Sikap kritis mahasiswa atas setiap kebijakan pemerintah terhadap rakyatnya merupakan salah satu peran yang harus dimiliki mahasiswa. Peran tersebut biasa kita sebut dengan the agent of control, dimana mahasiswa disebut-sebut sebagai pengawas atas segala kebijakan yang digulirkan pemerintah untuk rakyatnya. Mengapa mahasiswa disebut demikian?

Pertama, menurut KBBI mahasiswa adalah orang yang belajar di perguruan tinggi. Kata tinggi menunjukkan puncak dalam tahap pendidikan. Artinya mahasiswa adalah mereka yang memiliki tingkat intelektual yang lebih baik dibanding tingkatan pelajar lainnya. Hal ini menjadikan mereka pemuda yang tepat untuk menyandang predikat the agent of control. Karena tidak setiap kebijakan pemerintah selalu bijak, maka dibutuhkan tingkat kekritisan dan analisis yang tinggi serta mendalam dari para mahasiswa agar sesuai dengan yang diharapkan.

Kedua,  the agent of control harus disandang oleh orang-orang yang tidak memiliki kepentingan pribadi atau kelompok tertentu. Mahasiswa adalah orang-orang yang belum memiliki kepentingan politis apapun terhadap setiap kebijakan pemerintah. Apa yang dalam pandangan mereka adalah suatu bentuk kemungkaran dan ketidakadilan, maka disitulah mahasiswa harus melakukan perannya sebagai the agent of control. Maka sangat diharapkan bahwa setiap ide dan gagasan yang keluar dari pikiran mereka merupakan ide yang benar-benar menjawab problema masyarakat. Inilah yang biasa disebut sebagai idealisme. Idealisme adalah satu-satunya harta yang perlu diperjuangkan para mahasiswa agar tak kehilangan identitasnya, begitu ungkapan Tan Malaka.

Ketiga, mahasiswa adalah anak-anak muda yang masih memiliki semangat dan kekuatan besar. Kekuatan seperti inilah yang biasanya ditakuti oleh kebanyakan pejabat pemerintah. Karena hal ini memungkinkan mereka untuk bertindak lebih berani dalam setiap aksinya. Seringkali pemerintah yang bebal terhadap setiap kritik dan saran akan berhadapan dengan mahasiswa yang berjiwa muda ini. Karena kata salah seorang balapikir KSMW bernama Sabiq, bahwa ketika kata tak lagi bermakna, maka aksi adalah solusi.

Peran sebagai the agent of control juga tidak hanya ditujukan kepada pemerintah pejabat negara, akan tetapi kepada setiap penguasa yang telah lalai atau tidak menjalankan kewajibannya dengan benar, termasuk pejabat birokrat kampus. Menilai apakah mahasiswa itu apatis atau tidak bagi penulis dapat dilihat dari sifat kepekaannya dalam menanggapi masalah maupun isu disekitarnya. Seperti contoh kasus kenaikan biaya UKT di perguruan tinggi negeri. Mahasiswa yang menyadari perannya sebagai the agent of control tentu tidak akan tinggal diam. Apalagi kasus tersebut tidak hanya terjadi di wilayah kampusnya saja, melainkan juga hampir di perguruan tinggi negeri di Indonesia. Mahasiswa yang memiliki kepedulian tinggi terhadap nasib rakyat yang tak berpunya namun ingin memasuki perguruan tinggi, akan menelusuri dan mencari tahu sebab mengapa UKT bisa melonjak tinggi dibanding tahun sebelumnya. Dan jika ia menemui kejanggalan disana, maka jangan harap birokrat akan selamat di tangan para mahasiswa ini.

Sayangnya, tak semua mahasiswa menyadari akan peran pentingnya ini. Masih banyak mahasiswa yang hanya mementingkan diri sendiri dan fokus meninggikan nilai ipk. Meskipun mahasiswa adalah mereka yang belajar di perguruan tinggi, tetaplah tak bijak jika mereka apatis, acuh tak acuh, serta tidak mau tahu terhadap setiap perubahan yang terjadi di sekitarnya. Karena pada akhirnya, mereka juga akan terjun dalam kehidupan bermasyarakat. Anak-anak berjiwa muda dan berintelektual inilah yang nantinya akan memegang kendali masa depan bangsa ini. sehingga sudah sepatutnya mulai dari sekarang untuk memupuk daya kritis dalam menilai dan mengontrol setiap kebijakan penguasa. Hal ini sangat dibutuhkan agar kemudian mampu menentukan sikap, akan mendukung dan membantu penerapannya, ataukah justru menolak dengan berbagai argumen ilmiah melalui daya kritis dan idealismenya.

Hidup Mahasiswa!