Judul Film       : Guru Bangsa Tjokroaminoto

Sutradara         : Garin Nugroho

Tanggal rilis     : 9 April 2015

Penulis naskah : Ari Syarif, Erik Supit

Produser          : Cristine Hakim, Dewi Umaya Rachman, Sabrang Mowo Damar Panuluh, Dedi Petet, Nayaka Untara, Ari Syar

Produksi : Yayasan Keluarga Besar HOS Tjokroaminoto , Pick Lock Films

Durasi waktu : 2 Jam 41 Menit

Peresensi : Hasan Ainul Yaqin

Bulan November banyak sejarah besar terjadi, perlu bagi kita merenungkan makna dan tragedi di balik tabir pristiwa besar itu. sejarah masa lalu harus direfleksikan bagi penerus estafet saat ini supaya apa yang kita lakukan tidak melupakan perjuangan para generasi sebelumnya, mereka yang mati-matian mempertaruhkan nyawanya untuk kemerdekaan Indonesia.

Salah satunya hari pahlawan. Hari besar ini yang jatuh pada 10 November hendaknya tidak sekedar acara seremonial belaka yang ditandai dengan perhelatan acara dan ucapan selamat kepada sesamanya di ruang maya maupun di dunia realitas. Tidak salah aktivitas tersebut tetap dilakukan sebagai alarm pengingat. Akan tetapi hari besar itu perlu direfleksi lebih dalam, direnungkan, lalu semangat yang terkandung dalam perjuangan pahlawan  melawan penjajah perlu digiring untuk mengawal setiap langkah perjalanan bangsa ini menuju bangsa yang dicita-citakan. Yaitu mandiri dan bebas dari segala ketergantungan.

Sebenarnya merefleksikan sejarah perjuangan tidak hanya di hari tertentu saja, melainkan setiap saat seyogyanya sejarah masa lalu harus diratapi untuk dijadikan pijakan dalam setiap pengambilan keputusan bagi pemerintah, dan dapat dijadikan cermin bagi masyarakat luas bahwa negara Indonesia yang kita huni sekarang ini didapat bukan tanpa darah menetes. Banyak pengorbanan yang mereka pertaruhkan demi merebut negara ini dari kuasa penjajah.

Sungguh amat menyesakkan dada bila melihat negara ini dari hari ke hari persoalan menimpa negeri ini tambah meningkat. korupsi semakin menggurita, penegakkan hukum yang tumpul ke atas dan tajam ke bawah seringkali dijumpai, penindasan terhadap kaum miskin menjadi-jadi seperti penggusuran, perampasan tanah dan lain sebagainya, perseteruan antar umat golongan agama, ras, suku dan etnis tidak ada habisnya.

Lantas dimana posisi Islam sebagai agama mayoritas ini dalam memotret fakta sosial yang terjadi ? dan kalau memang Islam sebagai agama pembebasan bagaimana Islam itu dipraktekkan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara ? atau jangan – jangan Islam sudah kehilangan gaungnya, sehingga nilai subtansi yang dibawa Nabi Muhammad tenggelam, sisa nama, simbol, dan acara ritualnya saja?

Semangat Islam HOS Tjokroaminoto

Penulis tidak akan membahas lebih jauh dalam pemaknaan Islam yang dipertanyakan di atas. Hanya saja kalau kita bicara Islam yang kita anut dalam semangat keagamaan kita di Indonesia, ada kecurigaan, seperti terdapat pergeseran makna atau ada sesuatu nilai yang memang sengaja disembunyikan atau dihilangkan dalam keagamaan kita. yang penulis sebut nilai keberpihakan pada rakyat. Islam hanya laku ditawarkan pada tatanan politik praktis, tapi tidak pada perjuangan rakyat dalam melawan setiap ketidak adilan. Tidak heran seringkali ditemukan terjadi politisasi agama. Pilkada DKI misalnya. Dan banyak lagi contoh tak terbantahkan yang memainkan agama sebagai kendaraan politik praktis.

Maka disinilah pentingnya merefleksikan pemikiran dan gerakan HOS Tjokroaminoto sebagai tokoh agama melalui film yang membingkai perjuanganya untuk Indonesia. Dimana sendi-sendi keIslaman dalam pristiwa itu dijadikan alat perjuangan oleh Tjokro dan kawan serta murid –murinya dalam menyatukan umat melawan setiap penindasan yang terjadi.

