Oleh Cindy Nadya Dewi (Balapikir 2016)

  1. Pendahuluan

Max weber adalah seorang ilmuwan yang memiliki pengaruh besar terhadap perkembangan sosiologi. Fokus paling utama pemikiran Weber terletak di bidang agama, namun juga meluas ke soal-soal perorganisasian dan proses ekonomi, sistem-sistem politik, organisasi formal dan hukum.

Minat awalnya sebagai sarjana adalah yurisprudensi historis (sarjana hukum), dan dari situ dia mengarahkan diri ke sejarah ekonomi. Ketika studinya kemudian mengarah ke agama, fokusnya bukan kepada agama seperti yang dipahami para teolog atau sejarawan gereja, melainkan kepada hubungan-hubungan antara ide-ide religius/keagamaan dan komitmen-komitmen para penganutnya di satu sisi, dan aspek-aspek lain perilaku manusia, khususnya karakteristik ekonomi suatu masyarakat.

Fokus Weber ke agama mengarah kepada sosiologi agama. Jika dibandingkan dengan Durkheim mendekati agama dari sudut pandang yang sangat berbeda sedangkan Webber memulai satu fase baru untuk memahami hubungan-hubungan yang terjadi antara aspek-aspek religius dan aspek-aspek lain perilaku manusia.[1]

 

  1. Latar Belakang Etika Protestan Max Weber

Max Weber (1864-1930) dilahirkan di Erfurt Jerman pada tanggal 21 April 1864, berasal dari keluarga kaya dan terpandang. Ayahnya adalah seorang birokat dan menempati posisi politik yang terpenting, dan ibunya adalah pemeluk agama yang taat. Tahun 1884, setelah menyelesaikan wajib militer, Max Weber melanjutkan studi di Universitas Berlin belajar hukum, dan setelah tamat dan meraih gelar doktor ia berprofesi sebagai petisi hukum.[2]

Max Weber banyak mendalami masalah ekonomi, sejarah dan sosiologi, kemudian menjadi staf pengajar di perguruan tinggi. Latar belakang kehidupan orang tuanya tampak memiliki pengaruh yang cukup berarti terhadap karya-karya Max Weber. Ibunya seorang pengikut setia Calvinisme, dan banyak orang yakin bahwa faktor ini ikut mendorong Max Weber melakukan studi mendalam tentang ikatan Calvinisme (etika protestan) dengan spirit kapitalisme industrial.[3]

 

  1. Tema-tema dalam Etika Protestan

Orientasi agama dalam kaca mata Max Weber menempatkan ide kedalam konteks nilai-nilai etika protestan. Dalam hal tersebut ide merujuk kepada bentuk tertinggi dari kewajiban moral bagi individu untuk memenuhi tugas-tugasnya dalam urusan duniawi. Konsep tersebut memproyeksikan perilaku religius kedalam aktivitas kehidupan sehari-hari. Tentu saja, ini sangat kontras dengan kehidupan monastik (dalam rumah ibadah) ideal menurut kaum Katholik.[4]

Calling merupakan bentuk ide yang di dasarkan oleh Weber terhadap bentuk tertinggi dalam moral. walau ide tentang calling sudah ada dalam doktrin Martin Luther, Weber berpendapat ide itu makin di kembangkan oleh kaum puritan, yakni; Calvinisme, Methodisme, Pietisme, dan Baptisme. Kebanyakan dari sikusi Weber terkonsentrasi pada Calvinisme. [5]

Dari berbagai elemen dalam Calvinisme, ada satu pendapat khusus Weber dalam tesisnya tentang etika yaitu doktrin Calvin tentang takdir (predestination). Doktrin itu berbunyi; hanya beberapa orang yang terpilih yang bisa terselamatkan dari kutukan, dan pilihan itu sudah ditetapkan jauh sebelumnya oleh tuhan. Menurut Calvin sendiri mungkin bisa merasa yakin atas keselamatan dia sendiri atas dasar instrumen kenabian; namun tak seorangpun dari pengikutnya yang bisa dipastikan mendapatkan penyelamatan. Komentar Weber, dalam ketidak manusiawiannya yang ekstrim, doktrin ini punya konsekuensi bagi kehidupan generasi yang menyerah pada konsisten besar. Perasaan kesendirian di dalam hati yang belum pernah ada sebelumnya.[6]

