Pengantar

Memahami Ali Syariati dalam diskursus keilmuwan tidaklah mudah, Ali Syariati adalah tokoh pembaharuan yang memiliki wacana yang sangat kompleks, dia dididik dalam lingkungan keluarga Islami dan mengenyam kuliah yang panjang di barat.berdasarkan riwayat hidup dan pendidikan Dalam berbgai bukunya tentu kita akan bisa melihat alur pemikiran Ali Syariati misalnya Doa, Tangisan dan Perlawanan. bagaimana nilai esesnsial Doa menurut Ali Syariati. Begitupun juga kita akan melihat Ali Syariati melihat pemikiran Sosiologisnya dalam kritik terhadap Marx  dan Barat lainnya melalui bukunya Kritik Islam terhadap Marxisme dan sesat pikir Barat lainnya. Dalam berbagai diskursus kita dapat melihat bahwa Ali Syariati adalah seorang tokoh Teologi Pembebasan, yang mengelaborasi spiritual kedalam isu isu kemanusiaan.berbagai kaum cendekiawan yang mengulas tentang Ali Syariati misalnya Ali Rahnema menulis Ali Syariati; Biografi Politik Intelektual Revolusioner dan kali ini kita akan terfokus pada wacana ini.

Biografi Ali Syariati

Ali Syariati dilahirkan pada tanggal 24 November 1933 di sebuah Desa kecil di Kahak, sekitar 70 kilometer dari Sabevar dari keluarga Urban menengah kebawah, keluarganya dikenal memiliki perhatian yang besar terhadap keimanan religiusitas.dia tumbuh dan dibekali dengan pengertian bahwa moralitas dan etika adalah nilai yang mengangkat status sosialnya, bukan uang. Sensitifitas Spirit, ketegasan,toleransi, dan kehalusannya adalah warisan dari ibunya, dan ayahnya yang mengajarkan spirit politik dan etika tentang kemerdekaan bangsanya[1]. Ayahnya adalah Muhammad Taqi’ Syariati  seorang ulama terkemuka saat itu. tetapi dia berbeda dari ulama terkemuka lainnya, dia meninggalkan atribut agama seperti surban dan jenggot. Ayahnya pendiri “Pusat Dakwah Islam” (“Kanoun-e Nashr-e Haqayeq-e Eslami”)[2]di Mahsyad ialah seorang yang memulai gerakan intelektual islam di Iran. Dia menjadi jalan ketiga diantara kaum intelektual yang memiliki kecenderungan Marxis, sedangkan kaum agamawan di pihak lain cenderung reaksioner.

Ali memasuki tahun pertma sekolah dasar ketika Unisoviet menginvansi Iran.dia menimba Pendidikan dasarnya di Mayhad yaitu sekolah swasta Ibn Yamin  tempat ayahnya mengajar.Syariati kecil adalah anak yang pendiam , tidak mau diatur, sehingga tampak tidak bermasyarakat, Ali lebih senang mengurung diri di rumahnya dan membaca buku bersama Ayahnya. Selain ayahnya Kakeknya jug sangat berpengaruh terhadap nalar berpikir Ali, Ali sangat terobsisi dengan kakeknya yang suci, darinya dia belajar tentang Filsafat yang mempertahankan jati diri manusia pada saat dimana segala macam kefasikan telah merajalela. Ali mulai menyukai pelajaran pelajaran Sufisme dan Filsafat sejak berada di Sekolah Menengah penulis yang mempengaruhinya diawal sekolah menengah adalah Maurice Meterlick penulis dan  penyair simbolik dari Belgia, dia yang memandunya dan merefleksikan kebenaran kebenaran dibalik realitas yang tampak, yang membuka matanya terhadap sebuah dunia dibalik yang tampak, bisa dikatan Materlicklah guru spiritual Ali yang pertama, hal ini dapat dilihat dari tulisan tulusannya pada era ini.  Selain Materlick pada masa ini Ali juga membaca buku Filosofisme Jerman Seperti Schovenhower juga terpengaruh dari Penyair besar Prancis Anatole Franc, kebencian Anatole terhadap aturan borjuis,dan tulisan tulisannya yang membela ketertindasan, keadilan, dan Sosialisme membuat Ali Syariati terpikat.Selain dari tokoh tokoh barat Ali juga tentu mengelaboroasi dengan pemikir pemikr Muslim seperti Hallaj, Jalaluddin Rumi dll.

