MATI DEMI HARGA DIRI ATAU HIDUP DALAM PENGHINAAN

Judul                           : Hadji Murat

Penulis                         : Leo Tolstoy

Penerbit                       : Narasi, Yogyakarta

Jumlah halaman           : 242 halaman

Tahun terbit                 :2015

Terjemahan dari          : Hadji Murat, Hesperus Press London 2003

Resensator                   : Umi Ma’rufah

 “Sungguh hebat tenaganya dan kekuatan hidupnya, betapa kerasnya ia bertahan, dan betapa mahalnya ia menghargai hidupnya”.

Demikianlah ungkapan Leo Tolstoy untuk bunga Tatar yang ia temui di sebuah ladang pertanian milik saudaranya Sergei. Karakter bunga Tatar yang tetap berusaha tegak setelah dilindas roda itulah yang kemudian mengantarkan Leo untuk menceritakan sebuah kisah tentang seseorang yang sama tangguhnya dengan bunga Tatar itu. Sosok itu adalah Hadji Murat yang kemudian menjadi judul dalam buku bergenre novel biografi ini.

Diceritakan bahwa Hadji Murat adalah salah satu dari gubernur-gubernurnya Shamil (seorang imam di Pegunungan Kaukasus). Ia terkenal karena perbuatan-perbuatannya yang tidak pernah berkuda tanpa mengibarkan panji-panjinya dan diiringi oleh selusin pengikutnya, semuanya memamerkan keahlian menunggang kuda disekelilingnya (hlm. 7). Riwayat Hadji Murat dalam novel ini dimulai dengan kisah pelariannya dari Pegunungan Kaukasus menuju daerah Rusia.

Pelarian Hadji Murat dilatarbelakangi oleh perseteruannya dengan Shamil. Shamil di mata Hadji Murat tak jauh berbeda dengan Gamzat, penguasa sebelumnya yang telah membunuh keluarga Khan secara keji. Setelah berhasil membunuh Gamzat, Jenderal Rozen member Hadji Murat pangkat perwira dan memintanya menjadi penguasa Avaria. Namun sebelum itu, Avaria diserahkan pada Akhmet Khan. Akhmet Khan yang membenci hadji Murat memfitnah Hadji Murat kepada Jenderal Klugenau bahwa ia memerintahkan orang-orang Avar untuk tidak memberikan kayu bakar kepada para serdadu, dan telah menyebrang ke pihak Shamil karena serban yang ia pakai. Singkat cerita, tanpa sepengetahuan Jenderal, Hadji Murat dirantai dan diikat oleh Akhmet Khan selama enam hari dan dibawa ke pengasingan. Dalam perjalanan itulah dia mencoba lari dengan menerjunkan diri ke sebuah jurang dan diselamatkan oleh penggembala yang kemudian merawat hadji Murat hingga sembuh.

Jenderal klugenau meminta ia kembali lagi namun ia menolak karena tidak mau bertemu dengan orang yang telah menghinanya. Lalu datang seorang utusan Shamil yang berjanji akan membunuh Akhmet khan dan menjadikannya penguasa Avaria. Ia menerima tawaran itu, sejak itulah ia melakukan banyak pertempuran melawan pihak Rusia dan selalu berakhir dengan sukses. Kekuatan dan keberanian Hadji Murat inilah yang kemudian ditakuti oleh Shamil akan mengusik kedudukannya sebagai penguasa. Karena itulah Shamil berusaha menyingkirkannya. Ia dicopot dari jabatannya dan diperintahkan untuk mengirim semua uangnya kepada Shamil. Shamil juga menuntut Hadji Murat agar menyerahkan diri, namun Hadji Murat tidak mau karena tahu pasti ia akan dibunuh. Sejak saat itulah Hadji Murat pergi dan menyerah kepada Vorontsov (Panglima Rusia).

