Judul Buku : Membaca Sejarah Nusantara; 25 Kolom Sejarah Gusdur
Penulis : Abdurrahman Wahid (Gusdur)
Penerbit : LKiS
Kota Terbit : Yogyakarta
Tahun Terbit : 2010
Jumlah Halaman : 133
Resensator : Umi Ma’rufah

Sangat menarik apabila kita mau mencermati persoalan dalam catatan sejarah bangsa kita. Selama ini kita cenderung dibuat terpukau akan lambang-lambang kesejarahan serta menghafal nama-nama serta tahun-tahun dalam pendidikan di sekolah-sekolah kita. Catatan sejarah hampir-hampir tidak dibuat, dengan demikian kita lalu harus meraba-raba masa lampau kita sendiri. Kritik inilah yang juga disampaikan Gusdur dalam buku yang berjudul Membaca Sejarah Nusantara. Buku yang merupakan kompilasi 25 kolom sejarah Gusdur ini layak menjadi rujukan bagi kita yang ingin memahami sejarah sebagai sebuah proses.

Dalam buku ini, kita akan banyak menemukan hasil pembacaan Gusdur terhadap sejarah masa lampau yang dapat ditarik untuk membaca keadaan saat ini. Watak penguasa yang dibaca dari kisah Ki Ageng Gringsing, konflik beda agama yang terjadi antara Kerajaan majapahit dan Kerajaan Singosari, tumbuhnya LSM/Ornop berdasarkan kisah Sultan Hadiwijaya, wacana geopolitik dalam sejarah perang Bubat, sampai menyoal nasionalisme dalam tradisi dan bahasa yang ada dalam sejarah Kaum Bugis. Belajar dari hal tersebut, kita akan semakin terpacu untuk menelusuri sejarah sebagai sebuah proses pembelajaran dan menggali nilai-nilai kearifan.

Gusdur dan Kritik Kesejarahan

Bentuk definitif sejarah kita masih sangat lama akan tercapai. Begitulah kata Gusdur dalam salah satu tulisannya dalam buku Membaca Sejarah Nusantara. Hal itu beliau sampaikan berkenaan dengan kedudukan, peranan, serta keterlibatan orang kaya, para ulama, petani, pemerintah, dan militer dalam membentuk keutuhan catatan sejarah. Menurut gusdur, butuh waktu lama untuk menggali dan mengangkat cerita-cerita tutur dan tertulis yang hidup di kalangan bangsa kita untuk menjadi sumber-sumber sejarah yang autentik (hlm. 63). Segala macam keterangan harus diserap kemudian diolah menjadi keterangan sejarah yang autentik.

Beberapa kali Gusdur mengkritik serta memberikan masukan terhadap penggalian sejarah masa lampau. Termasuk dalam melakukan penafsiran sejarah. Dalam Membaca Sejarah Lama nomor 19, Gusdur menguraikan bahwasanya apa yang berhasil ditafsiri oleh para sejarawan hampir selalu menimbulkan keragu-raguan untuk menggunakan kerangka penafsiran apapun dalam menafsirkan sejarah manusia. Hal itu dikarenakan adanya anggapan bahwa tidak adanya kerangka yang tepat untuk itu. Namun keragu-raguan seperti itu juga patut diragukan, karena jangan-jangan memang ada penafsiran yang layak digunakan. Maka menurut Gusdur, sikap yang benar adalah memahami sebuah cara penafsiran secara tuntas untuk digunakan pada sebuah kasus saja, dengan tidak menempuh cara generalisasi (ta’mim) apapun (hlm. 98).

