Oleh Ahmad Muqsith, Rektor UKM KSMW Tahun 2015
Melihat MOB yang diselenggarakan oleh Panitia PBAK tentu kita harus menarik nafas dalam-dalam. Karena pertama, kita mungkin senang, bangga, dan larut dalam kebahagiaan. Bagaimana tidak, seumur-umur kampus yang terletak di dataran tinggi Ngaliyan ini, UIN Walisongo, akhirnya mendapat prestasi yang diakui oleh MURI. Konon MOB kali ini mematahkan rekor dari UNS yang sebelumnya hanya mampu membuat 10 konfigurasi MOB. Sedangkan kita menang 3 konfigurasi lebih banyak. Tetapi, bisa saja kita menarik nafas karena tidak menyangka kalau dana puluhan juta digelontorkan demi prestasi diatas kertas tersebut?

Pertanyaannya, apa sebenarnya yang ingin DEMA buktikan melalui rekor MURI ini? Konon, pemecahan rekor ini bisa mendongkrak akreditasi institusi pendidikan kita. Jika benar, menurut asumsi penulis, maka alumnusnya akan merasa terbantu dengan pengatrolan akreditasi institusi yang selama ini masih kesulitan untuk masuk 20 besar peringkat akreditasi terbaik perguruan tinggi versi Kemenristekdikti. Di tengah keterbatasan sarana dan prasarana yang selalu jadi tema rutinan majalah dan buletin lembaga pers mahasiswanya, pemecahan rekor ini tentu menggembirakan. Tetapi, sungguh disayangkan apabila dibalik sesuatu yang menggembirakan itu ternyata memunculkan kesedihan.

Dalam bahasan yang paling kritis, menurut penulis kita bisa melompat dari mempermasalahkan MOB bukan hanya dari sumber pendanaannya. Kita bisa membahasnya mulai dari entitas unit penyelenggarnya. Adalah DEMA yang bertanggung jawab atas pelaksanaan MOB tersebut. Jika DEMA adalah entitas event organizer (EO) maka pemecehan rekor ini suatu yang patut dikenang dan diformalinkan dalam bentangan sejarah lembaga kemahasiswaan UIN Walisongo. Pasalnya bukan perkara gampang mendesain konfigurasi sebanyak itu dengan pengkondisian masa ribuan orang. Salah memberi kertas berwarna atau salah pada satu komando saja, bisa kacau gambar yang dirancang karena nilai yang ingin disampaikan akan hilang. Keberhasilan 13 konfigurasi ini menunjukan DEMA sebagai EO patut diapresiasi prestasinya.

Sementara disisi lainnya, jika DEMA adalah entitas politik maka hal ini bisa diperdebatkan. Oleh karena itu penulis sebagai mahasiswa yang sudah lulus tapi masih sempat memilih presiden Dema sekarang pada Desember silam, ingin menyampaikan pendapat dalam surat terbuka ini.

Sebagai entitas politik tentu DEMA harus produktif dalam menelurkan kebijakan politis yang menyangkut kepentingan orang banyak, tentu saja kebijakan yang pro mahasiswa. MOB ini barangkali mereka maknai sebagai keputusan publik yang menguntungkan banyak pihak. Nama baik institusi, kebanggaan mahasiswa baru yang terlibat secara langsung dalam pemecahan rekor MURI, dan konon akan naiknya akreditasi institusi, dengan begitu alumnusnya bisa meninggalkan gerbang kampus dengan mengangkat kepalanya, bangga!

Jika benar begitu asumsinya—karena penulis tidak tahu pasti apa yang dipikirkan DEMA—maka penulis tidak sependapat. Alasan pertama, pendidikan yang bertujuan membebaskan bukanlah diukur dari seberapa banyak konfigurasi yang berhasil dibuat. Meskipun masing-masing gambarnya ditujukan untuk menyampaikan suatu pesan tertentu, tetapi apa jaminan membentuk satu konfigurasi bertuliskan “Tolak Korupsi” dengan internalisasi dan implikasi nilai-nilai anti korupsi dalam perilaku sehari-hari mahasiswa baru? Ini fenomena global, dimana kita terjebak dalam nilai-nilai artifisial yang populer, yaitu nilai rekaan yang menempel tapi tidak tertanam dan mendarah daging.

Kedua, dengan mengambil asumsi tadi, berarti DEMA menganggap proses pendidikan punya korelasi yang sangat erat dengan peluang kerja. Artinya, jika akreditasi bagus, maka peluang kerja semakin terbuka lebar. Hal yang ingin penulis sampaikan, janganlah menjadikan kampus seperti mesin besar yang menyiapkan robot-robot pekerja dengan mindset “IPK tinggi-Akreditasi bagus berarti semakin mendekatkan diri dengan peluang kerja impian”. Jika begitu maka kampus hanya akan menjadi sesuatu yang mekanikal. Yakni produsen komoditas pendidikan yang siap berdagang. Dengan begitu Entitas DEMA sebagai lembaga politik bisa dituduh telah kehilangan daya liberasinya (membebaskan).

Kalau anda mempertanyakan apa saran penulis setelah gemas membaca pendapat diatas yang mungkin tidak anda setujui, maka melalui tulisan ini pula penulis sampaikan. Tema “anti Korupsi” yang digagas dengan paket mendatangkan anggota Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) harus kita akui itu sebagai sebuah prestasi. Tetapi menyoal MOB, penulis justru sangat ingin menyampaikan sebuah gagasan baru.

Dalam sejarah filsafat, pada zaman Yunani kuno, ada taman bernama Agora. Disana setiap orang biasa berkumpul membincangkan permasalahan sosial sehari-hari denngan posisi sejajar. Menciptakan “Pojok Anti Korupsi” juga sama halnya dengan taman tersebut. Bangunlah satu ruangan dengan sarana buku, jurnal, hasil penelitian dan kajian yang temanya serba anti korupsi.

Bayangkan jika satu buku bagus seharga Rp 100.000, maka 10 buku tentang anti korupsi yang berkualitas hanya senilai satu juta rupiah. Jika MOB menghabiskan tiga puluh juta rupiah, maka jika dikonversi menjadi buku bisa mendapatkan 300 buku berkualitas. Bayangkan jika dari ribuan mahasiswa tersebut membaca 1 dari 300 buku berkualitas tersebut, bukankah itu bisa menjadi investasi perlawanan anti korupsi yang cukup serius? Pihak kampus dapat memanfaatkan ruangan seperti “American Corner” sebagai pusat bacaan pendidikan anti korupsi. Coba pikir mana yang lebih efektif, antara menghabiskan dana untuk membuat MOB bertuliskan “anti korupsi” atau membuat “Pojok Anti Korupsi”?
Jika ide ini terwujud, maka sangat disayangkan kalau nama Presiden DEMA tidak dikenal dalam catatan sejarah piagam MURI. Sayang sekali, kita juga tidak bisa membagikan atau membuat “viral” halaman depan koran-koran lokal yang menampilkan gambar MOB berrekor MURI ini di akun sosial media kita, baik mengatasnamakan pribadi ataupun kelembagaan. Sekali lagi, sebagai entitas EO, prestasi DEMA ini patut diapresiasi. Namun sebagai entitas politik, adanya MOB ini hanyalah sebuah pseudo prestasi.

1 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here