Sayang sekali dalam pelariannya itu dia tidak membawa serta keluarganya. Ibu, istri, dan anak-anaknya kemudian ditawan oleh Shamil agar Hadji Murat mau menyerah kepadanya. Kebebasan keluarganyalah yang kemudian menjadi alasan Hadji Murat memohon pertolongan kepada pihak Rusia dengan jaminan pengabdian kepada Tsar. Bersama keempat pengikutnya, Eldar, Gamzalo, Khanefi, dan Khan Magoma ia menjalani kehidupan di Rusia. Selama ia berada di Rusia, ia bertemu banyak pihak yang kemudian menjadi teman baiknya. Tetapi ternyata tak banyak yang bisa ia harapkan dari pihak Rusia. Pertolongan yang ia harapkan untuk menebus keluarganya tak kunjung ia dapatkan. Para pengikutnya yang masih berada di wilayah yang dekat dengan tempat penahanan keluarganyapun pada akhirnya tidak dapat membantu karena takut dengan ancaman hukuman mati dari Shamil. “Jawabannya ada pada Tuhan”, begitulah ucapan Hadji Murat ketika ditanya tentang apa jawaban kepada para pengikutnya itu.

Sebelum dikisahkan bagaimana akhir perjuangan Hadji Murat, buku ini cukup mengejutkan pembaca dengan terlebih dahulu mengisahkan bahwa hadji Murat telah dipenggal kepalanya dan diperlihatkan kepada seluruh penduduk yang dijumpai. Baru setelah Butler seorang perwira Rusia yang sempat bersahabat dengan Hadji Murat menanyakan perihal kematian Hadji Murat, mulailah dikisahkan tentang usaha Hadji Murat untuk pergi menyerang Shamil dan menjemput keluarganya. Namun tak sampai ia dapat bertemu Shamil ia telah berhadapan dengan pasukan Rusia yang dibantu Hadji Aga dan pasukannya dari Mekhtula. Pertempuran sengitpun berlangsung cukup lama. Hadji Murat terkena peluru namun tetap menyerang menggunakan belatinya. Ia sempat goyah dan terjatuh, namun berusaha bangkit lagi menggapai pohon disekitarnya lalu tertatih dan terjatuh sampai tak mampu bergerak. Kematian Hadji Murat dipastikan setelah Hadji Aga menebas kepalanya lalu menggelindingkannya. Itulah kematian yang Leo umpamakan seperti Bunga Tatar di ladang itu.

Dengan mengambil sudut pandang orang ketiga serba tahu, Leo dengan jelas menceritakan setiap bagian dari kisah Hadji Murat ini. Penggambaran yang sangat detil dari setiap orang yang menjadi tokoh dalam kisah ini memungkinkan pembaca mengimajinasikan secara lebih baik tokoh beserta sifat-sifatnya. Ini memberikan kesan hidup pada cerita yang disajikan sehingga pembaca seolah ikut merasakan atmosfer cerita. Namun imajinasi yang dibangun oleh pembaca barangkali tak akan mudah karena latar belakang budaya yang berbeda dengan Rusia. Ada banyak istilah yang mungkin belum pernah ditemui, seperti jubah Circassia, topi beludru, cossak, dan lain sebagainya. Terlebih dengan latar belakang waktu pertengahan abad 19 dengan suasana peperangan, pembaca tentu akan membayangkan suasana yang jauh berbeda dengan zamannya. Namun itulah yang membuat pembaca seperti merasakan pengalaman baru dengan berimajinasi sebebas-bebasnya.

Kehebatan Tolstoy dalam menyajikan kisah ini setara dengan usahanya selama delapan tahun melakukan penelitian demi mendapatkan kisah Hadji Murat yang otentik. Sebagai karya terakhir, kisah ini mampu menjadi pamungkas yang menunjukkan kepiawaiannya dalam memaparkan problem sosial, politik, dan tradisi masyarakat Rusia. Yang mana dalam kisah Hadji Murat ini terjadi pertemuan dua kutub yang sangat berbeda; pertempuran antara dua bangsa, suku-suku bangsa Kaukasus dan bangsa Rusia; dia agama, Islam dan Kristen Ortodoks; dan dua penguasa, Imam Shamil dan Kaisar Nicholas I.

Dengan gaya kepenulisan Tolstoy yang menyajikan novel ini dengan alur maju-mundur, kisah nyata Hadji Murat ini memberikan pelajaran yang sangat bernilai bagi pembaca. Melalui ketangguhan Hadji Murat dalam memperjuangkan hidupnya, dan yang sangat gigih membela orang-orang yang sangat disayanginya, ia mengajarkan kepada kita untuk tidak mau terjebak dalam penghambaan terhadap penguasa yang dzalim dan harus berjuang melawan kedzaliman itu. Ia juga merefleksikan bagaimana kita mesti menghargai hidup yang kita miliki sampai akhir hayat. Dan lebih memilih mati demi harga diri daripada harus hidup dalam penghinaan.

3 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here