Bulan Agustus adalah bulan yang istimewa bagi para generasi muda Indonesia. Karena disamping bulan kemerdekaan Indonesia, juga bulan di mana siswa menjadi mahasiswa. Sebenarnya, baik siswa maupun mahasiswa mempunyai rutinitas wajib yang tidak jauh berbeda. Mereka sama-sama belajar di kelas, mendengarkan keterangan guru, mengerjakan tugas, dan dituntut memperoleh nilai tinggi, guna menjadi syarat kelulusan

Mereka mengulang-ulang aktivitas tersebut, seakan tak ada bedanya sewaktu mereka di bangku sekolah. Yang menyebab mereka melakukan hal itu—selain sistem kuliah—berbeda satu sama lain. Ada yang disebabkan karena ingin mendapatkan ilmu dan menjadi sarjana, ada pula yang disebabkan harapan mendapatkan pekerjaan layak dimasa depan, dan lain sebagainya. Sekilas, rutinitas tersebut tidaklah salah dilanggengkan oleh mahasiswa, apalagi dilatarbelakangi sebuah tujuan, bukan tanpa tujuan.

“Sesuatu yang benar bisa salah dan sesuatu yang salah bisa benar,” kata seorang filsuf dalam mengamati realitas kehidupan. Oleh karena itu, kiranya tidak salah meneliti ulang rutinitas mahasiswa di atas yang sekilas tampak tak salah. Sebagaimana dianjurkan oleh Rene Descartes, bapak filsafat modern. Menurutnya, untuk menuju kebenaran, harus diawali dengan rasa skeptis terlebih dahulu dengan semua hal.

Menurut kamus KBBI, mahasiswa adalah orang yang belajar di perguruan tinggi. Sedangkan menurut Knopfemacher (Suwono, 1978), mahasiswa adalah insan calon sarjana yang terikat dengan perguruan tinggi, dididik dan dan diharapkan menjadi calon-calon intelektual. Kita juga sering mendengar—selain pengertian tersebut—tentang peran dan fungsi mahasiswa, yaitu: Pertama, sebagai iron stock, yang berarti menjadi penerus pemimpin bangsa di masa depan. Kedua, agent of change, sebagai agen perubahan. Maksudnya, saat ada sesuatu yang salah terjadi dalam lingkungan atau masyarakatnya, dia berkewajiban untuk memberbaikinya. Ketiga, sosial control, sebagai kontrol sosial, yang berarti mahasiswa harus peka terhadap kehidupan sosial, dan menjadi kontrol agar tidak terjadi ketimpangan dalam masyarakat. Ke empat, moral force, sebagi penjaga moral, maka seandainya terjadi kemerosotan moral, mahasiswa harus memperbaikinya dengan mencontohkan melewati pribadinya.

Dengan melihat pengertian dan peran serta fungsi mahasiswa di atas, tidaklah dikatakan mahasiswa sejati, kalau aktivitas mereka tak ada bedanya sewaktu masih menjadi siswa. Jika mahasiswa hanya menyibukkan diri dengan rutinan di atas, kiranya sangat sulit—dengan tidak mengatakan mustahil—mampu menjalankan fungsi serta peran yang disematkan padanya. Bagaimana nanti mahasiswa mampu memimpin bangsa, jika saat duduk di bangku kuliah tidak pernah belajar memimpin? Bagaimana mahasiswa merubah keadaan yang tak sesuai, jika waktunya dia habiskan di kelas dan perpustakaan saja? Bagaimana mahasiswa bisa ikut serta mengontrol ketimpangan sosial, jika waktunya habis hanya untuk mengurusi dirinya sendiri? Bagaimana mahasiswa bisa menjaga moral, jika dia tak pernah tampak pada kerumunan?

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here