalam dialog antar agama. Dia aktivis dalam memahami negara, Islam dan prostitusi. Hari inipun yang bertentangan dengan Syafii Maarif disingkirkan.

Pesan pak Mukhsin: Kita harus bersikap objektif terhadap tradisi sebagai sesuatu yang bersifat ilmiah.

 

Noted by Umi M.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here