Diskusi dibuka oleh Sareadi dengan menjelaskan bahwa Nasr hamid Abu Zayd adalah seorang tokoh yang berusaha membongkar pemikiran kolot dan jumud. Ia (Nasr) mengatakan bahwa Al-Qur’an adalah produk budaya Arab. Kemudian ia menawarkan pendapatnya mengenai relativitas tafsir karena keragaman hasil tafsir. Maksudnya adalah tidak ada tafsir yang paling benar, semua tergantung pada yang menafsiri dan pada tuntutan zaman sekarang. Sehingga tafsir bukanlah petunjuk yang universal dalam Islam.

Wahyu dari Allah kepada Jibril secara vertikal, dan dari Jibril ke Muhammad lalu Muhammad ke umatnya secara horizontal. Wahyu itu diturunkan kepada malaikat jibril makna dan lafalnya, kemudian ke Muhammad adalah makna dan lafal dari Jibril. Zayd menganggap bahwa lafad dan makna tidak mutlak dari Allah. Nasr menawarkan metode yang kritis dan analitis. Juga metode pengkajian Al-Qur’an yaitu hermeneutika inklusif, dimana kita memandang al-Qur’an dari sudut pandang yang luas.

Setelah itu Ulil bertanya, analisis yang digunakan Nasr tentang tanzil, jibril ke Muhammad, lalu Muhammad ke umatnya itu menggunakan metode apa?

Sareadi lalu menimpali, AL-Qur’an secara pewahyuan menurut zayd tidak mutlak dari Allah. Penyampaiannya hanya diketahui oleh kedua belah pihak. Wahyu secara hakikat adalah informasi yang rahasia.

Ulil lalu memberikan tanggapan bahwa hubungannya antara peyataannya bahwa ada intervensi jibril dan Muhammad saat pewahyuan sesuai dengan perkataannya bahwa Al-Qur’an adalah produk budaya.

Kemudian pertanyaan muncul dari Fifi, bagaimana pandangan Zayd terhadap ayat yang menjelaskan tentang penjagaan Al-Qur’an?

Zayd: wahyu itu tidak hanya al-Qur’an dalam Islam, namun juga Ilham dan lainnya. Al-Qur’an secara akal akan mengalami beda pemahaman. Maka maksud dari AL-Qur’an dijaga itu dipahami bahwa pemaknaan AL-QUr’an yang masih terbuka.

Teks itu sakralitas tidak bisa di otak atik, namun dalam penafsiran tidak ada yang mutlak. Penafsiran itulah yang kemudian menimbulkan beragam pemahaman terhadap al-Qur’an.

Lalu Pak Mukhsin mulai menambahkan bahwa keprihatinan Zayd sama dengan pemikir Islam lainnya. Bahwa peradaban Islam adalah peradaban teks, maka Zayd mulai merumuskan bagaimana caranya membaca teks yang menjadi khazanah kekayaan intelektual muslim. Maka ia menawarkan konsep metodologis tentang tafsir. Dalam bukunya kritik wacana agama, ia berangkat dari kajian tekstualitas AL-Qur’an, dari wahyu sampai teks tertulis saat ini.

Nasr coba merumuskan proses pewahyuan. Pada satu sisi adalah wahyu mencoba merombak kebudayaan di sisi lain juga merupakan produk kebudayaan.

Tidak ada sinonim dalam al-Qur’an. Setiap terminologi punya makna yang khas. Zayd mencoba melihat bagaimana teks dibaca pada masa lampau. Tekstualitas al-Qur’an menjadi mapan di zamannya as-Syafii.

Cara baru yang ia tawarkan adalah pembacaan atas pembacaan (qiraah alal qiraah). Bagaimana kita bisa menghidupkan kembali tekstualitas Al-Qur’an sebagai wahyu yang terbuka dan punya karakteristik kebahasaan sebagaimana produk teks lainnya? Maka ia harus diletakkan dalam kajian sebagaimana teks-teks lain.

Meskipun dia harus menghadapi kenyataan bahwa ia dianggap murtad karena pemikirannya, dan dihukumi batal hubungan pernikahannya lalu memutuskan pindah ke luar negeri, namun tak menggoyahkan pemikirannya tersebut.

Kajian atas rasionalisme juga penting. Hermeneutik selalu kontroversi karena ada dua hal yang selalu di perhatikan, makna dan magza. Makna adalah pengertian dan pemahaman yang bisa digali dalam al-QUr’an. Sedangkan magza adalah signifikansi dan tujuan yang hendak diwujudkan dalam al-Qur’an.

Potong tangan: maknanya pencuri mesti dipotong tangannya. Signifikansinya adalah menjaga kepemilikan setiap manusia. Namun apakah hanya dengan potong tangan?

Kemudian sayapun bertanya, dimana letak kekurangan dalam pemikiran Zayd?

Kelemahannya adalah ketika kita tidak bisa menyeimbangkan antara kepentingan makna dan magza, maka orang hanya akan terjebak pada magza. Jika diterapkan maka akan berpengaruh dengan hukum-hukum yang lain. Semisal minuman keras. Ketika seseorang berpikir bahwa magza dalam minuman keras (memabukkan) tidak ada maka akan menjadi halal. Padahal jelas dalam stusi kesehatan manapun sampai saat ini masih belum menyatakan minuman keras baik untuk tubuh. Inilah yang kadang-kadang jadi bahaya.

