Rabu, 15 Maret 2017 di Rumah Bpk. Mukhsin Jamil.

Presentasi Gusti:

Abduh lahir di lingkungan dan keluarga yang miskin.pada 1869 ia bertemu gurunya yaitu Sayyid Jamaludin Al-Afghani yang datang ke Mesir. Lalu mengikuti organisasi Fremansory lalu keluar. Awalnya ia menerjuni politik, namun kemudian mengikuti gurunya untuk memperbaiki pendidikan. Pendidikan di Al-Azhar dianggap kolot oleh Abduh.

Konsep kenegaraan Abduh:

  1. Negara adalah tempat dimana makanan keluarga dan kebutuhan lainnya ada
  2. Negara wadah hak-hak dan kewajiban
  3. Negara tempat menisbatkan diri melakukan kebaikan

Dalam sistem pemerintahan Abduh menekankan bahwa negara harus bersifat demokrasi (musyawarah). Negara harus memiliki wadah yang isinya adalah orang-orang yang memiliki akidah yang kuat. Ketika musyawarah itu menghasilkan undang-undang maka undang-undang itu harus bersifat relatif sesuai kondisi budaya dan geografis tempat masyarakat. Dalam perumusannyapun harus bersifat mudah dipahami oleh masyarakat awam.

Hal terpenting dalam membangun negara adalah membangun pendidikan, lebih ideal lagi adalah pendidikan agama Islam. Pendidikan yang ditekankan adalah mengajarkan keadilan dan memperkuat integritas masyarakat.

Menurut Abduh hal-hal yang tradisional boleh diambil dan hal-hal baru yang lebih baik juga diambil. Menurut asy-syaukani pola pemikiran tokoh yang merupakan ciri pemikiran islam

ditipologikan jadi tiga :

  1. Transformatif, yaitu umat muslim tidak menolak budaya namun dia mengambil hal-hal baru dari modernisasi.
  2. Reformistik, pemikiran yang bersifat tradisional di kaji ulang untuk disesuaikan dengan kondisi modern.
  3. Totalistik, yaitu sikap dan pandangan Islam yang bersifat total tidak menerima hal baru. Ia meyakini bahwa segala aspek kehidupan sudah ada pada Islam.

Abduh masuk pada tipologi yang pertama.

Umi: Mengapa ia menolak pengajaran nahwu sorof dan fiqh yang cenderung menekankan pada penghafalan dan tidak pada pemahaman sedangkan sebelumnya ia sendiri telah menghafalkan al-Qur’an dalam waktu dua tahun? Padahal kita tahu sendiri untuk memahami Al-Qur’an maka kita harus paham alatnya yaitu nahwu dan shorof?

Gusti: menurut buku yusuf suyono ia sudah merasa mampu tentang nahwu shorof, namun karena gurunya tidak memahami itu, gurunya ini selalu menyuruh Abduh untuk menghafal dan mempelajarinya lagi.

Kemat: ketika melihat perbedaan antara ilmu alat dan praktis, tentu kita lebih licin menghafal Al-Qur’an daripada nahwu shorofnya. Sehingga menurut teori psikologi yang saya gunakan, Abduh ketika memahami nahwu shorof ia mengalami kesulitan.

Yon: Abduh dalam berpikir selalu melihat realita masyarakat. Salah satu perlawanan Abduh adalah tentang ijtihad. Ia menyatakan bahwa Islam harus selalu melakukan ijtihad dan tidak boleh statis. Kalau dari kacamata hermeneutika, bahwa dalam dunia tafsir ada tiga hal yang menjadi fokus : teks, pengarang, dan objek. Abduh memang melihat tradisi sebagai hal yang perlu ditafsiri, sehingga bisa disesuaikan dengan dunia modern.

Topan: dalam bukunya elisabeth siri judulnya sufi dan antisufi, ia mengelompokkan Abduh dalam antisufi. Abduh juga menolak sufisme. Kalau kita contohkan pemikiran Abduh di Indonesia ini seperti Muhamadiyyah.

Pak muhsin: Kemarin saya sudah berbicara tentang modernisasi Islam. Abduh hidup diawal abad 20 yang ditandai dengan kemunduran dunia Islam secara total. Sementara di dunia barat mengalami ekspansi politik yang menghasilkan kekuasaan kolonial. Abduh ini berusaha mecari terobosan intelektual untuk mengeluarkan Islam dari keterbelakangan.

