Narasumber 1: Eko Prasetyo

Sejak abad -18, terutama setelah masa penjajahan tekanan Eropa sangatlah jelas. Ini mengakibatkan perpecahan serius yang mengakibatkan munculnya kaum sekuler, kaum liberal, kaum modernis, dll. Dalam pembahasan kali ini, yang menjadi konsen adalah mengenai kaum sekuler, yaitu mereka yang mengedepankan keduniawian tanpa mencampurinya dengan yang lain, termasuk di dalamnya keagamaan. Merambahnya kaum sekuler menjadikan Islam tak dapat menghindar dari pengaruh-pengaruh yang dihasilkan. Melalui kerjasama antar negara, media sosial, globalisasi faham sekuler lambat laun menyusupi pikiran umat Islam, Islam mengalami kekalahan yang serius. Inilah awal mula negara-negara mengalami sekulerisasi, sebagai contoh agama diletakkan dalam lembaga-lembaga, misalnya mentri agama.

Buku ini mencoba merespon terhadap krisis pasca kolonial. Pengetahuan menjadi sesuatu yang langka, agama lambat laun makin elitis dan tak bisa menjawab persoalan rakyat hingga mengakibatkan kaum miskin semakin tertindas. Ketika agama menjadi elitis, maka siapapun tak berani mengutak-atik apa-apa yang menjadi ketentuannya, dalam artian seseorang beragama hanya taqlid buta tanpa mempertanyakan apa yang diyakininya. Agama merasa paling benar dan yang lain salah. Agama Islam sangat populer, namun menjadi tidak populis akibat sekulerisasi ini. Agama kehilangan basis argumennya. Namun masalahnya, saat ini hampir semua penguasa tidak mau mempertanyakan, penguasa mengamini faham sekuler. Kemudian masyarakat mengalami kejumudan dan menjadi pengamin kedua faham sekuler, dari penguasa.

Aspek-aspek spiritual kini berubah menjadi aspek instrumental. Segalanya yang bersifat spiritual, kerohanian kini telah lepas dari substansinya. Semisal dzikir dalam Islam adalah keniscayaan untuk mengingat Tuhan, namun kini seseorang menjadikan dzikir untuk mengejar pahala. Contoh yang lain, hablumminallah ketika tidak dibarengi dengan hablumminannas dan hablumminal’alam adalah ketimpangan. Ketika seseorang taat beribadah, hidup berkecukupan melihat tetangganya kelaparan dan tidak memberi makan maka seseorang tersebut mereduksi aspek hablumminannas, aspek spiritual humanisnya. Agama menjadi panggung entertaiment, aspek spiritualitaspun tereduksi.

Agama harus berpihak, aspek spiritual mestinya memiliki keberpihakan, utamanya terhadap kaum miskin tertindas. Karena aspek spiritual adalah sesuatu yang nanti mewujud dalam apa yang akan kita lakukan. Namun agama kini lebih bersifat tidak rasional, semakin individualis, semakin elitis, dan netral. Agama kehilangan semangat kolektif, yang justru dari situlah nanti agama membentuk jamaah. Semua nabi ditemani oleh para sahabat, semua yang dikatakan Nabi dipercaya oleh mereka. Saat ini yang dibutuhkan adalah kembalinya semangat kolektif yang membentuk jamaah agar cita-cita melawan ketertindasan kaum miskin dapat terwujud.

Buku ini, mencoba mengajak kita untuk hidup seperti kisah-kisah dalam buku tersebut. Semua Nabi adalah aktivis, dalam artian membebaskan. Al-Qur’an turun dalam kesedihan, yaitu ketika Nabi Muhammad ditinggal oleh orang-orang yang disayanginya yaitu, Ayahnya, Ibunya, Kakeknya dan Pamannya. Saat itu pula perbudakan menjadi hal yang lumrah. Perbudakan berarti tidak memanusiakan manusia lain. Kecewa atas situasi itulah yang membuat mental umat bersatu. Nabi betanya, “Apakah kamu kecewa terhadap situasi?”. Ini adalah strategi. Nabi tidak individual, dia mempengaruhi. Mempengaruhi adalah tugas penting, untuk menggerakkan massa, utamanya massa yang tertindas.