Pada tahun 1950 dia melanjutkan ke Institut Keguruan (Denesyara-ye Moqaddamati) di kampus biaya asrama dan spp ditanggung pemerintah, serta dia juga mendapatkan 80 real setiap bulan.Dimasa masa kuliah inilah Ali mulai terlibat dalam politik dan dalam waktu cepat dia adalah pendukung Mosaddeq figure berpengaruh di kampus. Oleh karena simpati politik para mahasiswa yang berbeda yang merefleksikan kondisi Iran pada saat itu, pendukung Mosaddeq merefleksikan kelompok Nasionalis berbagai slogan politik muncul untuk menasinalisasi minyak pada masa itu, dia yang menggerakkan dan meneriakan slogan perlawanan terhadap kelaliman, eksploitasi,represi, dan perbudakan.[3]

Setelah menyelesaikan diplomanya Ali menjadi guru sambil melanjutkan kuliahnya di Universitas Mashad setelah kelulusannya Ali mendapatkan beasiswa untuk melanjutkan kuliah di Sorbonne University di Paris, Prancis disini dia bertemu dengan para tokoh-tokoh dunia, tokoh filosof, Sosiolog, Islamolog, cendekiawan terkemuka seperti Henry Bargson, JP Sartre, Frans Fanon, Louis Massignon dll dia sangat memuja guru baratnya itu. di Universitas ini pulalah Ali menrima gelar Doktornya pada 1960, dan ketika kembali ke Iran Ali menjadi Dosen di Mashhad University, mengajar Sosiologi Islam dia mendalami persoalan persoalan Masyarakat Muslim dan mendiskusikan dengan Muridnya, dia menjadi Dosen yang sangat diminati disana setiap ceramahnya diikuti oleh banyak mahasiswa. Namun karena ceramahnya dianggap   mengancam dan membahayakan Rejim Pahlevi dia dianggap picik dan kerdil dan banyak yang memusuhunya bahkan pihak uniersitas sendiri, beberapa tahun kemudian pindah ke Husen Ershad Religion Institut, Teheran disinilah mulai Menulis buku,bukunya sangat diminati banyak mahasiswanya yang kemudian jadi pengutnya dalam hal wacanana pemikirannya yang kritis. Tetapi wacana pemikiran kritisnya ini yang melawan Negara akhirnya dia dijebloskan kedalam penjara kedua kalinya (1927) selama 8 bulan namun dibebaskan karena tekanan organisai internasional di Paris dan Al-Aljazair, tetapi tetap terus di ikuti oleh agen rahasia Negara.

Pemikiran Ali Syariati

Seperti yang dijelaskan dimuka bahwa Pemikiran Ali Syariati lahir dari pengalamannya dalam berbenturan dengan pengalaman kehidupan Modernisme, kolonialisme, Industrialisme, Komsumerisme, kebebasan seksual dll. Ditengah kehidupan yang chaos itu Ali Syariati berada dalam lingkungan yang Spiritual-akademik yang menjadi sumber inspirasi dan cita-citanya, pergulaatan dengan lingkungan, dan ajaran dari keluarga dan pendidikan yang pernahia tempuh di Eropa membuat gagasan pemikirannya sangat kaya. dia Hadir menjawab berbagai persoalan yang kompleks itu, bagaimana kita hidup menyelesaikan kungkungan iblis yang sedemikan dahsyat. Dalam diskursus Pemikiran Ali dalam mengulas persoalan spiritualisme bukan persoalan Esoterik semata tetapi pada saat itu juga Ali berbicara tentang  Penderitaan, Penindasan, dan Kesyahidan. Disana Ali membangun gagasan tentang pembebasan, kemerdekaan dan perjuangan.

Dalam menyelesaikan Komleksitas persoalan modernisme Ali Syariati menawarkan konsep Spiritualis-humanis dalam rangka membangun kesadaran manusia dalam menjalangkan tugasnya sebagai khalifah di muka bumi.Menurutnya, manusia adalah makhlukh yang merdeka dan memiliki potensial tanpa batasDalam pandangan dunia Tauhid, hakekat kesejatian manusia adalah potensi Ruh Allah yang telah ditupkan dalam diri manusia.Ruh Allah tersebut adalah “kesemestaan” sebagaimaana yang dimaksud oleh al-Athar.Ruh Allah adalah realitas paling sublim dan ultim dalam diri manusia yang menjadi modus bagi eksistensi manusia dalam kehidupannya.[4]

Tauhid sebagai modus eksistensi manusia, digambarkan oleh Syari’ati dalam pembahasannya yang sangat romantik, reflektif, dan revolusioner tentang ibadah haji.Beliau mengatakan, ibadah haji menggambarkan “kepulangan” manusia kepada Allah yang Mutlak dan Tidak Terbatas, serta tidak ada yang menyerupaiNya.Perjalanan “pulang” kembali kepada Allah menunjukkan suatu gerakan yang pasti menuju kesempurnaan, kebaikan, kebenaran, keindahan, pengetahuan, kekuatan, nilai-nilai, dan fakta-fakta.[5]Allah adalah tempat asal dan tempat kembali manusia.dariNyalah seluruh atribut Ilahiyah yang dimiliki oleh manusia berasal.