Dari kondisi tersebut lah, menurut Weber kapitalis dilahirkan. Di level pastoral, terjadi dua perkembangan. Pertama, seseorang menjadi diwajibkan meyakini diri sendiri sebagai ‘orang yang terpilih’ sehingga kurangnya keyakinan bisa dipandang sebagai indikasi kurangnya iman. Kedua, performa ‘kerja yang baik’ dalam aktivitas duniawi menjadi diterima sebagai media dimana keyakinan itu bisa ditunjukkan. Oleh karena itu, kesuksesan calling pada akhirnya dianggap sebagai ‘tanda’ atau ‘sinyal’ tetapi bukan alat untuk menentukan seseorang itu terpilih atau tidak. Akumulasi kekayaan dibolehkan sejauh itu dikombinasikan dengan karir besardan upaya yang sungguh-sungguh. Akumulasi kekayaan di kecam jika dilakukan hanya untuk menopang kehidupan mewah bermalas-malasan atau manja.[7]

Calvinisme, menurut Weber, menyuplai energi dan dorongan moral bagi para wirausahawan kapitalis. Weber mengungkapkan, doktrin-doktrin Calvinisme memiliki ‘konsistensi besi’  dalam disiplin habis-habisan yang dituntut dari para pengikutnya.[8] Kedua aspek dari doktrin panggilan ini, yakni kesungguhan dalam bekerja dan hak serta tugas individu untuk memilih bidang kegiatannya, jelas akan membantu perkembangan ekonomi bila keduanya tidak hanya diajarkan, tetapi dipraktekkan secara aktual. Weber berkeyakinan bahwa kedua aspek tersebut secara merata dipraktekkan di mana saja doktrin Calvinisme tentang takdir (predestination) dipegangi secara sungguh-sungguh.

 

  1. Titik Acuan Sosiologi Agama Max Weber

Karya Weber di sosiologi agama pertama kali dikenal lewat esainya The Protestant Ethic and the Spirit of Capitalism, dalam esai tersebut Weber membahas masalah hubungan antara berbagai kepercayaan keagamaan dan etika praktis, khususnya etika dalam kegiatan ekonomi, di kalangan masyarakat Eropa, Cina, maupun India. Hingga Weber menyimpulkan bahwa kebangkitan kapitalisme didukung oleh sikap yang ditentukan oleh Protestanisme asetik. Jadi bukan (kekuatan) ekonomi yang menentukan agama, tetapi agamalah yang menentukan arah perkembangan ekonomi.[9]

 

  1. Agama dalam Problem Evolusi Sosial

Dalam studi sosiologi agama Weber perspektif evolusi sangatlah berpengaruh besar di kalangan pemikiran kala itu. Untuk mengawali studi sosiologi agamanya, Weber memulai dengan menggali konsep dasar agama primitif. Titik krusial pertama Weber adalah tidak ada masyarakat manusia yang sejauh yang bisa diketahui, tidak memiliki sesuatu yang bisa diklasifikasikan ilmuwan sosial modern sebagai ‘agama’.

Setiap masyarakat memiliki beberapa konsep tentang tatanan adikodrati, ruh-ruh, tuhan-tuhan, atau daya-daya impersonal yang berbeda, dan di beberapa lainnya lebih unggul dari daya-daya yang di pahami manusia sebagai pengatur kejadian-kejadian ‘alamiah’ yang lazim, dan yang hakikat dan aktivitasnya bagaimana, sanggup memberi makna bagi aspek-aspek pengalaman manusia yang tak lazim, sebuah fenomena yang membikin frustasi logika dan sering tidak masuk di nalar.

