Judul               : PSIKO-HERMENEUTIK KITAB SUCI, Kajian Dari Sudut Psikologi Agama

Penulis             : M. Yudhie Haryono dan Nurlyta Hafiyah

Tahun Terbit    : 2012

Penerbit           : KalamNusantara

Tebal               : 214 halaman

ISBN               : 978-602-97319-5-8

Resentator       : Hasan Ainul Yaqin

 

“Sejarah tidak boleh berulang kecuali untuk kemanusiaan yang memanusiakan, yang menyelesaikan konflik dengan solusi kedamaian. Dalam sejarah, manusialah subjeknya, ia bukan binatang buas maupun sekrup pabrik yang kaku. Ia punya iman, rasa, dan nalar yang akan menyelamatkan. Karena itu, manusia harus menjadi kristus yang asih, Muhammad yang adil, dan Mahatma Gandhi yang selalu berjuang untuk sesame dengan rela” halaman 69

Hingga saat ini isu perang, saling kafir mengkafirkan, dan saling sesat menyesatkan atas nama agama di dalam masyarakat kita telah banyak memakan korban kemanusiaan. Saling tikam antar sesama agama kian mewabah, ujaran kebencian tidak terbendung. Semua yang dilakukan kebanyakan mengatasnamakan agama dan atas perintah Tuhan. Sementara cinta kasih pada sesama manusia semakin memudar.

Kenyataan ini tentu tidak bisa dielakkan dan harus kita akui bersama bahwa agama seakan mengalami kegagalan membawa pemeluknya pada jalan yang lurus. Agama telah kehilangan relevansinya. Kehilangan relevansinya, sebab agama yang dijadikan pedoman hidup bagi pemeluknya ternyata telah menjadi momok yang menyeramkan bagi pemeluknya lebih – lebih pada pemeluk agama yang berbeda. Buktinya banyak dalam suatu kasus yang telah mencabik akar kemanusiaan didasarkan pada agama.

Dalam buku Psiko – Hermeneutik Kitab Suci, Yudhie Haryono dan Nurlyta Hafiyah memberi penjelasan untuk mengungkap tabir ada apa sebenarnya dalam tubuh agama serta mengapa masyarakat kita dalam beragama seringkali terlibat pada kasus yang sebenarnya bukan bagian dari norma agama. Penulis tersebut mencoba dengan beberapa sudut pandangnya untuk menjawab sekelumit persoalan yang terjadi yang mengatasnamakan agama dan Tuhan.

Dalam hal ini kita harus mengubah nalar masyarakat kita dalam beragama. Solusi yang mencerahkan perlu dihadirkan supaya manusia tidak terjebak pada lubang yang sesat. Lubang sesat itu yaitu apabila agama menampilkan permusuhan, ujaran kebencian, dan pembelaanya pada status quo. Justru agama harus dikembalikan pada jalan Tuhan yang sebenarnya. Yaitu jalan yang di setiap rambu-rambunya terdapat cinta kasih, perdamaian, kesejahteraan, serta keberpihakan pada mereka yang lemah. Inilah sebenarnya agama harus berfungsi dan pemeluk agama harus memerankanya.

Tuhan dan Simbol Ketuhanan

Manusia harus menjadikan Tuhan sebagai kebenaran, keadilan, kasih sayang yang wajib dicontoh untuk dipraktikkan. Bila ada ajakan atas nama Tuhan melenceng dari hal tersebut itu bukan bagian dari Tuhan. Tetapi itu jalan sesat yang hanya mengatasnamakan Tuhan. Mengatasnamakan Tuhan dengan Tuhan sendiri tentu berbeda.

Disini penulis membedakan antara Tuhan, Firman Tuhan, dan Tradisi. Tradisi dan firman Tuhan berbeda dengan Tuhan itu sendiri.  Keduanya adalah jalan mengenal Tuhan. Namaya jalan adalah suatu proses yang masih belum tiba pada ujungnya. Sehingga dengan menjadikanya ia jalan(proses pencarian) manusia akan berusaha menghormati agama lain yang mempunyai jalan dan firman yang diyakini masing-masing.

Hal demikian untuk mencounter semua agama agar tidak merasa paling benar dan pemeluk agama lain adalah salah. “kita boleh merasa benar apa yang kita yakini, tetapi bukan berarti apa yang kita yakini satu-satunya kebenaran”. Jangan sampai keduanya (firman Tuhan dan tradisi) berubah menjadi Tuhan baru yang disucikan. Jika menjadi Tuhan baru maka yang terjadi adalah menguasai, mencandui, bahkan meracuni pemeluknya dengan akut hal 57

Dan ini yang kita rasakan saat ini. Kita bukan lagi menghormati Tuhan, tapi lebih kepada simbol – simbol keagamaan dan kepatuhannya terhadap teks-teks keagamaan. Maka yang terjadi kata Gunawan Muhammad apabila keduanya lebih kokoh daripada iman kepada Tuhan akan melahirkan ortodoksi. Sementara ortodok selalu bersemayam dengan kekerasan.

