Pertama-tama Junda memaparkan tentang biografi Muhammad syahrur ibnu bayd. Syahrur berasal dari Syiria. Jenjang pendidkan di tempuh di Syiria 1957, 1958 mendapat beasiswa ke Moskow tekhnik sipil. 1969 mendapat gelar magister dan pada tahun 1972 mendapat gelar doktor. Meskipun Syahrur lebih banyak berkecimpung di tehnik sipil, namun beliau juga banyak menulis kitab keislaman.

Pemikirannya yang terkenal adalah mengenai teori batas hukum ( hudud ). Bahwa menurut teorinya, perintah Allah yang diungkapkan di Al-Qur’an dan sunnah terutama mengenai hukum mengandung batas maksimal dan minimal.

Pandangannya tentang tafsir, tafsir adalah upaya manusia unuk memahami teks ketuhanan, untuk bertindak dan memahami alqur’an. Tafsir bersifat nisbi dan relative. Pandangannya tentang alquran mempunyai sebutan lain, salah satunya mubarok. Yang maksudnya adalah Al-Qur’an memiliki bentuk yang tetap dan tidak berubah.

Setelah itu sesi pertanyaan. Pertanyaan pertama dari Gusti. Ia menanyakan dari mana pemikiran syahrur tentang tafsir Al-QUr’an sedangkan latar belakangnya yang lebih pada pengetahuan tehnik?

Jawaban pemateri yakni Syahrur juga paham mengenai linguistik, meski beliau banyak menimba ilmu ditekhnik sipil, beliau juga banyak membaca literatur tentang keilmuan agamanya. Ini berasal dari keinginan beliau untuk membebaskan manusia dari setiap doktrin klasik ulama masa lampau.

Lalu Umi juga menanyakan, siapa tokoh yang paling memengaruhi pemikiran Syahrur?

Junda menjawab, bahwa selain beliau pandai dalam bidang linguistik, beliau juga banyak mengambil pemikiran para ulama’. Mengenai nama tokohnya, kurang diketahui. Bisa jadi terlatar belakangi dari pendidikan beliau yang banyak menempuh di luar negeri.

Lalu lebih lanjut Umi juga menanyakan bagaimana latar belakang munculnya teori batas ?

Jawaban Junda, adanya teori batas merupakan bagian dari inovasi beliau tentang teori hokum islam. Munculnya teori ini dikarenakan konteks Al-Quran yang kurang menjelaskan konsep batas hukum, minimal dan maksimalnya.

Salah satu teori yang sering menjadi kontroversi, yaitu teori batas aurat. Dari keinginanya ingin menghadirkan Islam di dunia barat. Dimana di dunia barat yang bebas, islam banyak mendapat tantangan dari konsep aurat ini. Kita mengenal, kebebasan dunia barat dalam hal menutup aurat. hal yang jauh berbeda dari budaya Islam sendiri, maka beliau ingin membuat fleksibelitas bagi kaum muslimin. Batas minimal mengenai aurat; menutupi dada, tidak telanjang serta maksimal menutupi seluruh badan kecuali telapak tangan dan muka.

Kemudian muncul pertanyaan dari Taufan, Syahrur memang mengemukakan pembaharuan pemikiran untuk kemajuan, lalu bagaimana pemikiran syahrur yang lain, seperti bagaimana tanggapan syahrur terhadap budaya barat / dunia perpolitikan atau masalah kemasyarakatan?

Jawaban Junda, sejauh bacaan yang sudah say abaca mengenai Syahrur memang lebih banyak membicarakan tentang tafsir dan metode hermeneutika. Namun pemikirannya ini dapat menghadirkan trobosan baru bagi pemahaman hukum Islam. Seperti pemikirannya terkait aurat, dimana hal ini juga menyinggung tentang problematika Islam di dunia barat.

Menurut Pak Muhsin, syahrur adalah tokoh yang unik, karena beliau seorang ahli tehnik yang menguasai dunia keislaman. Ha ini dapat menjadi cermin, dimana orang dapat menjadi apa yang dia mau dengan otodidak. Salah satu yang menyebabkan ia mampu berbicara tentang keislaman adalah karena beliau hidup di kawasan Arab, sehingga memudahkan untuk memahami wacana Arab, terlebih ia juga mahir dalam hal linguistik.

Disandingkan dengan pemikir yang lain, syahrur termasuk tokoh yang kreatif, karena geneologi pemikirannya sulit untuk dilacak atau sulit di telusuri rujukannya. Syahrur banyak dipengaruhi dari latar belakang belajarnya secara otodidak dan juga pembelajarannya yang banyak ditempuh di Barat. Meski bukan dari latar belakang Islamic studies, namun karyanya cukup monumental. Pertama, pemikirannya tentang Al-Quran. Penamaan yang berhubungan dengan penurunannya, beliau mengkonsepkannya menjadi inzaal wa tanjil, Annubuwah (prinsip keimanan ) wa risalah (prinsip syariah).