Dalam bagian lain juga, Gusdur menyinggung soal nasionalisme dan kecondongan sejarah. Dimana setelah menjelaskan tentang sejarah kaum Tionghoa di daratan Nusantara, Gusdur mengingatkan bahwa rasa nasionalisme kita tidak boleh menghilangkan objektifitas sejarah kita. Juga dalam bagian yang sama, Gusdur mencontohkan pembentukan Darul Islam (DI) di kawasan Jawa Barat, sesungguhnya adalah bagian dari strategi mengisi kekosongan akibat hasil perjanjian renville yang menyatakan bahwa Republik Indonesia hanya meliputi kawasan Jawa Tengah. Bahwa kemudian menjadi sebuah pemberontakan adalah masalah lain.

Memisahkan antara yang fakta dan mistifikasi juga penting dalam menilai sejarah. Hal ini dikemukakan Gusdur yang mencermati bahwa masyarakat kita ternyata banyak terjebak dalam mistifikasi yang diyakini sebagai sebuah fakta. Salah satu contohnya adalah mistifikasi seorang komunis yang digambarkan tegap dan besar, dan menggunakan nama samaran yang membedakannya dari orang biasa. Dengan mistifikasi seperti itu, ia tampak menjadi lebih pandai dan lebih mampu menyembunyikan diri dari orang biasa. Padahal dalam kenyataan fisik tidak demikian (hlm. 90). Setidaknya begitulah paparan Gusdur pasca beliau mengetahui bahwa orang bernama Husein yang sering menemui ayahnya sewaktu di jakarta adalah sosok Tan Malaka. Menjadi tugas para sejarawan pula untuk memisahkan fakta sejarah dari mistifikasi, dan dengan demikian memisahkan kenyataan sejarah dari legenda.

Mari Mengenal Gusdur

Bukan Gusdur apabila tidak memasukkan lelucon atau kelakar dalam pembicaraan maupun tulisannya. Buku yang mengulas tentang sejarah ini juga tidak luput dari candaannya. Di tengah keseriusan pembaca dalam memahami tuturan Gusdur mengenai sejarah, Gusdur meminta perhatian pembaca untuk menjawab sebuah teka-teki, apa beda antara sapi dan sapi’i? kalau sapi ekornya dibelakang, sedangkan sapi’i… (jawab sendiri). Tentu saja humornya ini tidak berkaitan dengan uraian sejarah yang kemudian dipaparkannya. Karena pada bagian terakhir ini, Gusdur menyoal tentang agama dan perempuan dalam sejarah nusantara.

Selain membahas mengenai hal-hal yang bersifat politik dan kekuasaan, Gusdur juga turut membahas tentang kedudukan perempuan dalam sejarah nusantara. Sejarah nusantara yang memaparkan betapa besar tempat yang diduduki perempuan dalam kehidupan di Asia Tenggara secara antropologis ini membawa konsekuensi berupa kebolehan perempuan untuk turut aktif dalam kehidupan, di samping laki-laki. Pada poin pentingnya, saya menggarisbawahi catatan bahwa dalam agama apapun yang kita peluk di kawasan ini, tidak pernah menghambat perempuan dan apa yang mereka yakini. Berbahagiakah kita akan hal ini, atau justru kita harus meratapinya? Sejarah jualah yang akan menjawabnya.

Itulah singkatnya yang pembaca buku “Membaca Sejarah Nusantara” karya Gusdur dapat tuliskan pada kesempatan ini. Semoga bisa menjadi pendorong semangat untuk terus belajar dari pemikiran para tokoh bangsa dalam mengenal sejarah bangsanya, utamanya dari Gusdur. Banyak yang mengatakan sulit memahami pemikiran Gusdur, bahkan hal itu disampaikan oleh muridnya sendiri. Bagi saya yang juga secara langsung mengetahui pemikirannya – melalui tulisan-tulisannya – tentu dalam beberapa bagian mengalami kesulitan dalam memahami pemikirannya. Sehingga, bisa jadi apa yang saya tulis ini ternyata tidak sama dengan apa yang menjadi maksud Gusdur. Maka alangkah baiknya jika pembaca yang budiman juga membaca sendiri karya-karya Gusdur, agar tidak terjebak pada pemahaman saya yang alakadarnya ini.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here