Selanjutnya dalam buku yang sama bahwa tuhan adalah sosok pembebas bagi manusia, dengan melakukan upaya pendekatan diri kepadaNya, maka manusia akan terbebas dari nilai-nilai lumpur busuk yang kotor dan melambangkan keadaan manusia yang dehumanis menuju Ruh Allah yang suci. Kombinasi kesadaran individu melalui spiritual dan kesadaran social menjadikan manusia berpartisipasi penuh dalam kehidupan modern, kehidupan yang sudah dikendalikan oleh iblis ini.

Pemikian Revolusiner Ali Syariati tidak lepas dari eksplorasi pemikiran pemikiran eropa, mari kita meninjau persoalan dari dua sisi, dalam melihat ketertidasan dan ketidak adilan sosial yaitu dari sisi psikologis manusia dan sosial masyarakat yang ter menindas dan yang ditindas. Dari Ideologi Sartrean melihat ketertindasan itu dari sisi Psikologis dari berbagai persoalan itu Ali menganggap persoalan materialisme yang mengungkung masyarakat dibutuhkan spiritulistis atau mistisisme keagamaan untuk mendobrak pemikiran materialistis itu, tingginya desakan desakan komsumerisme hendaknya menerima ajakan keruhanian untuk memberontak melawan rasionalisme itu[6]. Dari sudut pandang  social adalah paham Marxisme, Dari explorasi pemkiran marxisme, Ali melahirkn pemikiran Humanity between Marxisme and Religion, Ali dalam mengesplorasi pemikiran Marxisme cukup unik  meskipun dia juga menolak marxisme, Dia bahkan menulis Marxisme dan sesat piker Barat lainnya.

Namun tidak dipungkiri lagi pada suatu sisi Ali Syariati berada dalam tradisi Marxisme, Ali banyak menggunakan paradigm Marx dalam menjelaskan perkembangan masyarakat, perlawanan dan kritik terhadap kemapanan politik dan agama. Menurut Ali orang tidak akan mampu mengerti sejarah dan masyarakat tanpa pengetahuan tentang Marxisme ia membantah anggapan orang bahwa Marx adalah kaum materialism yang tidak percaya dengan persoalan Ide dan Spirit, Ali percaya bahwa Marx bahkan lebih tidak materialistic dibandingkan mereka yang mengklaim diri mereka Idealis atau mereka yang menganggap diri mereka beriman dan religious. Oleh karena itu seperti yang terlihat dalam banyak karyanya bisa dipahami bahwa dia sangat terpengaruh oleh marxisme terutama dalam pandangannya tentang sejarah sebagai proses dialektik dan tentang massa tertindas dalam hubungannya kemapanan politik dan agama[7]

Ali melihat agama kental dengan status quo Islam syarat dengan praktek praktek feodalisme, bahkan para ulama itu sendirilah yang menyokong kemapanan yang kuat itu. Mereka hanya kelompok yang berkutat pada syariat dan sama sekali menjauhkan diri dari prsoalan persoalan yang ada di masyarakat, ketertindasan, penghisapan kaum modal, kesenjangan social dll, ditangan para kaum agamawan  islam tidak meyelesaikan persoalan kemasyaratan dan umat. Islam yang dijadikan agama Negara justru menjadi sumber penghisapan atas rakyatnya, ulama berusaha mengambsahkan eksloitasi, yang menurut Ali itu lebih eksploitatif dibandingkan Kapitalisme Amerikapara pimpinan Negara dan ulama menggambarkan kemewahan, kekayaan.Mereka justru menjadi kelompok kelas yang berharta. Sangat sedikit mereka yang berteriak dimimbar untuk mengkhentikan berbagai penindasan yang ada, mereka bahkan lupa persoalan yang mendasar yang sederhana adalah masyarakat kaya yang tidak membatasi komsumsinya juga masyarakat miskin yang tidak menghentikan komsumerismenya. Tauhid seharusnya meninggalkan benda benda material dan kembali padaspiritualisme.

 

 

[1] Ali Rahnema, Ali Syariati-Biorafi Politik,Erlangga; Jakarta, 2002 hlm 51

 

[2] Organisasi ini didirikan Oleh Muhammad Taqi Syariati pada tahun 1944 untuk menyeberkan Islam yang diyakininya Islam Progresif  Ibid Hlm 204

[3] Ibid Rahnema hlm 55

[4]http://idr.iain-antasari.ac.id/864/2/BAB%20IV.pdf  hlm 50

[5]Ali Syari’ati, Makna Haji , Al-Huda; Jakarta, 2002

[6] Ali Syariati, Membangun Masa Depan Islam ( Bandung: Mizan, 1989) hlm 34

[7] Eko Supriadi, Sosialisme Islam:Pemikiran Ali Syariati (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2003) hlm 232

 

*Ditulis oleh Balapikir Taufan

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here