Yang menjadi fokusnya adalah karakteristik hukum islam yang unik. Menurutnya hukum islam banyak bergerak pada batas minimum dan batas maksimum, ( limitasi hukum Islam ) annadhoriyah alhudud/ teori batas-batas hukum islam. Aplikasi hukum Islam tidak boleh menerjang hukum batas-batas ini. Seperti realisasi dari batas aurat.

Syahrur bukan ingin melegitimasi gaya hidup barat, beliau hanya mengimplementasi konsep keadaan di dunia sana, seperti kondisi cuaca yang berbeda antara Asia dan Eropa. Membuka khazanah budaya barat yang banyak berbeda dengan dunia Islam. Syahrur melihat konteks problematika Barat dengan nilai kemanusiaan dan toleransi. Lebih menghargai implementasi latar belakang budaya. Beliau menawarkan berfikir dinamis namun juga tetap memegang prinsip hukum-hukum islam.

Kemudian Umi menanyakan, bagaimana latarbelakang pengambilan kesimpulan syahrur terkait hukum 100 cambukan bagi pezina?

Junda menimpali bahwasanya Syahrur mengambil secara konteks dari al-quran mengenai batas minimal dan maksimal cambukan yaiu 100 cambukan.

Lalu bagaimana konsep zina yang dimaksud dalam hal tersebut, karena definisi zina sendiri memiliki penafsiran yang cukup luas?

Pertanyaan tersebut langsung mendapat tanggapan dari Pak Mukhsin bahwa pembahasan hukum zina dalam hukum Islam, menjadi diskusi yang cukup berat. Hal ini dikarenakan zina merupakan perbuatan yang sensitif. Dan perlu diingat, untuk bisa mengimplementasikan hukum zina konsekuensinya sangat berat. Seperti sebelum jatuhnya hukuman perlu adanya bukti persaksian, paling tidak dll.

Jika prinsip kehati-hatian benar-benar diimplementasikan maka tidak mudah orang dijatuhi hukuman 100 kalicambuk. Karena orang yang melakukan zina harus dibuktikan dengan kesaksian para saksi yang harus betul-betul mengetahui. Dan meski hukumannya berat, dari segi implementasi hal ini juga rumit untuk direalisasi. Tidak mudah untuk langsung menghakimi. Dan syahrur memahami ini.

Gusti menambahkan lagi, bagaimana konsep kelebihan batas aurat? maka itu artinya tidak sesuai atau melampaui batas hukum Islam?

Pak Mukhsin menanggapi, jika menurut Syahrur ya, jika melebihi batas justru itu telh melanggar ketentuan syariat Islam. Dalam hal ini kita boleh setuju atau tidak. Pada intinya Syahrur banyak memberi peluang dialektika untuk keseimbangan Barat dan Islam.

Ajid dariTarbiyah menanyakan, bagaimana pendapat atau pemikiran Syahrur tentang polemik penghukuman pencuri oleh masyarakat, bukan oleh yang berwenang?

Tanggapan Pak Mukhsin, sejak dari sejarah Khalifah Umar, ada kisah dimana Umar membebaskan pencuri. Sekarang, kejahatan kecil dapat direstorasi (restorative justice / pemulihan penghakiman) sebagai sebuah alternatif untuk pidana-pidana kecil, dengan mengumpulkan orang-rang terkait terhadap peristiwa tersebut dan keluhan-keluhannya lalu menentukan penyelesaian demi kebaikan kedua belah pihak tanpa melibatkan proses hukum yang bertele-tele.

Ridwan menanyakan, apakah prinsip dasar teori batas syahrur sudah memenuhi prinsip keadilan ?

Hukum butuh kepastian, namun juga bersifat dinamis. Yang bernilai kepastian yaitu teori batas, sedang keadilan yaitu yang bernilai dinamis. Prinsip keadilan juga terkait dengan teori kebebasan. Dan penegakan keadilan harus juga didasari prinsip kebebasan. Kebebasan dibagi menjadi bebas dari dan bebas untuk. Bebas dari intimidasi dan bebas untuk melakukan sesuai dengan yang diharapkan.

Bagaimana syahrur menafsirkan keseimbangan alam dilihat dari sudut pandang tafsis kontemporer ?

Alam semesta secara ilmu bersifat eksak, tidak boleh ada pertentangan antar hukum alam dan hukum Al-Quran. Karena hukum alam sama persis dengan hukum Al-Quran. Hukum alam adalah ciptaan Allah yang tidak boleh dan tidak mungkin bertentangan dengan hukum Al-quran.

Semakin tidak banyak hukum yang dibuat, menandakan masyarakatnya sehat.

Masyarakat perlu untuk lebih belajar sensitifitas dan simpati terhadap sesama.

Kita perlu belajar untuk membuka anomali-anomali ilmu-ilmu keislaman.

3 proses perkembangan otak: Reptil, clinic system dan neuroplomi.

 

Rujukan karya :

Pak ridwan tarbiyah : syahrur

Pak muchyar ushuuddin : syahur

Field of blood : Buku Karen Amstrong

Arkoun : hendrik mulemman

Hasan hanafi : islam in the modern world

Islam and ideology of development

Atturasat tajdid

 

*Noted by: Fifi (Balapikir 2016)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here