IDENTITAS BUKU

Judul Buku                  : Pengantar Filsafat Politik Kontemporer Kajian Khusus

atas Teori-Teori Keadilan

Judul Asli                    : Contemporary Political Philosophy: an Introduction

                                      Oxford University Press Inc., New York, 1990

Penulis                         : Will Kymlicka

Penerjemah                  : Agus Wahyudi, M.Hum (Dosen Filsafat UGM)

Waktu Cetakan           : Cetakan II, November 2011

Penerbit                       : Pustaka Pelajar, Yogyakarta

Tebal Buku                  : 420 halaman

Resentator                   : Nur Zaenab

ULASAN BUKU

Agus Wahyudi adalah penerjemah buku Contemporary Political Philosophy: an Introduction Oxford University Press Inc., New York, 1990 yang ditulis oleh Will Kymlicka pada bulan Juli 2004 yang kemudian judulnya berubah menjadi Pengantar Filsafat Politik Kontemporer Kajian Khusus Teori-Teori sebagai cetakan kedua pada bulan November 2011. Buku ini dimaksudkan untuk memberikan sebuah pengantar dan penilaian kritis tentang aliran-aliran utama pemikiran yang telah mendominasi perdebatan kontemporer dalam filsafat politik. Will Kymlicka percaya bahwa terdapat banyak sekali karya yang sangat penting dan menarik yang tengah dikerjakan dalam bidang ini.

Singkat cerita, cakrawala intelektual dalam filsafat politik hari ini berbeda jauh dari sepuluh bahkan duapuluh tahun yang lalu. Salah satu hasil dari perkembangan ini adalah kategorisasi tradisional yang didiskusikan dan dievaluasi teori-teori politik itu semakin tidak memadai. Menurut gambaran tradisional ini, orang di kiri percaya pada persamaan (equality) sehingga mendukung bentuk sosialisme. Sementara, mereka yang di kanan percaya pada kebebasan (freedom) sehingga mendukung bentuk kapitalisme-pasar bebas (free-market capitalism). Di tengah adalah kaum liberal yang percaya pada campuran kabur antara persamaan dan kebebasan sehingga mendukung bentuk kapitalisme negara kesejahteraan (welfare capitalism). Tentu saja, terdapat banyak posisi lain diantara ketiga titik ini, dan banyak orang menerima bagian yang berbeda dari teori yang berbeda. Namun, seringkali dianggap bahwa cara terbaik memahami dan mendeskripsikan prinsip-prinsip politik seseorang adalah dengan mencoba meletakkannya di suatu tempat pada garis itu.

Gambaran tradisional menyatakan bahwa teori-teori yang berbeda memiliki nilai-nilai yang berbeda secara mendasar. Mereka tidak sepakat dengan nilai-nilai yang mendasar, perbedaan diantara mereka tidak dapat diselesaikan secara rasional. Tidak mungkin menganjurkan persamaan lebih dari kebebasan atau kebebasan lebih dari persamaan karena ini merupakan nilai-nilai yang mendasar, tanpa ada nilai atau premis yang lebih tinggi oleh kedua sisi dapat dipertimbangkan bersama. Semakin dalam kita mencermati perdebatan politik ini, semakin terasa sulit perdebatan ini dipecahkan, karena kita tidak diwarisi apa pun kecuali seruan pada nilai-nilai utama yang saling bertentangan dan pada akhirnya saling melawan.

Ciri gambaran tradisional ini sebagian besar tetap tidak dipermasalahkan, bahkan oleh kontemporer yang menolak klasifikasi tradisional antara kiri dan kanan. Setiap teori baru juga dianggap menyerukan pada nilai utama yang berbeda. Maka, dikatakan kepada kita bahwa sepanjang seruan yang lebih tua pada ‘persamaan’ (sosialisme) dan ‘kebebasan’ (libertarianisme), teori-teori politik sekarang menyerukan pada nilai-nilai utama ‘kesepakatan kontrak’ (Rawls), ‘kebaikan umum’ (Komunitarianisme), ‘kemanfaatan’ (Utilitarianisme), ‘hak’ (Dworkin), atau ‘androgini’ (Feminisme). Namun, ledakan nilai-nilai utama yang potensial ini menimbulkan masalah yang jelas untuk keseluruhan proyek pengembangan teori keadilan tunggal yang komprehensif. Tentu saja, satu-satunya tanggapan yang bijaksana berkenaan dengan pluralitas nilai-nilai utama yang diusulkan ini adalah tidak lagi berpikir mengembangkan teori keadilan yang ‘monistik’. Menempatkan lebih rendah semua nilai-nilai lain pada sebuah nilai tunggal yang lebih penting nampak berlebihan.

