Review Pemikiran Gusdur dalam Buku “Islamku Islam Anda dan Islam Kita”

Narasumber: Mas Khoirul Anwar (eLSA)

Salah satu kegiatan dalam rangka memperingati haul gusdur adalah diskusi pemikiran gusdur yang diadakan oleh KSMW bekerjasama dengan ngeProf.com. Acara yang diadakan di sebuah rumah bernama irkos ini dimulai pada pukul 21.00 WIB dengan peserta adalah mahasiswa dari berbagai jurusan di UIN Walisongo. Ada juga peserta yang berasal dari UNDIP turut meramaikan suasana diskusi tersebut.

Buku berjudul Islamku Islam Anda dan Islam Kita yang pembahasannya sangat luas ini adalah karya besar dari Abdurrahman Wahid atau biasa disapa Gus Dur. Buku ini membahas berbagai permasalahan umat manusia khususnya umat Islam yang kemudian dikaitkan dengan sisi kemanusiaan. Bagaimana Islam ini nantinya akan menjadi Islam Rahmatan Lil Alamin sesuai dengan Firman Tuhan dalam al-Qur’an.

Buku ini adalah kumpulan dari essai Gus Dur, tetapi bukan berarti buku ini kurang bermakna karena dalam buku ini pembahasannya begitu kompleks. Pada intinya buku ini membahas tentang kemanusiaan, Hak Asasi Manusia. Puncak beragama nanti adalah memanusiakan manusia, agama bukan lagi soal ideologis tetapi antroposentris.

Pindah agama, adalah salah satu tema menarik dalam buku ini. ketika muslim memilih murtad dalam agama hanya ada dua pilihan yaitu kembali pada Islam dan hukuman pancung. Inilah yang dikritik oleh Gus Dur, yang mengatakan bahwa ini adalah masalah politis, bukan atas nama keyakinan.

Islamku dalam judul buku ini memiliki arti Islam dari sisi pengalam pribadi, Gus Dur melewati berbagai fase fase keagamaan dimana beliau sempat menjadi pengikut Ikhwanul Muslimin yang termasuk dalam Islam garis keras. Yang kemudian sampai membawa Gus Dur pada pemikirannya tentang Islam yang menjunjung tinggi kemanusiaan. Orang ziarah, orang yang berziarah tidak pernah menanyakan apakah wali yang disebut-sebut dalam kubur itu benar-benar ada atau hanya seseorang yang dikultuskan, inilah yang dinamakan Islam Anda. Sedangkan Islam Kita, seseorang memiliki hak untuk memiliki keyakinan terhadap berbagai persoalan keagamaan, termasuk di dalamnya negara. Negara tidak boleh mengintervensi terhadap permasalahan ini, yang nantinya bisa berimbas menjadi agama paksaan. Relasi agama dan negara inilah yang nantinya terangkum dalam tiga kata, Islamku Islam Anda dan Islam kita.

Gus Dur tidak pernah melihat bungkus sebagai sesuatu yang signifikan, tetapi lebih pada substansinya. Islam original adalah islam kultural yang diajarkan oleh Nabi Muhammad bukan malah khilafah yang sering digembar-gemborkan sebagai Islam oiginal oleh para pengikutnya.

Pertanyaan 1 (Mas Adib) : Konsep kemaslahatan dan kedamaian seperti apa yaang ditawarkan oleh Gus Dur?

Gus Dur adalah tokoh yang sangat kaya literatur, sehingga lahirlah Gus Dur sedemikian rupa sebagai tokoh pluralis sehingga sangat cocok untuk menjawab permasalahan yang kini sedang diperdebatkan banyak kalangan. Sehingga madzhab Gus Dur dinilai narasumber sebagai jawaban yang kemudian memang boleh dianut oleh umat Islam, sebagai madzhab yang asli Indonesia.Menggabungkan nilai-nilai keagamaan dan nilai-nilai kemanusiaan adalah sebagai jawaban dalam berbagai problem-problem manusia.

Maslahat menurut Gus Dur adalah HAM, kemaslahatan adalah yang tidak merugikan nilai-nilai kemanusiaan. Akal adalah yang menjadi patokan utama daripada teks (nas), misalnya hifdzu al din dan hifdzu an nafs ketika dalam keadaan terdesak seseorang boleh mendahulukan manusia daripada agama.

Pertanyaan II (Mas Afit) : Agama:Wilayah privasi dan publikasi

Beragama adalah pikiran, pilihan. Ketika seseorang memilih pindah agama berarti seseorang tidak memelihara akalnya.

Wilayah privasi adalah masuk dalam kesalehan ritual, sedangkan kesalehan sosial adalah masuk dalam wilayah publikasi.

Pertanyaan III (Mb Umi):  Bagaimana eksistensi MUI yang masuk dalam pandangan Islam kita yang dinilai malah dapat memecah belah umat?

Menurut Gus Dur, MUI boleh-boleh saja mengeluarkan fatwa-fatwanya, tetapi tetap dalam konsistensinya bahwa Islamku tidak boleh di Islam kitakan, atau pemaksaan terlebih kekerasan di dalamnya. Ketika ikhtilaf sampai pada kedamaian itu tidak mengapa, daripada ikhtilaf yang nantinya memunculkan pertentangan.

Pertanyaan IV (Mas  Ajid): Toleransi dan batasan-batasannya

Usulan Gus Dur sebagai madzhab adalah sah, karena

Pembelaan Gus Dur menurut advokasi dan keadilan dijunjung tinggi, asal tidak menggunakan kekerasan.

Tiga poin penting:

  1. Menjunjung tinggi kemanusiaan
  2. Minoritas harus dibela
  3. Tidak menggunakan kekerasan

Toleransi: keislaman Gus Dur adalah keislaman sufi, yang melalui sekat-sekat simbol dan atribut (formalisasi).

Pertanyaan V (Fifi) : Apakah Gus Dur akan mentoleransi ISIS?

Tidak, karena ISIS menggunakan kekerasan dalam melancarkan aksinya. Batasan toleransi adalah pada intoleransi. Toleransi bukan berarti membolehkan sikap intoleransi, namun justru menolaknya.

Notulen by: Siti Barokatin Ni’mah (Balapikir KSMW Angkatan 2015)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here