Sejak dulu perempuan senantiasa diidentikkan dengan pekerjaan domestik ibu rumah tangga. Sebuah istilah menyebutkan bahwa wilayah perempuan hanya seputar dapur, sumur, dan kasur. Kontruksi demikian memang diciptakan oleh masyarakat sebagai bentuk pembagian peran antara laki-laki dan perempuan. Hal itulah yang disoroti penuh oleh para pejuang kesetaraan gender hingga akhirnya dapat mendobrak stigma lama itu . Maka kini perempuan tak perlu takut untuk memilih wilayah kerja mereka, karena itu adalah hak mereka. Namun,benarkah perempuan telah mencapai kemerdekaannya?

Paham kesetaraan gender mendukung setiap upaya perempuan untuk turut berpartisipasi memanfaatkan berbagai bidang pekerjaan atau passion yang mereka minati. Kesetaraan baru dapat dikatakan tercapai apabila perempuan tidak lagi mendapat kesulitan ketika ingin mengoptimalkan kemampuannya. Kesetaraan gender sesungguhnya tidak hanya bicara mengenai perempuan, namun juga laki-laki. Dikarenakan sejarah manusia mencatat bahwa perempuanlah yang selama ini selalu mendapat perlakuan diskriminasi, subordinasi, dan termarjinalkan maka pergerakan kesetaraan gender cenderung digelorakan oleh kaum perempuan.

Dari situ dapat dipahami apabila saat ini perempuan mulai banyak menempati wilayah-wilayah strategis di pemerintahan. Banyak pula yang dapat mengenyam pendidikan tinggi, serta melakukan pekerjaan apapun untuk dapat memenuhi kebutuhan hidupnya. Namun sudah cukupkah perempuan dengan terbukanya akses pendidikan dan pekerjaan? Ataukah justru ketika kesempatan ini dibuka perempuan hanya akan menjadi korban kapitalisme?

Menyoal Double Burden

Setelah didobraknya doktrinasi tentang pembagian peran menurut kelamin,dan diraihnya berbagai akses wilayah kerja, kini perempuan kembali dihadapkan pada satu masalah yang cukup penting berkenaan dengan wacana gender, yakni pemanfaatan paham oleh para kaum kapitalis. Alih-alih mendukung gerakan kesetaraan gender, para kapitalis ini justru menjadikan perempuan sebagai objek yang mampu mereka gunakan sebagai alat yang menjalankan roda usaha perindustrian mereka. Kini, hampir di setiap daerah di Indonesia terutama di kota-kota besar dimana terdapat kawasan industri , dapat dipastikan mempekerjakan mayoritas kaum wanita.

Mengapa demikian? Industri lebih suka mempekerjakan perempuan daripada laki-laki dengan alasan, perempuan lebih mudah diatur, cukup terima jika hanya kerja kontrak, dan tidak banyak melawan apabila ada peraturan yang tidak sesuai. Mereka menganggap perempuan adalah kaum lemah yang mudah diatur dibanding laki-laki. Disisi lain, kehadiran industri juga mendapat sambutan hangat di tengah masyarakat. Tentu saja selain dengan iming-iming mengurangi pengangguran, juga penghasilan yang cukup untuk kebutuhan hidup.

Bagi para pejuang kesetaraan gender, tentu ini menjadi hal yang cukup merisaukan. Bukan hanya karena perjuangannya ternodai oleh pemanfaatan isu demi kepentingan kaum kapitalis, namun juga menjadikan perempuan yg menjadi sasaran pelaku industri menjadi tergagap dalam menanggapi hal tersebut. Masalah yang timbul kemudian terjadi Double burden bagi perempuan yang telah berumah tangga. Hal ini dikarenakan paham kesetaraan belum menyentuh sampai masyarakat arus bawah. Kehadiran industri yang menyerap tenaga kerja wanita tidak pula diimbangi dengan pembagian peran yang sesuai di dalam keluarga. Akibatnya perempuan semakin tersudut dalam beban ganda, sebagai pekerja sekaligus ibu rumah tangga.

Pentingnya Kesadaran Gender

Kehadiran industri di tengah masyarakat yang telah banyak merubah tatanan masyarakat merupakan sebuah keniscayaan. Sebab, orientasi negara kita mengarah pada pertumbuhan ekonomi, maka kapitalisme mau tidak mau mesti bercokol di tanah air kita. Investasi demi kenaikan pemasukan negarapun menjadi dalih agar perusahaan swasta asing dapat menikmati-menguasai aset sumber daya yang kita miliki, baik itu SDA maupun SDM. Masyarakat dibuat tak berdaya melawannya. Maka menerima adalah pilihan satu-satunya bagi masyarakat yang telah banyak direnggut hak-haknya.

Penerimaan itu terlihat jelas dari begitu banyaknya masyarakat kita terlebih para perempuannya yang turut mengikuti arus industri tersebut. Jika yang terjadi adalah munculnya masalah peran ganda bagi perempuan berumah tangga, maka kesadaran mengenai konsep kesetaraan gender bagi para perempuan dan masyarakat umumnya menjadi penting. Ini merupakan upaya yang mesti dilakukan agar perempuan dapat lepas dari beban ganda tersebut.

Paham kesetaraan gender hendaknya tidak hanya ditujukan pada kaum perempuan semata, namun juga pada kaum laki-laki. Supaya praktik dalam memperlakukan perempuan dengan adil dapat benar-benar teraplikasikan tanpa hambatan. Jika paham ini juga telah ada dalam diri laki-laki maka perempuan yang dalam tanda kutip menjadi korban industri atau kapitalisme sebagaimana penulis sebutkan tidak akan semakin terjajah. Lantaran peran mengurusi bidang domestik rumah tangga tidak sepenuhnya menjadi tanggungjawabnya saja, melainkan juga tanggungjawab suami atau anggota keluarga lainnya. Inilah yang dinamakan pembagian peran yang adil menurut gender.

Penulis: Umi Ma’rufah (Rektor UKMU KSMW UIN Walisongo 2017)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here