Faktor Kekerasan Berbau Agama

Peristiwa penting yang menyebabkan kekacauan di ruang publik, seperti adanya kekerasan, ujaran kebencian, saling menghina satu sama lain ada bebarapa faktor yang menjadi landasan. Salah satunya tidak lepas dari tokoh berpengaruh dalam lingkungan sosial masyarakatnya. Tokoh itu adalah yang dianggap pemuka agama, seperti kyai, romo, dan pendeta.

Mereka (tokoh agama) memberi sugesti pada pemeluknya untuk berbuat sesuai yang diperintahkan. Sugesti ini sangat kuat dalam berelasi dengan kekuasaan yang lebih tinggi di atasnya. Mereka yang di bawah akan menerima apa yang disampaikan. Maka tidak bisa dielakkan, bila terjadi ujaran kebencian, dan politisasi agama ada peran tokoh agama di sana yang mendorong pemeluknya berbuat hal yang semestinya dalam agama dilarang.

Mengapa demikian? Bukankah tokoh agama berpengetahuan, tentu dengan pengetahuanya tidak dimungkinkan bertindak melenceng dari norma ataupun kode etik terlarang? Nah, Disinilah pengetuan keluar dari konteksya. Pengetahuan bukan untuk pengetahuan itu sendiri. tapi lebih berorientasi pada kekuasaan, kepentingan, bahkan melegalkan segala macam penindasan.

Selain tokoh agama, faktor peperangan dan ujaran kebencian pada pemeluk agama lain karena adanya matrialisasi teks. Artinya teks ditemukan ayat perlawanan bahkan perintah perang. Sepanjang berfaham kamilah yang benar dan mereka yang salah, yang terjadi fenomena perang dengan atas nama agama tidak akan pernah berakhir. Hal demikianlah yang kemudian melahirkan apa yang disebut fundamintalisme agama.

Fundamentalisme agama muncul bukan tanpa sebab, tapi fundamentalisme dilahirkan dari penafsiran terhahad kitab suci secara tidak hati-hati dan serampangan. Akibatnya ketika terjadi pembunuhan, penghinaan, dan saling kafir mengkafirkan terhadap pemeluk agama lain seolah dilegalkan dalam agama dan atas perintah tuhan. padahal tidak.

Oleh karena itu, jangan sampai teks – teks kitab suci disucikan sebagaimana mensucikan Tuhan. Teks- teks suci hanya jalan mengenal Tuhan. Dan agama lain punya kitab suci masing-masing, dalam arti punya jalan masing-masing. Karena itu kesadaran pluralitas dan kewajiban menghadirkan sikap toleran harus dilakukan tiap tempat dan waktu demi menjaga keharmonisan dalam kehidupan yang mendewasakan. Hal 85

Agama Sebuah Pencarian

Agama hendaknya dijadikan sebagai sebuah pencarian, bukan dari akhir segala kehidupan. Orientasi beragama harus melibatkan pendekatan yang terbuka serta mempertanyakan terhadap isu agama serta pandangan yang nirprasangka terhadap dunia.

Apalagi di abad media seperti sekarang ini, orang dapat mengekspresikan kehendaknya secara bebas. Pesan – pesan yang berbau agama bertebrangan di mana mana. Karena itu kita harus ambil tindakan secara bijaksana yaitu menyaring segala bentuk informasi yang beredar agar tidak menambah keruh keadaan. Saring itu berupa tabayyun/ verikasi terlebih dahulu. verivikasi bisa melalui dialog atau bertanya pada ahlinya.

Kalau sekiranya informasi yang merugikan orang lain, menyerang kelompok yang berbeda atas dasar agama sekalipun, mau tidak mau harus kita sepakat bahwa perbuatan tersebut bukan bagian dari norma agama yang diperintahkan. Semua agama mengajarkan kebaikan yang menebar kasih sayang kepada setiap ummat manusia.

Buku Psiko-Hermeneutik kitab suci ini ditulis dengan mengambil beberapa perspektif seperti yang telah disampaikan di bagian pengantar buku ini. Baik dari sejarah, ilmu tafsir, psikologi, hermeneutik dan lain-lain. inilah yang menjadi kelebihan daripada buku ini. sehingga membacanya pun ketika mengamati persoalan yang mengatasnamakan agama tidak sebatas pada masalah agama saja. Tapi ada faktor lain yang melingkupi.

Adapun kekurangan dalam buku ini, peresensi menilai berada pada halaman 155. Penulis menggantungkan ulasanya, dalam arti belum menjelaskan apa yang diistilahkan oleh Gerrtz seperti yang dikutib penulis sendiri. selebihnya buku ini manarik dibaca untuk mengubah nalar kita dalam beragama mengingat peristiwa akhir – akhir ini seperti perang, saling caci di ruang publik maupun maya atas nama agama kian nampak. Harapanya kita mampu menjadi manusia yang memanusiakan manusia. Bukan sebaliknya yang mengancam kemanusiaan atas dalih apapun.

*Kordinator Ekosospol KSMW 2017 & 2018

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here