Oleh : Hasan Ainul Yakin

Semenjak kran demokrasi terbuka lebar, kebebasan atas nama apapun digaungkan oleh masyarakat ke permukaan. Semua orang yang bernaung di dalamnya menunjukkan dirinya ke ruan publik dengan menampakkan ekspresi berbeda-beda dan mengaku benar atas tindakan yang dilakukan.

Baik aliran, golongan, maupun identitas, merasa tidak perlu ada yang ditakuti serta dikhawatirkan dalam mengekspresikan tindakanya. Dari kebebasan inilah dalam berdemokrasi pada akhirnya menumbuhkan apa yang disebut fenomena populisme. Dengan kata lain, munculnya kembali ide tentang ras dan keunggulan identitas atas nama agama.

Seperti dijelaskan Setyo Wibowo pada sekolah filsafat kritis di Universitas Sanata Dharma Yogyakarta mengatakan, bahwa fenomena populisme lahir akibat demokrasi melemah, dan bisa juga lahir karena jurang kebebasan dalam sistem demokrasi terbuka lebar. Pada saat kondisi yang serba bebas itulah kemudian lahirlah manusia tirani yang merasa dirinya paling sempurna dan paling benar. Mereka memegang erat-erat pendapatnya dan mengklaim kalau pendapat yang diyakini adalah kontekstual dan valid kebenaranya.

Apabila cara berdemokrasi tidak ada rem yang mengontrol, tidak ada nilai yang dijadikan pedoman, tidak ada moral untuk dijadikan pegangan, dan tidak ada hukum yang dijadikan kesepatan bersama, demokrasi akhirnya bablas yang pada saat tertentu kondisi dalam berbangsa ini menjadi keruh yang dipenuhi lumpur kesamrawutan akibat teriakan, gerakan, dan tindakan yang mengatasnamakan kebebasan dalam berdemokrasi.

Kegalauan Masyarakat Demokratis

Era demokrasi membuat orang bingung dan galau. Kebebasan yang tanpa batas membuat orang kehilangan pijakan untuk memandu jalan hidup dirinya. Pada kondisi seperti itu mereka mengidamkan patokan untuk dijadikan pegangan. Setelah pegangan itu didapat kemudian memunculkan apa yang disebut fanatisme pada golongan, sosok, bahkan pada agama yang mereka percayai. Sementara pada yang bersebrangan dianggapnya salah. Semua masyarakat demoratis di era populis berpandangan dirinya sendiri yang benar, dan orang lain salah.

Menilik masyarakat Indonesia, mereka terlalu nyaman dan terlena atas kebebasan yang mereka hirup sekarang ini, tapi mereka lupa bahwa kebebasan yang telah diraihnya adalah hasil perjuangan para tokoh bangsa Indonesia, selain itu kebebasan merupakan hasil pertempuran yang telah memakan banyak korban. Inilah yang masyarakat alpakan. Ada harga mahal yang harus dibayar agar dapat bebas. Masyarakat bukan hanya memanfaatkan kebebasan, tapi menjaga kebebasan agar tidak menguap dengan sendirinya.

Dalam Bahasa Platon, demokrasi membunuh insting manusia mengenai pentingnya tatanan, karena merasa tidak penting terhadap tatanan, masyarakat demokratis berbuat semaunya, menikmati kebebasan tanpa batas. Sementara dalam Bahasa Nietzsche mengatakan bahwa masyarakat demokratis lupa akan pentingnya disiplin penundukkan diri supaya menjadi tuan atas dirinya sendiri.

Seperti disebutkan di atas, bahwa inti demokrasi adalah kebebasan dan kesetaraan. Kebebasan yang bablas dan kesetaraan tanpa batas memunculkan manusia tiranik-tiranik kecil. Berbekal kebebasan dan kesetaraan semua yang difikirkan boleh dilakukan tanpa harus ada yang ditakuti. Masyarakat tirani tidak peduli masalah kehati-kehatian. Segalanya ditafsirkan semaunya atas nama kebebasan berekspresi.

Masyarakat tirani menantang semua orang yang melawan arus dengan persepsinya. Mereka tidak pandang bulu untuk dicercanya, difitnahnya, dan semua yang dilakukan pihak berlawanan denganya dipandangnya salah, dan tidak pernah kenyang untuk mengkritiknya.

Manusia demokratis yang terpecah menjadi manusia tiranik tumbuh berkembang menjadi orang paling pintar, paling hebat, paling tahu, paling mumpuni, dan paling otoritatif. Ia menilai dirinya lebih cerdas daripada yang lain.

