Indonesia adalah negara yang kaya akan sumber daya alam. Semua orang di dunia mengakui itu. Kita tentu masih ingat bagaimana Belanda menjajah Indonesia untuk memanfaatkan kekayaan alamnya. Saat itu, pencarian rempah-rempah menjadi tujuan utama dari penjajahan Belanda. Hingga selama tiga ratus tahun Belanda merampas kekayaan alam Indonesia.

Kini kemerdekaan telah kita raih. Sayangnya, berhentinya penjajahan yang dilakukan secara langsung ternyata tak berimbas banyak pada berhentinya penjajahan sumber daya alam oleh negara asing. Sampai saat ini negara kita masih di jajah. Sumber daya alam kita masih di jarah bahkan tanpa kita sadari.

Coba kita perhatikan bagaimana pertambangan yang dikuasai oleh perusahaan asing telah mengeruk habis sumber daya alam kita. Dari mulai pertambangan emas, batu bara, pasir, dan karst. Hampir semua sektor alam kita dimanfaatkan oleh perusahaan tambang asing. Freeport dari Amerika yang menambang emas di tanah Papua salah satunya. Tentu saja keuntungan yang didapat lebih banyak akan dibawa pulang ke negara asalnya. Dan kita lagi-lagi hanya menjadi buruh di negara sendiri.

Kikis Paradigma Postkolonial

Kolonialisme Dunia Barat telah mewariskan banyak hal bagi dunia terjajah. Termasuk Indonesia yang pernah dijajah oleh Belanda selama kurun waktu tiga setengah abad lamanya. Warisan Kolonial yang tidak hilang hingga sekarang adalah mental kolonial. Mental kolonial untuk menguasai dan mengeksploitasi sumber daya alam diwarisi oleh para pemegang kekuasaan negeri ini. Dalam melakukan pembangunan misalnya, paradigma yang dipakai selalu berkiblat pada paradigma yang tumbuh di dunia barat. Paradigma itu diantaranya adalah rasionalisme dan antroposentrisme.

Rasionalisme memandang bahwa kebenaran segala sesuatu diukur berdasarkan akal semata. Maka segala sesuatu yang dianggap tidak masuk akal dianggap kurang atau bahkan tidak memiliki kebenaran. Sehingga pengetahuan empiris menjadi landasan bagi setiap tindakan. Bagi pengetahuan yang bersifat irrasional akan tersingkirkan dengan sendirinya, seperti pengetahuan kearifan lokal yang banyak dimiliki oleh masyarakat adat.

Sedangkan antroposentrisme adalah paradigma yang memandang bahwa pusat dari kehidupan adalah manusia. Pandangan ini mengatakan bahwa manusia adalah satu-satunya makhluk berakal yang bertugas mengatur kehidupan dan berhak atas pengelolaan sumber daya alam. Antroposentrisme juga memandang segala sesuatu diluar manusia hanyalah benda atau objek yang dapat dimanfaatkan demi kepentingan manusia.

Kedua paradigma inilah yang kini juga dipakai oleh proses pembangunan di negara kita. Lebih berbahaya lagi ketika negara berselingkuh dengan kepentingan korporasi. Segala cara akan dipakai agar bisa mengeruk sumber daya alam bahkan jika itu juga berurusan dengan hukum . Ketika hukumpun kemudian tak berdaya melawan kekuasaan korporat, maka jalan satu-satunya untuk menjaga kelestarian alam dari kerakusan manusia adalah melakukan penguatan gerakan masyarakat melalui kearifan lokal.

Angkat Kearifan Lokal

Masyarakat Indonesia sejak dulu merupakan masyarakat yang kental akan nuansa mistis dan ghaib. Ukuran kebenaran tidak hanya didasarkan oleh akal semata melainkan juga pengaruh ghaib diluar akal manusia. Mereka memandang bahwa alam adalah bagian dari kehidupan. Cara pandang mengenai manusia sebagai bagian integral dari alam, serta perilaku penuh tanggungjawab, penuh sikap hormat dan peduli terhadap kelangsungan semua kehidupan di alam semesta, telah menjadi cara pandang dan perilaku berbagai masyarakat adat di Indonesia. Inilah yang dalam istilah akademik disebut dengan ekoposentrisme.

Terlepas dari penilaian sebagian orang yang menganggap cara pandang itu sebagai sebuah kemunduran berpikir dalam masyarakat kita, sebagian yang lain justru menilai bahwa dari pandangan demikianlah alam kita dapat terjaga kelestariannya. Salah satunya adalah sebagaimana yang diungkapkan oleh Noer Fauzi Rahman dengan meminjam istilah Polanyi, bahwa tanah sebagaimana juga alam melekat sepenuhnya dengan relasi-relasi sosial (Jurnal Wacana, 2004) yang itu tercermin dalam tradisi masyarakat adat. Dalam masyarakat adat, bermacam mitos yang hidup telah menjadikan segala sesuatu termasuk alam mempunyai kehidupan yang tak boleh diganggu gugat.

Penghormatan yang sangat besar kepada alam membuat masyarakat adat kita hidup berdampingan serta selaras dengan alam. Inilah kearifan lokal yang mestinya kita jaga. Bukan hanya sebagai identitas kita, tetapi juga menjadi upaya paling efektif untuk menjaga kelestarian lingkungan dan memperjuangkan kehidupan alam dari tangan-tangan yang ingin merusaknya.

Jika pembangunan kita sekarang bertumpu pada pembangunan sektor industri dan pertambangan untuk meningkatkan neraca pertumbuhan ekonomi di mata dunia, maka yang akhirnya menjadi korban adalah masyarakat lokal. Bukan hanya tanah dan sumber daya alamnya yang tereksploitasi, budaya dan identitasnyapun turut tergerus dengan semakin banyaknya pengaruh neoliberalisme. Maka menyoal paradigma pembangunan menjadi penting karena paradigma itu yang akan menentukan masa depan bangsa. Akankah masih berwatak kolonial, ataukah sudah mau bertransformasi pada kearifan lokal?

* oleh Umi Ma’rufah (Ketua UKMU Kelompok Studi Mahasiswa Walisongo) tulisan ini juga pernah dimuat dalam koran Tribun Jateng kolom opini mahasiswa tanggal 28 April 2017)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here