Banyak yang mengatakan bahwa era jokowi adalah eranya pembangunan. Hal itu lantaran Jokowi berlatar belakang seorang pengusaha dan berjiwa pedagang. Ada pula yang berpendapat bahwa era pembangunan ini tak lepas dari pengaruh para neolib yang banyak menguasai kendali pemerintahan. Pembangunan dilakukan untuk memperbesar keuntungan mereka di negara kita ini. Ya, apapun alasannya, pembangunan di segala lini sampai hari ini terus gencar dilakukan.

Sayangnya, seringkali pembangunan yang dilakukan justru tak berpihak pada kepentingan rakyat menengah kebawah. Contohnya seperti pembangunan pabrik semen di wilayah pegunungan Kendeng yang merugikan para petani dan masyarakat disana. Penggusuran warga Kebonharjo demi pembangunan rel kereta untuk mempercepat pengiriman barang. Reklamasi teluk pantai Jakarta yang menelantarkan ratusan nelayan, dan masih banyak lagi kasus serupa. Pembangunan-pembangunan yang dilakukan atas nama percepatan pertumbuhan ekonomi nyatanya semakin menyengsarakan rakyat kecil dan menghancurkan kehidupan mereka.

Gencarnya pembangunan yang dilakukan pemerintah tetapi justru menyengsarakan rakyat kecil juga melanda dunia pendidikan, khususnya dalam perguruan tinggi. Kini, demi mengejar prestise dan gengsi, perguruan tinggi ingin melakukan percepatan pembangunan. Imbas dari rencana itu adalah beban biaya kuliah yang ditanggung mahasiswa yang merangkak naik.

Besarnya biaya kuliah menjadi momok yang menakutkan bagi masyarakat kecil sehingga menghancurkan harapan mereka untuk melanjutkan pendidikannya di bangku kuliah. UKT yang datang bak malaikat seolah menjadi solusi agar biaya kuliah yang ditanggung sesuai dengan kemampuan ekonomi keluarga kini berubah menjadi setan yang menakutkan. Besaran biaya yang ditanggung mahasiswa tidak lagi berdasarkan kemampuan ekonomi melainkan kebutuhan pembangunan. Sehingga banyak mahasiswa yang berasal dari kelas petani dan buruh keberatan dengan beban UKT yang diterimanya dan akhirnya mengundurkan diri.

Motivasi utama pertumbuhan bukanlah untuk memuaskan kebutuhan material masyarakat luas, melainkan untuk memenuhi hasrat berkuasa di kalangan elit (Cairn, 2002 dalam buletin dialektika 2016, 17). Maka pertumbuhan ekonomi maupun pembangunan yang dilakukan sesungguhnya tidak pernah berpihak pada kesejahteraan masyarakat kecil. Jika pendidikan kita saja tak lagi berpihak pada masyarakat kecil, maka bagaimana mereka mampu merubah nasib keluarga mereka? Lebih luas lagi merubah nasib masyarakat mereka? Pendidikan kita hanya akan diisi oleh mereka dari kalangan kaum borjuis. Gairah aktifisme yang memperjuangkan keadilan bagi masyarakat kelas bawah akan hilang seiring dengan hilangnya harapan kuliah bagi masyarakat miskin. Jika sudah demikian maka harus ada yang bergerak agar sistem buruk yang menggurita diantara masyarakat kita dapat segera lepas.

Mengandalkan Gerakan Mahasiswa

Kalau kemanusiaan tersinggung, semua orang yang berperasaan dan berpikir waras ikut tersinggung, kecuali orang gila dan orang yang berjiwa kriminal, biarpun dia sarjana. Jika kita mengamini apa yang dikatakan oleh Pramoedya Ananta Toer itu maka sudah saatnya mahasiswa bergerak membela saudaranya yang terpaksa gagal menjadi mahasiswa lantaran tercekik biaya UKT yang tinggi.

Banyaknya kasus demonstrasi yang menyatakan penolakan terhadap sistem UKT di berbagai perguruan tinggi mesti mendapat perhatian serius. Sudah saatnya mahasiswa bangkit dari keterpecahannya demi memperjuangkan kepentingan bersama. Entah dari organisasi dan dari perguruan tinggi manapun, harus mau melebur jadi satu dalam satu tujuan. Jika mahasiswa tak segera bergerak untuk menegur para pembuat kebijakan maka bersiaplah menghadiri upacara pemakaman idealisme mahasiswa.

Balapikir Umi Lanisti

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here