Yang menurut saya mampu menjembatani antar pemikiran Islam adalah teori maqashid, yakni dengan menyeimbangkan yang qath’I dan dzanni. Maqasihd syariah lebih mendasarkan prinsip agama kepada menjaga (konsep klasiknya Ibnu Assur) kemudian dikembangkan tidak hanya menjaga namun lebih progresif dengan mengembangkan kehidupan beragama, kebebasan berpikir, hak-hak kepemilikan, dll.

Bagaimana perbedaan metode tafsir antara pemikiran Zayd dengan pemikir sebelumnya, Arkoun?

Pendekatan yang dipakai keduanya berbeda. Arkoun lebih menekankan pendekatan semiotik dalam al-Quran, sedangkan Zayd menggunakan pendekatan hermeneutik. Keduanya berbeda meskipun dianggap tetangga yang dekat. Antara tanda dan teks bersinggungan tapi punya perbedaan. semiotika mengkaji Ikon, indeks, simbol. Indeks menunjukkan asal usul sesuatu. Symbol menunjukan kepada sesuatu hal lain. Dan ikon adalah sesuatu yang menandai sesuatu asalnya. Sementara perhatian utama hermeneutika terletak pada bagaimana interpretasi dan pemahaman dimungkinkan.

Alquran bagi Arkoun adalah himpunan tanda yang tidak memiliki makna pasti. Sebagaimana tradisinya de Saussure. Karena Al-quran adalah teks maka ia punya makna teks dan signifikansi. Oleh karena itu kita harus melihat dunia teks (bahasa al-Qur’an), dunia pengarang (lingkungan dan kepribaadian nabi), audiens( lingkungan budaya Arab).

Semiotika Roland Bartnes mengatakan bahwa tanda itu mesti menghasilkan dua makna, Denotatif dan konotatif. Misalnya Mercy adalah mobil buatan Eropa (denotasi). Mercy juga simbol orang kaya (konotasi). Nah biasanya orang kaya yang bias beli mercy adalah hasil korupsi, maka merci juga symbol korupsi. Dan konotasi seterusnya. Belum lagi pendekatan lain selain Roland Bartnes.

Bahasa sebagai symbol akan digunakan oleh pembacanya melalui lang dan perol. Lang adalah makna asal, namun secara perol dimaknai secara jauh.

Sign/tanda itu ungkapan tulisan yang digunakan (Kursi), signifier/ petanda adalah konsep mental/ otak (bunyi kursi), penanda adalah yang dituju (benda bernama kursi).

Hermeneutika dibagi dalam tiga bentuk, teori/romantic (mungkinkah kita mengetahui makna secara objektif), filosofi (bagaimana tafsir dimungkinkan), kritik (bagaimana sebuah wacana itu diproduksi).

Coba baca buku Textuality. The theory of tektuality, grace. Ia dengan baik menjelaskan apa itu teks? Bagaimana teks itu bertransformasi? Misalnya dari religius ke politik. Misal transformasi perintah toleransi menjadi anti terhadap orang lain berdasarkan ayat lakum dinukum waliyadin.

Ada teori hermeneutic yang mengatakan begitu teks lepas dari pengarang maka ia menjadi teks yang otonom dan dibaca dari berbagai latar belakang pemikiran. Inilah yang kemudian menjadikan pengarang itu telah mati. Teks itu akanmenjumpai pembacanya sesuai latar belakang ideologis, politik, dan budaya. Itulah makna otonomi teks. Puisipun sama. Begitu dilepaskan maka akan dimaknai bebas oleh pembaca yang bisa jadi tidak lagi sesuai dengan apa yang sebenarnya ingin diungkapkan oeh pengarangnya.

Memahami adalah menafsirkan. Tidak ada penafsiran yang tidak dipengaruhi oleh kondisi penafsir. Pre understanding pasti ada. Siapa yang bisa memastikan kebenaran pemahaman al-Qur’an?

Karakteriktis dominan tetap ada. Pendekatan terhadap pemahaman agama, kholaf secara akademisi, ilmiah, salaf secara teologis. Kita punya pemahaman yang rasional dulu baru menjadi dai. Orang UIN dilematisnya disitu. Belum memiliki pemahaman rasional sudah berda’I ya hasilnya sekedar ceramah.

Konteks menjadi karakteristik pendekatan modern. Zayd lebih mengedepankan sisi akademik timbang mukmin. Wahyu yang menggunakan medium bahasa berarti medium budaya. Wahyu menggunakan budaya Arab sebagai penyampai pesan. Namun tidak semua orang siap utuk menerima proses dekontruksi yang menuju rekontruksi.

Kita seringkali melihat posisi kitab dan terjadi miskonsepsi. Menurut Mu’tazilah, dengan akal orang bisa mengenal Tuhan, secara alamiah orang akan tau mana yang baik dan buruk. Semuanya bias diketahui oleh akal. Oleh karena itu agama itu rasional. Syiahpun dibagi menjadi dua akhbari (tekstualis) dan ushuli (rasionalis). Selalu ada proses moderasi.

Ulama berselisih pendapat, sholat jama diluar safar dan mathor itu tidak boleh. Dalam syiah sholat duhur dan asar boleh dijama’, magrib dan isya’ juga, sehingga waktu sholatnya menjadi lebih ringkas 3 kali sehari. Bagi orang-orang yang mempunyai kesibukan luar biasa tentu cara ini menjadi solusi baginya. Pemahaman agama kita jangan selalu membanding-bandingkan. Adakalanya kita perlu inklusif terhadap konsep-konsep baru yang mengembangkan Agama Islam.

*Noted by: Umi Ma’rufah

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here