Sekolah-sekolah dalam dunia islam hanya berfungsi sebagai tempat menghafalkan dan mengulang-ulang teks-teks lama. Sehingga Abduh sering pindah-pindah. Ini kontras dengan dunia barat yang memberikan ruang sebebas-bebasnya untuk berpikir. Maka Abduh cenderung berpikir rasionalisme. Maka kemudian ia merumuskan konsep Islam yang baru. Ia menginginkan Islam membangun kembali cara masyarakat muslim menghayati prinsip-prinsip keimanan dan teologi. Ia ingin meyakinkan bahwa Islam ini berdasarkan rasionalitas.

Ia juga banyak memberikan ceramah yang lalu dibukukan oleh rasyid Ridha dalam al-Manar. Maka salah satu bagian penting dalam litab ini adalah penafsiran terhadap makhluk-makhluk halus seperti setan dan jin. Karena dulu di mayarakat dililhat dari cara berpikir masih beranggapan mistis dan tidak rasional. Ini contoh bahwa Abduh berusaha meningkatkan rasionalisme dalam Islam. Saat ia bergabung dalam freemansory, organisasi dengan pengikut lebih dari 6 juta namun belum jelas, ia dianggap sebagai intelektual yang selingkuh dengan kolonial eropa.

Masih banyak pemikiran Abduh yang bisa kita gali. Abduh menjadi penyambung silsilah intelektual bagi pemikiran pembaruan modern Islam yang tumbuh di Mesir lalu secara luas masuk ke Indonesia. Muhamadiyah jika ditarik akarnya memang akan sampai kepada Abduh, Afghani, dan M. Ibnu Hambal.

Bagaimana kita memandang pendekatan modernisme, bisa saya katakan ini masih memiliki cacat intelektual. Yaitu kecenderungan untuk mengajak umat Islam melompat kepada modernisasi tanpa menawarkan metodologi yang matang. Karena pada lain sisi pemikiran modernitas menyingkirkan budaya dan praktik2 tradisional yang telah mengakar. Sehingga pemikiran ini sering ditolak. Di Indonesiapun modernisasi hanya menggejala di perkotaan dan sulit hidup di pedesaan. Sehingga banyak konsepnya yang kemudian di revisi.

Contohnya Muhamadiyah yang mulai kembali pada ajaran awal Ahmad Dahlan. Ini bukan semata karena adanya musuh bersama NU yakni radikalisme, namun sesungguhnya ada cacat dalam gerakan modernisasi Islam.

Ulil: Abduh menyampaikan bahwa pendidikan tidak hanya mengajarkan keadilan tapi juga semangat revolusi. Untuk menjaganya kita harus membuat undang-undang, lalu undang-undang seperti apa yang ia tawarkan?

Pak Muhsin: Sebagai usulan untuk proses pembaharuan Islam, gagasan modernisasi Abduh bisa diterima, tapi kalau modernisasi adalah anti terhadap tradisi maka itu salah. Dalam konteksnya ia berusaha memunculkan semangat nasionalisme. Abduh termasuk mendorong Mesir harus dibangun atas semangat nasionalisme. Oleh karena itu jika negara bangsa adalah alternatif, maka atas dasar apa negara itu dibangun. Maka Abduh menawarkan pemikiran demokratis yang berdasarkan undang-undang dengan penataan di bidang pendidikan. Bagaimana negara pasca kolonial dibangun? Dalam neagara bangsa, ada dominasi sekte/suku. Maka untuk menjaga agar tetap terjaganya pluralisme, maka negara tidak boleh dibangun atas kekuasaan namun berdasarkan konstitusi.

Muhamadiyah adalah organisasi yang muncul pada awal abad 20, dalam konteks negara kita ada gejala sosial keagamaan, dimana ekstensifnya hubungan nusantara dengan timur tengah. Kita tahun semua jejaring intelektual ada hubungan guru murid yang dihasilkan oleh ulama haromain pada abad 17 dan 18 begitu kuat. Perbincangan utama saat itu adalah mengenai maraknya penyalahgunaan toriqoh. Misalnya di Jawa mucul perdebatan tentang toriqoh seperti Syekh Siti Jenar.

Dalam konsep Toriqoh, hubungan Allah dan ciptaanya adalah seperti laut dan ombak. Tuhan adalah laut dan ombak adalah ciptaannya. Maka muncul karya-karya untuk menjawab persoalan ini. Ini adalah contoh dari gejala Islam dari abad 17 dan 18 yang bisa kita lihat sebagai bagian penting dari perkembangan dunia Islam. Meskipun saat itu juga terjadi pertentangan yang sangat ekstrim dalam memusuhi tradisi lama Islam.