Nabi itu adalah kita, Nabi adalah kamu yang memiliki jiwa muda, jiwa pembebas, jiwa pemberontak. Semua Nabi memiliki mukjizat, mukjizat hadir ketika kamu mengambil resiko yang paling tinggi dalam hidupmu.

Narasumber 2: Siti Rofiah

Ditengah era yang semakin gila ini, buku Pak Eko ini merupakan referensi yang pas untuk menjadi pegangan. Buku ini memandang suatu hal dalam perspektif berbeda, yaitu perspektif pembebasan. Saat ini fenomena memandang Al-Qur’an lebih pada sisi formalis, hitam-putih. Ketika Nabi adalah sebagai seorang pembebas kaum mustadlafin, kaum tertindas maka kebanyakan kaumnya adalah dari kalangan kaum budak, kaum miskin. Bagi Nabi, pemerataan ekonomi harus dilakukan, sehingga tidak terkumpul hanya sebatas pada kaum kapital-borjuis.

Sayangnya, dalam memandang Al-Quran kini hanya seperti sebagai kitab hukum. Padahal, di dalam al-Quran terdapat banyak kandungan. Cara pandang Al-Qur’an harus dipandang progresif, sesuai dengan spiritualitas zaman yaitu spiritualitas pembebasan dengan berlandaskan ketauhidan.

Gus Mus pernah mengatakan, orang sering tertukar mana ghoyah mana washilah. Sehingga yang terjadi kini adalah orang menuhankan Agama, bukan Tuhan itu sendiri.

Orang banyak mengukur seseorang dari ibadah mahdhohnya saja, dalam artian ketika seseorang rajin ibadah maka orang tersebut baik, namun makna ini tereduksi, sesungguhnya ibadah mahdhoh juga meliputi aspek sosial. Pengaburan makna ini menjadikan acuan untuk seseorang anti sosial, tidak peduli terhadap lingkungan sekitar dan kemudian menjadikannya sulit bersama-sama untuk membentuk jamaah melawan ketertindasan.

Keistimewaan buku ini terletak pada keberpihakannya terhadap kaum miskin. Semangat pembebas, semangat pemberontak Nabi dihadirkan untuk menyuntik semangat jiwa para kaum muda untuk membebaskan ketertindasan kaum miskin.

Kritik terhadap buku: Keika buku berbicara mengenai tafsir, maka ada yang kurang adalah ketika penulis tidak menyebutkan suatu teori atau metodologi penafsiran yang jelas. Semisal tentang teori hermeneutik, atau yang lain.

Sesi Diskusi Interaktif

Penanya 1: Bagaimana epistemologi atau batasan dalam tafsir progresif? Apakah sudah ada metode yang jelas mengenai tafsir ini?

Buku tafsir selalu lekat dengan sisi subjek. Dalam penafsiran tidak pernah lepas dari subjektifitas penulis. Subyek berkaitan dengan realitas, sehingga ketika subjektifitas dipertanyakan jawabannya adalah dalam segala yang berbentuk penafsiran selalu adalah hasil dari sisi subjektifitas penulis. Dalam hal ini wahyu berperan untuk mengokohkan sisi subjektifitas dalam penafsiran.

Penanya 2: Bagaimana menjadi aktivis?

Seperti pola dakwah Nabi yaitu mempengaruhi yang dekat, bagaimana kita mengajak mereka untuk menjadi aktor pembebas utamanya pembebas kaum tertindas. Sehingga nantinya dapat membentuk jamaah untuk memudahkan terwujudnya hal tersebut.

Penanya 3: Bagaimana pola dakwah tradisionalis, sebatas mendidik masyarakat sesuai formalitas?

Pola dakwah yang sebelumnya teosentris harus diturunkan untuk mencakup antroposentris. Karena keberimanan hanya kepada Tuhan pun belum bisa dikatakan sempurna tanpa berbuat baik dan pedul terhadap sesama, utamanya kepada yang tertindas.

Noted By: Balapikir Siti Barokhatin N.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here