Filsafat politik, menurut pandangan banyak komentator, tenggelam dalam keberhasilannya sendiri. Terdapat ledakan minat yang luar biasa terhadap tujuan tradisional menemukan salah satu teori keadilan yang benar, namun hasil ledakan minat ini telah menjadikan tujuan tradisional itu sama sekali tidak masuk akal. Apakah ini merupakan sebuah gambaran yang tepat tentang lanskap politik? Apakah teori-teori kontemporer ini menyerukan pada nilai-nilai utama yang saling bertentangan? Agus Wahyudi sendiri ingin mencermati buku ini karena beliau percaya bahwa segala pernyataan dalam teori-teori keadilan sama pentingnya dengan semua teori khusus yang dicoba untuk diinterpretasikan. Salah satu keuntungannya adalah, pernyataan ini menyebabkan pencarian sebuah teori keadilan tunggal yang komprehensif nampak lebih dapat dipahami.

 

KEUNGGULAN ISI BUKU

Dilihat dari cover buku ini sangat menarik yaitu seseorang yang gagah berwarna-warni membawa tombak untuk memecahkan dunia, dunia tersebut diilustrasikan dengan gambar setengah lingkaran berwana kecoklatan. Buku ini berisi pengantar dan penilaian kritis tentang aliran-aliran utama pemikiran yang mendominasi perdebatan kontemporer dalam filsafat politik. Dari penulis tersendiri sangat cermat dalam memberi pernyataan semua teori khusus yang dicoba untuk diinterpretasikan, dengan memusatkan perhatian pada teori-teori yang telah menarik kesetiaan tertentu dan yang menawarkan visi yang kurang lebih konprehensif mengenai cita-cita politik: Utilitarianisme, Persamaan Liberal, Libertarianisme, Marxisme, Komunitarianisme dan Feminisme. Bahan yang dicakup dalam buku ini hampir seluruhnya terdiri dari karya-karya terkini dalam filsafat politik normatif dan teori-teori terkini tentang masyarakat yang baik, bebas, dan adil. Penjelasan setiap kalimat-kalimatnya pun sangat komprehensif menggunakan problematika atau kejadian disekitar dipadukan pemikiran berfilsafat yang sangat indah, tanpa mengurangi maksud teori-teori keadilan dalam pengantar filsafat politik kontemporer.

 

KELEMAHAN ISI BUKU

Namun, buku ini terdapat beberapa kata konotasi atau istilah yang sulit dipahami oleh orang awam, bahkan sebagian besar mahasiswa baru jurusan Filsafat di universitas maupun perkuliahan mana pun merasa kesulitan apabila belajar secara mandiri tanpa dijelaskan oleh dosen terlebih dahulu. Dalam buku ini tidak membahas persoalan-persoalan lain yang dulu pernah dianggap penting dalam filsafat politik, seperti analisis konsep kekuasaan, kedaulatan negara, hakikat hukum, dan tokoh-tokoh sejarah. Mungkin karena penulis buku ini adalah orang hebat pastinya, serta penerjemahnya pun sebagai Dosen Filsafat Universitas Gajah Mada Yogyakarta yang sangat memahami bagaimana filsafat politik kontemporer pada masanya. Dari desain setiap halaman hanya berwarna putih dengan tulisan ketikan yang penuh barisan paragrafnya membuat pembaca sedikit jenuh.

 

KESIMPULAN

Setiap karya pasti memiliki kelebihan dan kekurangan. Berbagai kelebihan yang diprioritaskan dalam buku ini tak terhindarkan dari kekurangan yang didapat. Dari ulasan buku sangat menarik untuk didiskusikan lebih mendalam bahkan didampingi oleh orang-orang yang memang pakar dalam filsafat politik. Dengan sedikit gambar ukiran di sudut halaman membuat tampilan kertas setiap halaman lebih indah dan tentu saja lebih semangat dalam membaca dan mempelajari buku ini.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here