Kaum Tiran; Cebong, Kampret dan Golput

Dalam analisis yang disebut Platon dan Nietzsche, Dewasa ini kita mungkin dapat menganalis siapa makhluk tirani dalam konteks Indonesia. sebelum pemilu tiba, publik dan sosial media digaduhkan dengan kehadiran makhluk tirani seperti yang disebut Platon dan Manusia budak kata Nietzsche. Mereka menilai dirinya paling benar atas opini yang dilontarkan. Dan mencela opini orang yang tidak sepaham denganya. Secara terus menerus pandangan ini terjadi dan diulang-ulang. Golongan cebong – kampret merupakan perumpamaan golongan tirani dan manusia budak.

Bagi golongan cebong manusia utama Indonesia adalah Jokowi, sebaliknya Prabowo serba buruk. Sementara bagi golongan kampret Prabowo adalah penyelamat Indonesia, dan segala yang jahat disematkan pada Jokowi. Di ruang publik dan sosial media kedua makhluk ini tidak pernah berhenti membuat kegaduhan untuk saling menyalahkan antara keduanya.

Keduanya bergerak tanpa batas yang didasarkan pada kebebasan, bukan hanya golongan cebong dan kampret yang beranggapan opininya benar. Golongan putih pun akhir ini turut bersiteru dan beranggapan pijakanya adalah benar, ia tidak ada bedanya dengan cebong dan kampret yaitu sama sama meneriaki kebenaran sesuai persepsi masing-masing.

Tapi golput bedanya ia menggoblokkan diantara cebong dan kampret. Seoalah dia alternatif paling cerdas sehingga menilai pemilih Jokowi bodoh karena selama dalam pemerintahanya banyak masalah belum dituntaskan begitupun penilainya pada pemilih Prabowo karena dinilai memiliki rekam masa lalu yang buruk.

Golput ini lantas menjustifikasi dirinya paling cerdas sendiri. bagi golput demokrasi di Indonesia bukanlah dunia meraka, sehingga mereka memimpikan sebuah dunia putih entah dimana dan siapa. Begitulah ketiga golongan makhluk tiran tersebut.

Cebong, kampret, dan golput adalah wujud tiran yang tidak pernah dan tidak mau berkomunikasi. Mereka bersemayam pada dunianya masing-masing. Masing-masing dari mereja menjadi tumbak cucukan[1], melapor dan mengadu tentang musuhnya.  Mereka saling nyinyir dan adu domba satu sama lain agar mengikuti pendapatnya. Dan selalu memprovokasi dan koar koar pada orang lain.

Dalam kondisi yang serba samrawut seperti saat ini yang kita jejaki, Nietzsce menawarkan jalan lain supaya kita bisa hidup lebih baik. Yaitu dengan menjadi manusia tuan. Manusia tuan adalah dia yang tidak pernah lelah mencari identitasnya. Satu identitas ia pegang, namun tanpa pretensi kekalan. Dalam arti tidak fanatisme berlebihan. Identitas hanyalah identifikasi yang tak identik sehingga ia selalu siap menyerakan dirinya. Karena ia berani mencari identitas baru lagi yang karakternya tak pernah pejal.

Di era demokrasi, kita harus mencari dan terus mencari. Jangan berhenti mencari tahu, jangan berhenti mencari jati diri, jangan puas pada satu sudut pandang, karena realitas sendiri jauh lebih komplek untuk dipelajari. Dengan begitu, kita tidak termasuk pada golongan yang menambah keruh keadaan, lebih tepatnya menjauhi watak tumbak cucukan yang selalu mengadu domba satu sama lain.

*kordinator Ekosospol KSMW 2018

 

 

[1] . Dalam budaya Jawa ada orang yang dikenal berwatak tumbak cucukan. Ia dikenal berlidah sangat tajam bagaikan mata tombak, ia dilukiskan memiliki hati berbulu sangat gatal, lidah berbisa ganas dan bibir berduri runcing, karena sering menyakiti hati orang lain dengan ucapan penuh kebencian, suka mencaci, mencela, menghina, mengadu domba menyebarkan berita hoax, dan hoby memfitanah dan memutarbalikan omongan dan fakta. Orang berwatak cucukan bisa saja bersiteru dengan orang berwatak sama, ketika bertemu keduanya yang sama sama tumbak cucukan membuat publik menjadi gaduh dan penuh kebisingan. Di mata orang beradab, orang berwatak cucukan adalah orang yang tidak tahu etika pergaulan. Omonganya asal ceplos tidak peduli menyakiti hati orang lain ataukah tidak. Orang berwatak cucukan tidak mau menerima nasehat, bahkan orang memberi nasehat dianggap musuhnya. Jumlah orang berwatak tumbak cucukan selalu minoritas tetapi mereka mudah popular karena suka bicara keras dan kasar serta hobi memprovokasi pertengkaran yang tidak mengenal ruang dan waktu.

BAGIKAN
Berita sebelumyaMengubah Nalar Beragama
KSMW Semarang adalah kelompok studi di UIN Walisongo, Semarang, yang mengkaji berbagai keilmuan.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here