Jelas film ini mengisahkan bagaimana seorang tokoh agama rela mati demi negaranya, rela dipenjara karena keyaqinanya, rela berpisah dari keluarga demi menemani berjuang bersama pengikutnya dalam hal ini adalah rakyat. tapi di dada Tjokroaminoto raja yang dijuluki pangeran tanpa mahkota itu tidak ada perasaan gentar walau serangan bertubi-tubi ditunjukkan padanya. Sikapnya tegas, kritiknya tajam, keputusanya bijak, pidatonya menggempurkan bagi siapa yang mendengarnya terutama Pemerintah Hindia – Belanda. Gerak-geraknya dianggap membahayakan. Maka tak heran, bila Tjokroaminoto dipenjara lantaran ditakuti kalau ia dibiarkan bebas.

November yang bertepat pada bulan maulid nabi ini, momen pas mengisahkan cara ber Islam HOS Tjokroaminoto. Semangat perjuangannya dalam melawan penindasan oleh Penjajah terhadap penduduk pribumi ia gemakan seperti yang disampaikan di dalam film tersebut bahwa bangsa ini harus hijrah. Hijrah dalam arti disini versi Tjokroaminoto yaitu beranjak dari sesuatu yang buruk menuju sesuatu yang lebih baik.

Makna Hijrah

Maka kondisi bangsa pada kala itu yang sedang berada dalam ketergantungan pada pihak penjajah, tenaganya diperas, tubuhnya disiksa jika bekerja tidak becus, gajinya seringkali digantungkan, maka sudah saatnya bangsa ini menurut Tjokroaminoto harus hijrah menjadi lebih baik dan manusiawi. Seperti halnya dijelaskan Daod S. Casewit yang dilansir media Islam bergerak bahwa penderitaan yang terjadi tidak bisa dibiarkan begitu saja, ia tidak lahir dengan sendirinya. Tetapi ia harus dilawan. Perlawanan ini yang dimaksud sebagai hijrah secara kolektif dan aktif.

Nilai keadilan sosial, kesejahteraan bersama, egaliter tidak lahir dalam ruang hampa, melainkan harus diperjuangkan. Memperjuangkan nilai tersebut itulah seperti Tjokroaminoto sampaikan sebagai proses hijrah. Bahwa makna hijrah sebenarnya yaitu membawa manusia dari kondisi buruk menjadi kondisi lebih baik yaitu kondisi yang tidak ada penghisapan terhadap manusia.

Oleh sebab itulah Diceritakan dalam film ini, perusahaan milik Belanda bangkrut karena kekurangan tenaga kerja, semua terjadi sebab pemogokan yang dimobilisasi oleh HOS Tjokroaminoto. Sehingga perlahan perusahaan itu tutup. Dalam menggalang massa melawan kapital itu, Tjokroaminoto memasukkan sendi agama Islam sebagai tali persatuan dan perjuanganya.

Di film inipula dikisahkan dimana buruh perusahaan dipekerjakan tidak manusiawi, tenaganya diperas sementara gaji dan pemberian sebagai timbal balik yang diterima tidak berbanding lurus dengan jerih payahnya. Maka disinilah yang memantik kesadaran HOS Tjoroaminoto untuk melakukan pengorganisasian rakyat. supaya rakyat lebih tahu mana yang termasuk bagian haknya dan menyadarkan rakyat bahwa pemodal telah melakukan sewenang-wenangnya terhadap mereka.

Pada karya Tjokroaminoto yang begitu familiar berjudul Islam dan sosialisme, Tjokroaminoto menekankan budak atau buruh tetaplah diperlakukan sebagai manusia. Jangan sampai ada penghisapan terhadap manusia lainya. Tentu pemikiran Tjokroaminoto berangkat dari pemahaman tentang Islam yang dibawa nabi Muhammad. Yaitu Islam yang melawan pada setiap ketidak adilan. Semangat itu dirangkum di dalam kitab suci Al quran bahwa allah membenci orang Zalim yang tidak menghargai arti kemanusiaan.

Film ini penting ditonton bagi setiap kalangan untuk melihat perjuangan pahlawan dalam memperjuangkan kemerdekaan. tentunya tidak cukup jika melihat lembaran sejarah hanya pada sebatas film yang berdurasi pendek ini. film yang mengisahkan pergulatan kehidupan Tjokroaminoto masih belum bisa mewakili sepenuhnya bagaimana HOS Tjokroaminoto, namun setidaknya dalam film ini mampu memutar balikan ingatan dan badan kita pada sejarah masa lalu, yaitu sejarah perjuangan bangsa dalam melawan setiap penindasan yang dilakukan Kolonial seperti diceritakan dalam film ini.

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here