Pada dasarnya pergerakan Indonesia terbesar diinisiasi oleh perasaan bersatu umat Islam, yang terhimpun dalam organisasi Sarikat Dagang Islam yang lalu bertransformasi menjadi Sarikat Islam. jadi bukan Budi Utomo, Budi Utomo hanyalah organisasi untuk Jawa. Pada masa kolonial berbicara pada Islam berarti berbicara tentang Indonesia, begitupun sebaliknya. Yang bisa menyatukan negara Islam ini adalah Cokroaminoto yang lalu menjadi guru intelektualnya Soekarno. Hanya secara politik lalu SI terpecah.

Yon: kayak Abduh ini ada bentuk-bentuk perlawanan terhadap barat. Apakah ada sumbangan doktrin kaitannya dengan ISIS?

Ada bentuk-bentuk gerakan islam yang dibagi ke dalam dua ciri Salafi (ibadah pengajian halaqah) dan haroki (pergerakan politik). Pola pemikiran umat Islam dibagi ke dalam empat bentuk, revivalisme, modernisme, neorevivalisme, dan neomodernisme.

Saya menawarkan Posttradionalisme: yaitu membangun pemahaman Islam yang didasarkan pada rekontruksi tradisi Islam. Memahami khazanah tradisi tidak secara tradisional untuk tidak terjebak dalam tradisionalisme. Dengan cara membuat jarak antara tradisi dan pembaca. Washlul qari’ anil maqru’. Setelah itu Washlul qari’ ilal maqru’. Anda mendapat ide-ide apa pada pemikiran tradisional Islam untuk membangun bingkai nasionalisme Indonesia.

Kemat: mengapa NU miskin?

Pak Muhsin: Kemiskinan jangan semata-mata dilihat dari perspektif agama. Desa mengalami kemiskinan struktural, korban modernisasi. Juga secara politik yang mengakibatkan desa itu terpinggirkan. Untuk jangka panjang, bagaimana kita merekontruksi kehidupan ekonomi politik di Indonesia. Dalam tradisi fazlur rahman, kebangkitan Islam akan lahir di Indonesia, cirinya adalaah NU dkk, karena ia yang sanggup memberikan ruang bagi Islam dan kebangsaan.

Tidak ada negara-negara modern yang tidak mengalami gejala fundamentalisme, namun tidak ada yang permanen, artinya mudah hancur. Sehingga Indonesia bukan milik kaum revivalis dan radikal. Kelemahan NU adalah masyarakat yang serba fiqih dan normatif. Bukan membangun bagaimana sistem yang baru yang lebih responsif.

Agar kita tidak tertinggal maka kita harus melihat syariah bukan semata-mata norma yang menentukan boleh dan tidak boleh. Salah satunya adalah gagasan Jasser Audah yang mengembangkan konsep Maqashid As-Syariah. Ia memahami maqashid Syariah bukan lagi sebagai hifdi tapi development (pengembangan). Maka membangun seluruh perangkat hidup secara syar-i untuk sampai pada proses pengembangan diri sebagai manifestasi konsep syariah. Jadi kalau mau melaksanakan syariah maka kita harus mengembangkan pendidikan, kesehatan yang terjamin, perbaikan keturunan dan program-program lain yang merupakan upaya2 pelaksanaan syariah.

Yon: kalau NU tidak normatif maka NU akan mudah meninggalkan tradisinya.

Pak Muhsin: Saya bilang jangan hanya menjaga hal-hal normatif tapi juga mengembangkannya. Tidak hanya mengurusi orang mati, tapi menjaga kesehatan masyarakat itu juga penting.

Mengenai segala bentuk pemikiran para tokoh, kritis boleh tapi jangan kritis tanpa gagasan konstruktif. Seperti menolak kapitalisme tapi dari ujung kepala sampai kaki tidak ada yang bukan merupakan produk kapitalisme. Maka jawabannya adalah bagaimana kita mampu membangun kesadaran mengenai dampaknya dan juga kita mampu bersinergi sehingga bisa bangkit meski akan ada banyak tuduhan. Bagaimana kita bisa berdialog kalau kita sudah anti dulu dengan orang yang kita ajak berdialog.

 

*Noted by: Umi M.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here