Perspektif ini, berkeyakinan bahwa apa yang dikodrati bersifat universal, agama menurut weber adalah aspek kehidupan manusia yang universal bahasa atau tabuines, inheren di sistem kekerabatan manusia sendiri. Jadi, konsep apaun tentang ‘manusia lamaiah’ yang tidak dibebani ‘bawaan budaya’ (cultural baggage), hanyalah gambaran fiksi tentang manusia prasejarah yang justru tidak pernah ditemukan bukti kuatnya, karena ditahap primitif manusia  yang saking kuat pengorganisasian sosialnya justru membuat agama seolah-olah ‘lahir’ dari konstelasi sosial itu sendiri. Pandangan bahwa ‘bawaan budaya’ semacam itu mestinya dibuang, dan bahwa manusia rasialnal mestinya ‘menghadapi realitas’ tanpa harus berpengaruh kepada ‘tahayul’ apa pun, sebenarnya dalah produk budaya yang canggih, bukan fakta untuk kondisi awal manusia yang sesungguhnya.

Weber merefleksikan konsep makhluk kodrati dan tidakan-tindakannya, yang dipikirkan ‘manusia primitif’ hanyalah kesehatan, umur panjang, mengalahkan musuh, menjalin hubungan baik dengan anggota-anggota klan, san lain-lain. Di titik inilah, muncul beberapa pertanyaan penting tentang efek dari keyakinan pada yang dikodrati itu bagi penentuan prioritas dan relativitas kepentingan duniawi.[10]

 

  1. Kesimpulan

Max weber merupakan salah satu tokoh yang berpengaruh besar dalam teori-teori sosiologi, lebih tepatnya terhadap sosiologi agama yang kita bahas kali ini. Dalam karya-karya Weber yang menekankan nilai-nilai etika dalam masyarakat protestan. Pendapat tersebut dilatar belakangi karena Weber manganut aliran calvinisme.

Weber tak hanya membagi masyarakat berdasarkan kemajuan teknologi dikala itu, namun ia juga membongkar nilai, norma dan pengetahuan yang berkembang dalam kehidupan masyarakat itu. Menurut Weber, kehidupan masyarakat pre-industrial banyak dilekati oleh tradisi, sementara kehidupan masyarakat industrial-capitalist banyak dipengaruhi oleh rasionalitas.

Dalam buku The Protestant Ethic and the Spirit of Capitalism studi Max Weber memperlihatkan bahwa ada keterkaitan antara etika agama protestan (calvinisme) dengan spirit kapitalisme. Bahwasanya dalam agama protestan(calvinisme)  mengajarkan bahwa untuk beribadah kepada Tuhan, perlu adanya berhemat, kerja keras dan mengembangkan pikiran yang lebih rasional. Etika semacam inilah yang kemudian bertemu dengan spirit kapitalisme. Jadi rasionalitas semacam itu yang hadir dalam kapitalisme industrial secara gradual telah membuat institusi lain seperti agama.[11]

 

 

 

[1] Yudi Santoso, Sosiologi Agama Max Weber, (Jogyakarta: IRCiSoD, 2012), hlm.18

[2] Sunyoto Usman, Sosiologi Sejarah, Teori dan Metodologi, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2015), hlm. 33

[3] Ibid. hlm. 33

[4] Max Weber, Etika Protestan dan Spirit Kapitalisme, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2006), hlm. xxxv-xxxvi

[5] Ibid. hlm. xxxvi

[6] Ibid. hlm. xxxvi

[7] Ibid. hlm. xxxvi-xxxvii

[8] Ibid. hlm. xxxvii

[9] Yudi Santoso, Sosiologi Agama Max Weber, (Jogyakarta: IRCiSoD, 2012), hlm. 19-25

[10] Ibid. hlm. 28-31

[11] Sunyoto Usman, Sosiologi Sejarah, Teori dan Metodologi, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2015), hlm. 35-37.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here